PETISI.CO
OPINI

Kontemplasi Sumpah Pemuda terhadap Karakter Milenial

Oleh: Najmah Rindu*

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Ir. Soekarno

Semangat pemuda turut dikobarkan oleh presiden pertama Indonesia, dibalut dengan tekad bahwa pemuda merupakan elemen esensial yang dibutuhkan demi kemajuan bangsa, guna merefleksikan intisari dari sumpah pemuda ini.

Sumpah pemuda tak lepas dari peran pemuda pemudi dalam mempersatukan keberagaman dan antusias membangun kemerdekaan bangsa Indonesia. Perbedaan suku, adat istiadat dan agama, bukanlah penghalang untuk dapat tercapainya satu cita-cita yang sama.

Seyogianya memang tak mudah untuk bisa memobilisasi masyarakat dan kaum pemuda yang berbeda latar belakang pada saat perumusan sumpah pemuda kala itu. Bukan hal yang mudah untuk mencapai kesepakatan dengan tetap memperhatikan setiap detail isi rumusan sumpah pemuda, agar menjadi cerminan ideal bagi masyarakat Indonesia, khususnya untuk kaum pemuda.

Baca Juga :  Problematika Pemilukada Serentak 2020: Antara Pandemi, Kontestasi dan Intervensi

Agent of Change, sebutan yang sepadan dengan eksistensi pemuda saat ini. Peran pemuda memang bisa berdampak signifikan terhadap perubahan negara. Mau dibawa ke arah mana bangsa Indonesia ini? Apa yang sanggup dilakukan untuk membenahi negeri ini?

Itulah yang selalu dipikirkan para agent of change sendiri. Kritis terhadap kebijakan yang memang dirasa tidak menawarkan hal yang positif, merupakan salah satu sikap yang perlu digaungkan di saat kritis seperti ini. Mengingat, negeri saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Baca Juga :  "Adem Ayem" Pilkada Serentak, Prakmatisme Vs Romantisme

Saya yakin, jika pemuda milenial saat ini berbeda jauh dengan pemuda zaman dahulu. Mampu secara cepat beradaptasi, kreatif, cerdas dan inovatif, merupakan salah satu kelebihan yang menonjol pemuda milenial.

Yang menjadi akar permasalahan kali ini ialah aspek moral dan karakter diri. Pendidikan moral dan karakter sebenarnya diajarkan pada tiap sekolah. Namun, pendidikan moral yang ada di sekolah saat ini seolah terkesan hanya menginformasikan teori-teori dan pengetahuan konsep moral kepada peserta didik, sehingga pendidikan moral yang ada saat ini belum mampu membuat perubahan perilaku pada peserta didik. Hal ini ditunjukkan semakin maraknya isu-isu moral yang negatif di kalangan generasi muda dewasa ini.

Baca Juga :  Abuse of Power di Lingkungan Istana

Maka dari itu, untuk membangun kontemplasi sumpah pemuda, kita sebagai pemuda Indonesia yang cerdas biasakan untuk menanamkan dan menggerakkan karakter dan moral yang baik dalam diri, agar bisa membawa dampak positif bagi masyarakat lainnya.

Bukan hanya mempelajari teori teori, tetapi mampu terjun langsung untuk melakukan sebuah praktis, guna menjadikan gebrakan nyata suatu perubahan.(#)

*)penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga

terkait

Mengapa Kepala Daerah Melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme?

redaksi

Karakter Pemuda Indonesia Menjawab Tantangan Zaman

redaksi

Fenomena, Tradisi dan Memaknai Pergantian Tahun

redaksi
Open

Close