Gresik, petisi.co – Di tengah semangat pemberdayaan ekonomi lokal, sebuah kisah inspiratif datang dari Desa Beton, Gresik. UD Tiga Putra, sebuah usaha kecil di RT 11 RW 04, Kecamatan Menganti, kini tengah bertransformasi menjadi model bisnis berkelanjutan berkat kolaborasi apik dengan Universitas Wijaya Putra.
Melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan yang inovatif, limbah styrofoam diubah menjadi peluang, dan impian usaha yang legal serta terkelola rapi bukan lagi sekadar angan.
Kegiatan ini merupakan perwujudan dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, yang didanai oleh Kemdikti Saintek DPPM tahun 2025. Tim pelaksana dari Universitas Wijaya Putra hadir untuk memberikan solusi komprehensif bagi pengembangan usaha kecil ini.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pelatihan penggunaan mesin Teknologi Tepat Guna (TTG) pengolah styrofoam. Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan cara mengolah limbah styrofoam agar tidak mencemari lingkungan sekaligus bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Setelah itu, peserta juga mendapat pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) agar lebih siap dan sigap menghadapi potensi bahaya kebakaran di tempat usaha.
Tidak hanya berhenti di situ, tim juga memberikan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk memperkuat legalitas usaha, sekaligus membukakan akses pada peluang kerja sama dan permodalan yang lebih luas. Peserta pun diajarkan pencatatan keuangan usaha kecil secara sederhana namun teratur, sehingga mereka bisa mengelola arus kas, menghitung keuntungan, dan merencanakan perkembangan usaha dengan lebih baik.
Dosen Universitas Wijaya Putra, Gatot Setyono, ST., MT., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian kampus terhadap masyarakat.
“Kami ingin pelaku usaha kecil di desa ini tidak hanya bisa mengolah limbah styrofoam, tapi juga lebih percaya diri karena usahanya legal, keuangannya tercatat rapi, dan lebih siap bersaing. Harapan kami, ilmu yang dibagikan ini bisa benar-benar dipraktikkan dan membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” jelasnya pada Rabu (17/9/2025)
Sementara itu, Dr. Rodhiyah, SE., MM., menekankan pentingnya pencatatan keuangan bagi usaha kecil. “Banyak usaha kecil yang sebenarnya punya potensi besar, tapi sering kesulitan berkembang karena tidak ada catatan keuangan yang jelas. Dengan pencatatan sederhana dan teratur, pelaku usaha bisa tahu kondisi keuangan mereka, mudah mengambil keputusan, dan bisa lebih dipercaya saat mengajukan kerja sama atau pinjaman modal,” ungkapnya.
Dosen lainnya, Miftahul Ulum, ST., MT., juga menyoroti aspek keselamatan kerja dan legalitas usaha. “APAR adalah bagian penting dari K3 yang sering diabaikan oleh pelaku usaha kecil. Padahal, dengan pemahaman yang benar, mereka bisa mencegah kerugian besar akibat kebakaran. Selain itu, pendampingan pembuatan NIB juga sangat penting agar usaha memiliki dasar hukum yang jelas dan diakui, sehingga bisa berkembang lebih luas,” tegasnya.
Dengan adanya dukungan dari Universitas Wijaya Putra melalui program pengabdian masyarakat ini, UD Tiga Putra Desa Beton diharapkan terus berkembang menjadi usaha kecil yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.
Sinergi antara dunia akademis, pelaku usaha, dan masyarakat seperti inilah yang menjadi kunci untuk membuka potensi ekonomi lokal. UD Tiga Putra Desa Beton, dengan dukungan penuh dari Universitas Wijaya Putra, kini siap menjadi inspirasi bagi usaha kecil lainnya untuk berinovasi, berkembang, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan serta masyarakat sekitar. (joe)







