Bondowoso, petisi.co – Relawan Kemanusiaan Makelar Akherat dari Kota Bondowoso membuka donasi peduli akan bencana banjir Sumatera, dengan melakukan penggalangan dana dan berhasil mengumpulkan partisipasi dana hampir Rp200 juta, yang akan dikirimkan langsung ke lokasi bencana.
Dr Yusdeny Lanasakti, Sp.PD., ketua Tim Relawan Makelar Akherat menyampaikan bahwa penggalangan dana dilakukan melalui dua metode ganda agar lebih mudah diakses warga, melalui rekening donasi yang dibuka secara khusus, serta kegiatan penggalangan langsung di beberapa titik lampu merah yang ada di wilayah Bondowoso.

“Alhamdulillah, kita Makelar Akherat dari Bondowoso memulai inisiasi penggalangan dana sejak lima hari yang lalu,” kata Yusdeny, saat dihubungi pada Selasa (9/12/2025).
Ia menegaskan mayoritas sumbangan yang terkumpul berasal dari warga Bondowoso sendiri, namun ada juga simpatisan luar daerah, termasuk dari Jember dan Situbondo yang juga turut mengirimkan bantuan dalam bentuk uang.
Hasil penggalangan dana bantuan akan dibawa langsung ke lokasi bencana oleh tim relawan Makelar Akherat yang berangkat dengan titik awal di Aceh Tamiang. Tim relawan yang berjumlah 9 orang terdiri dari tenaga medis, tim rescue, dan juga ahli dapur yang akan menangani kebutuhan pangan di lokasi.
Terkait skema penyaluran bantuan, Yusdeny yang akrab disapa dr. Denny menerangkan bahwa tim relawan membawa uang tunai dari Bondowoso menuju Medan, selanjutnya belanja perlengkapan yang diperlukan, seperti sembako, beras, dan lain-lainnya, baru kemudian diangkut dari Medan menuju Aceh Tamiang dengan truk.
Tim Relawan telah memiliki titik kumpul tepatnya di RSUD Tamiang, berkat kerja sama dengan rekan sesama relawan dari Bandung, yang telah datang lebih dahulu.
“Kondisi RSUD Tamiang lumpuh, semua tempat terendam lumpur, peralatan hancur, dr. Riri relawan dari Bandung sudah terlebih dahulu datang, dan membuat dapur umum di area pelataran parkir RSUD itu, jadi itu akan menjadi titik kumpul kita nanti,” jelasnya.
Direncanakan Tim Relawan Makelar Akherat berangkat pada Rabu (10/12/2025) dan akan bertahan di lokasi bencana minimal 10 hari hingga batas waktu yang belum ditentukan. Namun, tidak menutup kemungkinan bergeser lokasi jika ada daerah lain yang lebih membutuhkan.
Menurut dr Denny, berdasarkan pengalamannya yang pernah terlibat dalam penanganan bencana di Palu, Lombok, dan erupsi Gunung Semeru, kondisi Aceh Tamiang saat ini adalah yang paling parah.
“Kendala terberat karena semua fasilitas dasar dan tenaga kesehatan sepenuhnya terputus, dan ancaman kemungkinan bencana banjir susulan masih bisa terjadi lagi setelah ini karena cuaca yang ekstrem,” tambahnya.
dr Denny mengakui bahwa inisiatif ini dilakukan tanpa ada komunikasi atau dukungan dari pemerintah, bahkan biaya perjalanan dan akomodasi, sebagian besar relawan membayar sendiri. Ia berharap misi kemanusiaan ini sebagai bentuk empati, agar rakyat Aceh tidak merasa sendirian.
“Kita rakyat Indonesia di Bondowoso memiliki rasa bela sungkawa dan rasa luka yang sama dengan rakyat Aceh,” pungkasnya. (joe)





