PETISI.CO
OPINI

Pahlawan, Pembela Cita-cita

Oleh: Najmah Rindu*

“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita”, Mohammad Hatta.

-->

Hari Pahlawan, tebersit dibenak ihwal hiruk pikuk kota Surabaya tepat setahun silam. Perayaan besar-besaran di Kota Pahlawan menjadi rutinitas setiap datang hari-hari besar. Bukan hanya sekadar menikmati syahdunya antusias arek-arek Suroboyo, tetapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari perjuangan rakyat Surabaya mempertahankan Kota Pahlawan.

Sayangnya, situasi saat ini tidak memungkinkan kita untuk merayakan peringatan hari terbebasnya Surabaya dari genggaman kolonial Belanda serta para sekutunya.

Perlu kita ketahui, setiap tahun, Presiden RI akan memberikan anugerah gelar Pahlawan Nasional pada tokoh-tokoh yang telah mengabdi serta berjasa dalam memerdekakan dan membangun Indonesia ke arah lebih baik.

Tepat di Hari Pahlawan,  10 November 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan 6  Pahlawan Nasional yang patut diabadikan pada momen seperti ini. Salah enamnya adalah ada Sultan Baabullah dari Provinsi Maluku Utara, Machmud Singgirei dari Papua Barat, Jenderal Pol (Purn) Raden Said Soekanto Kapolri pertama DKI Jakarta, Arnold Monoturu dari Sulawesi Utara yang merupakan Menteri Penerangan era Soekarno, Mr. Sutan Mahmud Amin Nasution dari Sumatra Utara dan yang terakhir Raden Mattaher bin Pangeran Kusin bin Adi dari Jambi.

Menilik dari sejarah terdahulu, beliau para Pahlawan Nasional tidak pernah terpikirkan bahwa beliau akan dikenang dan dijadikan teladan ideal pada buku-buku sejarah siswa. Mereka hanya ingin bagaimana Indonesia bisa merdeka, betapa sulitnya menyatukan kesatuan dan persatuan di tengah keberagaman rakyat Indonesia sendiri.

Memutar otak, berusaha menjanjikan kemerdekaan, berusaha sekuat tenaga agar anak cucu bisa merasa aman dan lebih baik, berusaha memberikan yang terbaik tanpa memandang status dan latar belakang rakyat Indonesia.

Ini hanya beberapa tokoh pahlawan saja, tak sedikit pahlawan Indonesia yang gugur tanpa diketahui identitasnya. Mereka yang tanpa pamrih ikut andil memperjuangkan kebebasan dari belenggu penjajah.

Mereka juga tidak menuntut apapun dan ikhlas walau harus bertaruh nyawa di medan pertempuran. Tidak hanya pahlawan dari arek-arek Suroboyo, tetapi seluruh Pahlawan Nasional di segala penjuru Nusantara.

Untuk membangun perjuangan semangat tokoh pahlawan, mari kita merefleksikan sikap pantang menyerah dan berani membela kebenaran yang telah ditorehkan. Berikan kontribusi dan dedikasi sebagai balasan, bahwa kita juga bisa seperti mereka, para pahlawan bangsa.

Mengembangkan diri dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk hal yang positif dan bermanfaat bagi banyak orang.(#)

*)penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga

terkait

Paradigma Pahlawan Masa Depan

redaksi

Customer Kok Diajak Kerja Bakti?

redaksi

Mempertanyakan Kejujuran Pilkada Kabupaten Banyuasin

redaksi