Blitar, petisi.co – Tradisi petik pari yang sempat nyaris hilang kini kembali menggema di Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Melalui kegiatan sedekah bumi dan selamatan genduri bersama, Paguyuban Dulur Tani Dusun Sendang dan Dusun Sukowinangun menghidupkan kembali budaya Jawa sebagai ungkapan syukur atas panen padi yang melimpah.
Acara yang digelar di lahan pertanian setempat pada Rabu (23/04/2025) itu dihadiri oleh para petani, tokoh masyarakat, Kepala Desa Tuliskriyo, Mashuriyono, S.Pd, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pendamping dari Dinas Pertanian, serta Muspika Kecamatan Sanankulon.

“Hari ini, masyarakat sedulur tani dua dusun mengadakan sedekah bumi dan genduri sebagai wujud syukur atas panen padi yang berhasil. Ini juga bentuk pelestarian budaya lokal yang harus terus dijaga,” ujar Mashuriyono kepada petisi.co.
Selamatan Petik Pari: Dari Tradisi ke Ketahanan Pangan
Mashuriyono menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar tradisi, melainkan bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan nasional yang digaungkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebagai bentuk konkret, pemerintah desa telah membangun dua sumur bor untuk mendukung sistem irigasi di kawasan pertanian Dusun Sendang dan Sukowinangun.
“Kami ingin agar kegiatan ini menjadi agenda rutin menjelang panen, agar masyarakat petani bisa terus bersyukur dan merasakan keberkahan,” imbuhnya.
Harga Padi Menguntungkan, Petani Bersyukur
Salah satu petani, Murjito (56) dari Dusun Sendang, menyatakan kegembiraannya atas hasil panen tahun ini. Menurutnya, berkat dukungan Kepala Desa dan pendamping dari Dinas Pertanian, sarana produksi menjadi lebih mudah diakses dan harga padi juga sangat menguntungkan petani.
“Kami sangat bersyukur, selain panen bagus, harga juga berpihak kepada kami. Hari ini kami selamatan bersama warga sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keberkahan hasil tani kami,” tuturnya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan pembangunan desa dan penguatan ketahanan pangan. Harapannya, Desa Tuliskriyo bisa menjadi contoh desa mandiri yang berkecukupan pangan, berbudaya, dan diberkahi. (min)







