Perkuat Penangan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, DPRD Jatim Dorong Visum Gratis

oleh -259 Dilihat
oleh
Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Sri Untari

Surabaya, petisi.co – Tunjukkan komitmen dalam memperkuat penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, DPRD Jatim perjuangkan penggratisan layanan visum medis serta penanganan korban hingga tahap terminasi atau pemulihan menyeluruh.

Ketua Komisi E DPRD Jatim,  Dr. Sri Untari Bisowarno mengatakan bahwa layanan visum merupakan kebutuhan mendasar bagi korban kekerasan seksual, namun kerap tidak terjangkau karena alasan biaya.

Karena itu, pihaknya kata Sri Untari, mendorong agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan 14 rumah sakit yang wajib memberikan layanan visum secara gratis dan dibiayai penuh oleh APBD.

Ini lanjutnya akan dimasukkan dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Pelindungan Perempuan dan Anak yang saat ini di bahas di Komisi E DPRD Jatim.

“Kalau ada kejadian seperti visum, DNA, itu harus gratis dan dibiayai APBD. Utamanya bagi warga miskin dan pra-sejahtera, tidak boleh ditarik biaya apa pun,” tegas Sri Untari, Selasa (09/12/25).

Penasehat Fraksi PDIP DPRD Jatim ini menekankan bahwa penanganan korban kekerasan tidak boleh berhenti pada tahap pelaporan dan pemeriksaan medis. Pemulihan harus mencakup rehabilitasi sosial, pendampingan psikologis, hingga pemulihan ekonomi.

“Dalam Raperda ini kami berusaha memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak hingga pasca-kejadian, baik rehabilitasi sosial hingga ekonomi,” ujarnya.

Menurut Sri Untari, banyak korban yang kehilangan rasa aman, kepercayaan diri, bahkan mata pencaharian akibat dampak kekerasan.

“Karena itu, Raperda ini diarahkan untuk memastikan korban benar-benar pulih secara menyeluruh,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sekertaris DPD PDIP Jatim ini,  mengungkapkan keprihatinannya terhadap meningkatnya kasus kekerasan pada pelajar SD, SMP, dan SMA. Fakta yang paling memukul adalah bahwa sebanyak kasus terbanyak terjadi di lingkungan keluarga.

“Kasus yang menimpa pelajar SMA, SMP, dan SD paling banyak justru dari lingkungan keluarga sendiri. Ini yang menurut saya perlu kewaspadaan. Keluarga harusnya tempat paling aman, tetapi perempuan dan anak kita banyak disakiti di situ,” paparnya.

Selain keluarga, sekolah juga disebut memiliki peran penting dalam mendeteksi dan menangani dini kasus kekerasan. Sekertaris  DPD PDIP Jatim ini menyebut, Tim Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Sekolah (TPPKAS) harus dioptimalkan.

“Sekolah juga memiliki peran penting melalui tim TPPKAS. Di lapangan, sekolah pun cukup serius, hanya saja karena ini masih baru sehingga masih mencari pola,” pungkas politisi asal daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya. (ari)

No More Posts Available.

No more pages to load.