BONDOWOSO, PETISI.CO – Rudi Imam, yang disebut-sebut keturunan Raden Bagus Asra atau Ki Ronggo yang juga merupakan generasi kelima, menyampaikan, sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) tidak perlu meniadakan kegiatan ekonomi di Alun-Alun Bondowoso. Menurutnya, arena tempo dulu Alun-Alun tersebut, setelah dibuka juga sudah ada kegiatan ekonomi. Walau pun, tidak sebesar saat ini.
“Alun-Alun Bondowoso memiliki nilai dan akar historis yang luar biasa. Alun-Alun ini dibuka oleh Ki Ronggo dengan tujuan tertentu,” ujarnya, Kamis (23/1/2020).
Disamping itu, ia menyebutkan, setelah Bondowoso ini dibabat oleh Ki Ronggo, pada waktu itu masyarakat masih tampak sedikit. Sehingga, strategi yang dilakukan oleh Ki Ronggo untuk mengumpulkan masyarakat, maka kemudian dibukalah Alun-Alun Bondowoso.
“Ki Ronggo membuka Alun-Alun agar menjadi pusat pertemuan rakyat yang dibangun dengan asas kebersamaan,” jelasnya.
Agar dapat menyedot perhatian masyarakat, kata Rudi Imam, kemudian Ki Ronggo mengadakan pertujukan aduan Sapi. Kemudian masyarakat itu juga mulai berdatangan berkunjung dan memadati Alun-Alun Bondowoso.
“Dengan adanya aduan sapi, Alun-Alun Bondowoso ini juga sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat, walau pun skala nya waktu itu masih kecil. Tidak besar seperti kondisi saat ini,” katanya.
Jangan sampai bangunan-bangunan yang ada digusur begitu saja, apa lagi bangunan-bangunan yang bernilai bersejarah.
“Lebih baik dibenahi dan dibangun seindah mungkin, agar ada daya tarik dan terlihat modern,” harapnya.
Ditanya soal kebijakan relokasi PKL untuk menjadikan Alun-Alun sebagai RTH. Dia mengaku belum mengetahui konsepnya secara utuh.
“Kalau bicara soal konsep perlu dirembukkan bersama dan para PKL harus dilibatkan,” pinta Rudi Imam.
Dikatakan pula, menurut teori ekonomi, pasar itu tumbuh dan berkembang secara alami, tidak bisa dipaksakan. Sementara pengertian pasar sendiri adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli.
“Maka, terkait aktivitas ekonomi di Alun-Alun Bondowoso seharusnya dikembangkan secara modern, tanpa harus ditiadakan,” katanya sambil mengimbuhkan, sementara tempat wisata kuliner di kawasan Jembatan Ki Ronggo yang direncana pemerintah sebagai tempat PKL tidak cukup representatif.
“Perlu dipikirkan kembali jika tempat itu tidak layak dan justru merugikan bagi PKL maka siapa yang akan bertanggungjawab,” tandasnya.
Untuk diketahui, Raden Bagus Asra atau Ki Ronggo, merupakan tokoh dan pembabat Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. (tif)







