Warga Kediri Kecewa, Tak Dapat Respon Bupati

oleh

Dampak Proyek Jembatan Ngadiluwih-Mojo

KEDIRI, PETISI.CO – Warga Kabupaten Kediri, khususnya di Desa Bangle Kecamatan Ngadiluwih, yang berdekatan dengan proyek Jembatan Ngadiluwih-Mojo kecewa atas sikap Bupati Kediri.

Pasalnya, surat aduan akibat dampak proyek jembatan yang dilayangkan ke Bupati Kediri tidak kunjung mendapat respon.

Seperti dampak proyek yang menimpa, Andi, warga Desa Bangle, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Toko miliknya yang lokasinya berdekatan dengan proyek tersebut kini sebagian dinding toko mengalami retak. Retaknya dinding itu diduga akibat getaran dari pemasangan ‘paku bumi’ jembatan.

“Saya tinggal di radius paling dekat dengan proyek. Kalau malam suaranya sangat mengganggu. Trus yang membuat saya khawatir getaran dari pemasangan tiang pancang itu telah menyebabkan dinding toko ini retak. Semua bisa melihat sendiri seperti ini. Pemerintah bisa melihat bagaimana foto bangunan ini sebelum proyek dilaksanakan,” ujarnya, Minggu (14/5/2017).

Menurut dia, meski lahan miliknya sudah dibebaskan untuk pelebaran jalan menuju jembatan, tetapi kerusakan dinding toko miliknya akibat pemasangan paku bumi, seharusnya mendapat kompensasi dari Pemerintah Kabupaten Kediri.

“Prinsipnya saya sangat mendukung program pemerintah membangun jembatan ini. Kami juga sudah menerima ganti rugi pembebasan lahan untuk akses jalan. Tetapi bagaimana dengan nasib toko kami yang dindingnya rusak. Karena kami khawatir apabila terus terkena dampak pemasangan paku bumi, retakan ini semakin bertambah lebar dan bisa jadi bangunan rusak,” tambahnya.

Akibat adanya dampak yang merugikan warga itu, akhirnya Andi berinisiatif mendokumentasikan bangunan miliknya. Sejumlah dokumentasi berupa foto tersebut dijadikan bukti dalam lampirkan surat aduan yang dikirimkan ke Bupati Kediri Haryanti Sutrisno. Sayangnya, aduan itu hingga kini belum ada respon.

“Nanti saya dikira mengada-ada. Kalau terjadi kerusakan akibat proyek, tentunya pemerintah bisa memberikan kompensasi atau semacam ganti kerusakan,” tegasnya.

Sekedari diketahui, Pembangunan Jembatan Ngadiluwih-Mojo merupakan megaproyek Pemerintah Pusat yang dikerjakan oleh PT. Dwi Mulyo Lestari (DML) Dolopo – Madiun. Proyek bernilai trilyunan rupiah itu mulai dikerjakan, pada awal Mei 2017 lalu. Rencananya, Menteri PUPR dan Menteri Sekretaris Kabinet akan meninjau proyek tersebut, Senin (15/5/2017) hari ini, untuk melakukan prosesi peletakan batu pertama.

Terpisah, Sekretaris Kecamatan Ngadiluwih Zaenuri, mengaku jika pemerintah Kabupaten Kediri sedang mempersiapkan acara kunjungan rombongan menteri.

“Kita persiapan segalanya hari ini. Alhamdulillah sudah beres semuanya. Termasuk program pemerintah daerah tingkat dua dalam hal pembebasan tanah untuk akses jalannya. Adapun proyek jembatannya semua menjadi kewenangan pemerintah pusat,” terang Zaenuri di lokasi.

Dari informasi yang dihimpun, proyek pembangunan jembatan ini, Pemkab Kediri kebagian tugas dalam pembebasan lahan untuk akses jalan. Sementara untuk pembangunan jembatan, seluruhnya ditangani langsung pemerintah pusat.

Untuk pembebasan lahan itu sendiri, Pemkab Kediri mengalokasikan dana sebesar Rp 13 miliar. Dalam pembebasan tanah warga dihargai Rp 5 juta/RU, sedangkan rumah disesuaikan dengan kondisi bangunan. Sementara tanaman, seperti pohon pisang diberi ganti rugi Rp 75 ribu per batangnya.(dun)