Ramadan dan Semangat Persatuan Bangsa

  • Jumat, 26 Mei 2017 | 23:01
Ramadan dan Semangat Persatuan Bangsa

Oleh: Afan Ari Kartika

Bulan Ramadan, merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat muslim di dunia, tak terkecuali umat muslim di Indonesia.

Karena bulan ini merupakan bulan yang penuh berkah dan juga menjadi bulan yang istimewa. Al Quran turun di Bulan Ramadan, serta ada satu malam yang sangat istimewa, yaitu malam lailatul qadar.

Namun, bagi bangsa Indonesia, Ramadan ternyata juga memiliki nilai sejarah dan kesan tersendiri. Dan kesan serta nilai sejarah itu secara nyata bisa kita rasakan hingga saat ini.

Bulan Ramadan ternyata memiliki hubungan antara religiusitas dan nasionalisme bagi bangsa Indonesia.
Betapa tidak, Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus ,1945 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 hijriah.

Ramadan telah menjadi saksi bangsa Indonesia atas kemerdekaanya. Di bulan Ramadan saat itulah menjadi momentum menyatukan berbagai agama, suku, dan golongan dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

Bisa saja ada yang beranggapkan hal ini sebagai faktor kebetulan belaka, namun anggapan kebetulan akan terbantahkan dengan kita melihat fakta-fakta sejarah, bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari Sekutu, Jepang atau Belanda, melainkan atas usaha dan upaya dari segenap elemen masyarakat nusantara yang menginginkan agar Indonesia terbebas dari jeratan penjajahan dan menjadi bangsa yang mandiri.

Walhasil, Indonesia menjadi negara merdeka dan diakui kemerdekaannya oleh dunia. Maka sejak saat itu dari “Sabang – Merauke” menjadi teritorial yang menyatu di bawah genggaman ke-bhinnekatunggalika-an dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tidak hanya selesai disitu, semangat Ramadan masih terus mewarnai pernak-pernik kemerdekaan Indonesia. Lihat saja misalnya, pengakuan yang tulus dari para pendiri negeri ini, mereka sepakat bahwa kemerdekaan yang diperoleh bukanlah semata-mata hasil keringat para pejuang yang gigih dan bahkan gugur dalam merebut kemerdekaan, melainkan sebagai berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa (alinea 3 Pembukaan UUD 1945).

Kesepakatan ini tentu didorong oleh kekuatan iman dan keyakinan mereka. Terlihat dengan jelas bahwa dorongan iman sangat dominan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sebagaimana juga puasa di bulan Ramadan, hanya dapat dilaksanakan dengan sempurna bila dilakukan atas dorongan iman yang kuat.

Dari perjalanan sejarah bangsa tersebut dapat dilihat bahwa Ramadan sangat memiliki nilai sejarah dan relevansi dengan persatuan bangsa dan nasionalisme, denga kata lain bahwa Nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme religius.

Lantas, bagaimana cara kita sebagai umat muslim dalam mengisi dan mempertahankan nasionalisme religius ini? Tentunya semua terpulang kepada kita untuk mampu menggali hikmah yang begitu banyak dalam bulan Ramadan, mulai dari semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan saling menghirmati, yang semuanya bermuara pada persatuan dan kesatuan bangsa.

Sehingga bulan Ramadan ini mampu menumbuhkan kembali kesadaran berbangsa dan bernegara dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih.

Namun demikian, sangat disayangkan nilai sejarah ini nampaknya kurang diperhatikan oleh kelompok radikal keagamaan yang selalu memperdebatkan antara Islam dan nasionalisme, serta memperdebatkan antara Islam dan non Islam, bahkan justru ingin memecah persatuan dan kesatuan bangsa dengan terus menebar paham kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Seharusnya kita sangat mensyukuri telah dianugerahi sebagai bangsa yang kaya dengan berjuta suku, budaya dan bahasa, yang patut kita jaga keutuhannya. Karena menjaga persatuan dan kesatuan sejatinya juga dianjurkan oleh setiap agama.

Dasar negara kita Pancasila juga mengusung nilai persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan akan tetap terjaga ketika semuanya saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi.

Tidak saling membenci, tapi saling menghargai, tidak saling memukul tapi saling merangkul serta tidak saling menjatuhkan tapi saling menguatkan.

Sekali lagi, saya selaku Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (DPP PERMAHI) mengajak kepada seluruh umat muslin Indonesia untuk sama-sama kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk mengembalikan serta merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadan 1438 H.

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional