Tuban, petisi.co – Warga Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang telah lama hidup berdampingan dengan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) kini kembali menyuarakan keluhan terhadap aktivitas yang menimbulkan bau, kebisingan, hingga persoalan tempat tinggal yang mepet dengan pagar pabrik, Kamis (21/08/2025).
Kepala Desa Tasikharjo, Damuri, menegaskan bahwa pihaknya bukan bermaksud menyerang perusahaan, melainkan menyampaikan aspirasi warganya.
“Bukan marah kepada TPPI, tapi saya menyampaikan unek-unek warga. Ada bau, pencemaran, dan kebisingan yang seakan-akan tidak mendapat perhatian sama sekali,” ujarnya.
Damuri menambahkan, ada 18 rumah warga yang berdiri tepat di tepi pagar TPPI tanpa jarak. Sejak 2019, pihak desa sudah mengajukan dokumen appraisal untuk relokasi, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
“Kami sudah sampaikan sejak dulu, tapi belum ada tanggapan. Warga berharap bisa direlokasi sesuai appraisal,” tegasnya.
Selain itu, masalah tenaga kerja lokal juga turut disorot. Menurut Damuri, selama ini ada kesepakatan tidak tertulis bahwa pekerja outsourcing yang keluar akan digantikan oleh warga desa sekitar, seperti Tasikharjo, Remen, atau Purworejo. Namun, praktik tersebut kini tidak berjalan.
“Kami sudah sampaikan, tapi tidak ada tanggapan dari pihak TPPI. Seolah-olah hanya mengutamakan ring satu sesuai catatan mereka,” kata Damuri.
Terkait dampak kesehatan, ia menyebut belum ada pemeriksaan medis menyeluruh dari TPPI bagi warga sekitar.
“Kalau pengobatan gratis ada, tapi medical check up (MCU) untuk warga terdampak belum pernah dilakukan,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan HSSE TPPI, Ahmad Muzzaki, menyebut pertemuan dengan warga merupakan bagian dari mediasi yang berjalan baik. Pihaknya akan menampung dan menyampaikan aspirasi warga ke pimpinan perusahaan.
“Kesimpulan hari ini adalah mediasi yang bagus. Tuntutan warga akan kami sampaikan ke pimpinan, mungkin akan dibahas sesuai kebijakan,” ujarnya.
Muzzaki menjelaskan, terkait keluhan bau dan kebisingan, perusahaan sudah melakukan sejumlah langkah perbaikan. Misalnya, membangun tembok peredam di dekat boiler untuk mengurangi kebisingan, serta melakukan perbaikan saat proyek overhaul.
“Alhamdulillah setelah diperbaiki, kebisingan dan bau mulai berkurang,” katanya.
Sementara terkait relokasi, Muzzaki menyebut hal itu berkaitan dengan proyek besar yang ditangani langsung oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI).
“Relokasi itu ada kaitannya dengan proyek besar. Kalau nanti proyek berjalan, tentu akan ada tindak lanjut sesuai kesepakatan dengan regulator,” jelasnya.
Warga berharap agar perusahaan dan pemerintah dapat bekerja sama untuk mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. (ric)







