Anak Tega Cangkul Ibu Kandungnya Hingga Tewas

oleh
Tersangka saat diamamkan di Mapolsek Ngancar

KEDIRI, PETISI.CO – Masyarakat di Lereng Gunung Kelud, tepatnya di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri geger. Penyebabnya, seorang pria tega menghabisi nyawa ibunya sendiri dengan sadis.

Pembunuhan tersebut dilakukan Boiman (51) terhadap Jaini (69) ibunya sendiri. Pelaku mencangkul kepala orang tuanya saat tengah menyapu di halaman.

Menurut keterangan warga, peristiwa berdarah itu terjadi, pada Selasa (7/3/2017) pagi. Saat itu Jaini menyapu di halaman rumah sebelah selatan. Tiba – tiba anaknya Boimin datang membawa cangkul.

Tanpa banyak kata, Boimin langsung mengayunkan cangkul yang dipegang ke arah kepala orang tuanya. Crok, seketika korban yang sudah renta itu terkapar. Darah segar pun mengucur deras dari kepala bagian depan.

“Saya mendengar ada permintaan tolong dari rumah ibu Jaini. Seketika saya lari, ternyata korban sudah terkapar, sementara anaknya Boimin di sebelahnya membawa cangkul. Saya langsung melapor ke Polsek Ngancar,” ujar Suwandi, perangkat desa setempat.

Hingga akhirnya, usai menerima laporan dari perangkat desa, petugas dari Polsek Ngancar langsung datang ke lokasi. Petugas mengamankan Boimin bersama barang bukti cangkul. Sementara jenasah korban dievakuasi ke rumahnya untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolsek Ngancar AKP Hadi Purnomo mengaku, pelaku melakukan penganiayaan berat terhadap ibunya karena memiliki gangguan kejiwaan. Namun demikian, pelaku tetap diamankan untuk menjalani proses hukum.

“Pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa. Namun kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan gangguan kejiwaan yang dialaminya,” jelas AKP Hadi Purnomo.

Saat dikonfirmasi, Boimin mengaku, sebelum pembunuhan berlangsung, ia kesal karena dimarahi oleh korban. Setelah itu, dia mengambil cangkul untuk memukul kepala ibunya sendiri.

Informasi yang berhasil diperoleh, pelaku mengalami goncangan batin sejak pulang dari Sumatera, tiga tahun lalu. Pelaku kerap mengamuk dan ibunya sering menjadi sasaran kemarahannya. (bud)