PETISI.CO
Suasana sidang online yang berubah menjadi sidang video call gegara gangguan sistem IT.
HUKUM

Beli Sabu 24 Poket Dituntut 6 Tahun pada Sidang Video Call

SURABAYA, PETISI.COGegara gangguan pada jaringan sistem Information Technology (IT), Pengadilan Negeri Surabaya menggelar sidang pidana narkotika melalui video call.

Komunikasi video call tersebut dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan penjaga tahanan, yang menyambungkan dengan terdakwa.

Sidang narkotika yang mengadili terdakwa Mochamad Doni, Rabu (1/7/2020), awalnya digelar secara online melalui layar proyektor. Namun tiba-tiba sambungan terputus dan persidanganpun dihentikan.

Mengingat banyaknya perkara yang belum bisa disidangkan sedangkan masa tahanan akan habis, akhirnya disepakati persidangan digelar melalui video call.

Dalam sidang tersebut, Doni dianggap bersalah oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Meryani Melindawati, karena membeli sabu sebagaimana tertuang dalam pasal 114 ayat 2 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

“Menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 6 tahun,” ujar JPU Meryani dalam tuntutannya.

Dalam dakwaan JPU dijelaskan, pada 1 Februari 2020 sekira pukul 20.00, terdakwa menelepon Pardi Alias Cacak (DPO), untuk membeli sabu.

Sekitar pukul 21.30, terdakwa bertemu dengan Pardi di sebuah Gang di jalan Putat Jaya Surabaya. Terdakwa menyerahkan kekurangan uang pembelian narkotika (sabu) sebesar Rp 650.000 kepada Pardi.

Kemudian Pardi menyerahkan tiga kantung plastik klip berisi 24 poket plastik klip berisi sabu-sabu.

Terpisah Humas PN Surabaya, Martin Ginting menyatakan bahwa dalam suasana darurat bencana seperti ini semua harus ada terobosan.

“Ya ga apa-apa (sidang melalui video call) asal para pihak dapat mendengar dan melihat jalannya persidangan,” ujar Ginting, Rabu (1/7/2020). (pri)

terkait

Gugatan Praperadilan Perawat National Hospital Gugur

redaksi

Sukseskan Ops Lilin 2017, Asops Mabes Polri Supervisi ke Polres Bojonegoro

redaksi

Kantor Imigrasi Kelas II Jember Giat Sosialisasi Keimigrasian di SMK 4 Jember

redaksi