Bersama Elemen Masyarakat Kota Batu Gelar Doa Kenduri Tolak Bala

oleh
oleh
Kenduri Tolak Bala

Batu, petisi.co –  Beberapa minggu kemari, di Kota Wisata Batu sering terjadinya kecelakaan laka lantas, baik bus pariwisata, sepeda motor maupun mobil yang menjadi korban tertimpa pohon tumbang. Tentunya, dalam hal ini sangatlah memprihatinkan.

Bersama masyarakat Kota Batu, maka Ketua NGO (Non Government Organization) YUA (Yayasan Ujung Aspal) Jawa Timur, yang diketuai Alex Yudawan, mengandeng beberapa unsur elemen masyarakat dengan membuat kegiatan “Kenduri Tolak Bala”.

Menurut Ketua NGO YUA Jatim, Alex Yudawan, saat ditemui di Jl. Terusan Sultan Agung, No 2, Kec.Batu, Kota Batu ini menyampaikan bahwa kegiatan “Kenduri Tolak Bala” dilakukan atas keprihatinan terjadinya kecelakaan lalu lintas secara beruntun di Kota Batu. Sehingga menimbulkan kerugian materiil dan immateriil.

“Maka kami Yayasan Ujung Aspal Jatim, Organda Kota Batu, Roda Wisata Kota Batu, GRIB Jaya DPC Kota Batu, Pesantren Rakyat mengajak masyarakat untuk hadir dan doa bersama diacara “Kenduri Tolak Bala,” ucapannya, Jumat Sore  (24/12025).

Kendati demikian, Kata Alex, hal ini sengaja dilaksanakan untuk bagian berupaya menolak bencana atau meminta agar dilindungi dari mara bahaya, karena dalam beberapa hari ini banyak terjadi laka lantas yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban, yang lebih fatalnya lagi ada korban yang meninggal dunia.

Dalam kesempatan itu, yang menjadi juru doa’ dengan mengunakan bahasa Jawa tulen yaitu, Tokoh Lembaga Adat Kota Batu, Ki Ariono dan dibantu oleh Pemangku Pesantren Rakyat Kota Batu,  Ulul Azmi Al Lulfie Wal’aman Asyafi’i.

“Semoga dengan melaksanakan kegiatan ini, dapat bermanfaat bagi masyarakat Kota Batu khususnya. Dan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu, semoga semuanya selamat dan tidak ada insiden seperti kemarin yang membawa banyak korban,” tutur, Ki Ariono.

Tidak tanggung tanggung, Ki Ariono juga menyampaikan bahwa  “Kenduri Tolak Bala,” ini tumpeng golong nasi kuning dan jenang sengkolo. Dan disaat ini sudah jarang didalam kegiatan doa’ menggunakan bahasa Jawa seperti jaman dulu.

“Artinya, kita juga menjaga kelestarian budaya Jawa, janga sampai punah. Sehingga sampai kapanpun warisan leluhur nenek moyang kita tetap dijaga,” teganya.

Waktu yang sama, Pemangku Pesantren Rakyat Kota Batu, Gus Ulul Azmi Al – Lulfie Wal’aman Asyafi’i, juga menuturkan setiap pergantian rezim yang merata mulai dari pusat sampai ke daerah, yaitu pergantian pemimpin biasanya tidak lepas dari prilaku alam.

“Perlu sinkronisasi dan harmonisasi, pejabat baru dan calon pejabat baru dengan alam yang dia pangku di tataran pemerintah setempat. Sehingga menjadi selaras, serasi dan seimbang. Semoga dijauhkan dari bencana mala bahaya, apalagi amukan alam,” bebernya.

Harap Gus Azmi, secara tinjauan kepimpinan itu bukan hanya fisik tapi terkait dunia non fisik. Meniru tradisi nenek moyang kita, butuh di tumbal’i lagi dengan doa’ – doa’ juga dengan prilaku yang baik. Tentunya dalam hal ini, semuanya harus terlibat dan nyengkuyung bersama. Jangan mengaiz rejeki di Kota Batu saja. (eka)