Oleh : Roudlon Fauzani*
Orang cerdas mengubah cobaan dan masalah jadi peluang, sedang orang bodoh justru membuat satu cobaan menjadi dua. Itulah kalimat ditulis Aidh al-Qarni, seorang penulis buku fenomenal best seller, La Tahzan.
Saya tidak sengaja membaca tulisan itu dari buku yang dibeli istri di toko Gramedia. Spontan, pikiran saya langsung melayang ke masa-masa kuliah dulu, teringat pada buku bacaan biografi orang-orang besar.
Imam Syafi’i, salah satu imam besar misalnya, bisa menjadi hebat justru karena dari kecil sudah yatim dan hidup susah. Mau sekolah tidak punya uang, sehingga harus membantu di lembaga pendidikan mengawasi anak-anak kecil yang belajar, tanpa dibayar. Justru dari situlah, sosok Imam Syafi’i terbentuk dan akhirnya menjadi ulama hebat.
Begitu juga dengan Buya Hamka. Ulama hebat dengan nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah tersebut justru mampu menyelesaikan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar setelah dijebloskan ke tahanan karena dituduh makar pada pemerintahan Soekarno kala itu. Penjara bukan menjadi akhir dari segalanya bagi Buya Hamka, malah berhasil membuahkan karya luar biasa, Tafsir Al-Azhar.
Itu juga yang terjadi pada Ahmad bin Hanbal, imam keempat dari imam-imam madzhab yang populer dalam Ahlus Sunnah wal al-Jama’ah. Sama seperti Buya Hamka, Imam Hanbal juga dijebloskan ke penjara selama 20 tahun karena berseberangan pandangan dengan pemerintah kala itu.
Tak hanya dipenjara, Imam Hambal juga disiksa. Dan justru karena itu, dukungan pada Imam Hanbal kian membesar hingga pada titik rencana penggulingan pemerintahan, namun Imam Hanbal tidak mau ada penggulingan pemerintahan. Namanya pun kian harum di kalangan umat Islam dan menjadi ulama besar.
Tokoh muda Indonesia, Habiburrahman El-Syirazy juga begitu. Pemuda asal Semarang ini justru mampu menghasilkan karya tersohor, Ayat-Ayat Cinta setelah mendapat musibah kecelakaan. Kakinya patah, sehingga tidak bisa kemana-mana. Justru karena tidak bisa kemana-mana itulah, dia mampu menyelesaikan novelnya yang sangat menyentuh dan inspiratif, hingga diangkat dalam film layar lebar.
Selain mereka, masih banyak sederet tokoh lain yang justru menjadi hebat bukan karena fasilitas, tapi karena mendapat masalah dan cobaan. Tidak ada maksud menggurui, tetapi paling tidak ini bisa menjadi renungan bersama, khususnya diri saya sendiri.
Masalah bukan akhir dari segalanya dan mendapat masalah atau cobaan bukan menjadi ukuran kalau kita orang jelek, tidak disayang Allah. Sebuah predikat yang seringkali disematkan orang-orang di sekitar kita pada mereka yang biasa mendapat masalah. Sunguh keji bila penyematan itu sampai terjadi. Kasihan karena belum-belum sudah divonis saat ada musibah. Bukankah Nabi-Nabi hebat, yang disayang Allah justru diberi cobaan dan masalah berat?
Nabi Nuh as misalnya, diberi cobaan banjir, Nabi Ibrahim as diberi cobaan dibakar oleh Raja Namrud, Nabi Ayyub as diberi cobaan kena penyakit, bahkan Nabi Muhammad SAW sekalipun yang sangat disayangi Allah Swt penuh dengan cobaan dan masalah dalam dakwahnya.
Masalah bukan jadi ukuran sebuah status, tapi justru sikap terhadap masalah itulah yang akan menentukan status dan tingkatan seseorang. Lihat saja dalam kehidupan kita, berapa banyak orang hancur gara-gara cobaan? Tapi tidak sedikit juga yang hebat justru karena cobaan.
Henry Ford, pemilik perusahaan mobil ford telah memberikan pelajaran berarti bagaimana dia mensikapi cobaan kemiskinannya menjadi sebuah greget dan tekad untuk jadi orang kaya dan berhasil. Begitu juga Thomas Edison, sang penemu lampu. Ia bisa mensikapi masalah kegagalan demi kegagalan dalam melakukan percobaan hingga seribu kali sekalipun dan akhirnya berhasil dan menjadi kaya raya.
Masa lalu boleh kelam, tapi masa depan tidak harus dikorbankan. Sekelam-kelamnya masa lalu, masa depan tetaplah suci. Bukankah seorang bayi tetap suci, meski dilahirkan dari hubungan gelap ibunya? Dan bukankah, Islam sendiri mengajarkan bahwa baik buruknya seseorang akan dilihat dari akhir hidupnya. Sebaik apapun orang itu, tapi kalau akhirnya jelek akan menjadi suul khotimah.
Jadi, ending ternyata jadi ukuran status baik atau buruk dalam Islam, begitu juga dalam hukum positif masyarakat. Inilah yang sering mementahkan status kesuksesan seseorang.
Presiden AS, Barack Obama sukses jadi pada usia 47 tahun, tapi Donald Trump baru sukses menjadi presiden Amerika di usia 70 tahun. Mana yang lebih sukses? Tidak perlu dijawab, tapi tidak salah bila kita juga menengok para politisi di tanah air. Tak sedikit dari mereka awalnya adalah para pengusaha muda, sukses, dan kaya raya, tetapi akhirnya mendekam dalam penjara setelah terjerat kasus karupsi dan lain-lain.
Fenomena seperti itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di tanah air. Orang yang awalnya dikenal sukses, kaya raya, hebat, tetapi pada akhirnya dipenjara karena kasus korupsi. Spontan, kehebatan dan kesuksesannya buyar seketika. Tak hanya dirinya, reputasi keluarganya pun ikut hancur. Karuan, status kesuksesannya menjadi nisb (dipertanyakan). Bila jadi pengusaha sudah bisa menjadi sukses, kenapa masih harus nekad jadi politisi yang nantinya justru harus berakhir penjara?
Ini mungkin bisa jadi renungan bersama. Apalagi pengusaha terjun jadi politisi di tanah air terus menjadi trend akhir-akhir ini, terakhir Erick Thohir pun mulai memutuskan terjun ke politik jadi ketua tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin.
Namun bayang-bayang penjara tidak harus menjadi dalih untuk tidak berikhtiar, termasuk dalam politik. Terus berproses. Itu mungkin sikap paling bijak untuk mendapat kebahagiaan. Dan perlu diingat bahagia tidak identik dengan kekayaan karena sudah banyak orang membuktikan bahagia tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta kita atau tingginya jabatan.
Kebahagiaan lebih tergantung cara pandang kita dalam melihat kenyataan. Bila bahagia ditentukan seberapa banyak harta, mengapa banyak artis muda harus bunuh diri, justru di puncak karirnya dan bergelimangan harta seperti artis Hollywood Robin Williams, begitu juga Brian Bianchini.(#)
*)Penulis adalah wartawan senior (georgeroudon@yahoo.com)





