Di Cape Town, Tudi Merasa Seperti di Kampung Halaman Sendiri

oleh
oleh
Keindahan Cape Town di pantai Camp Bay. Cape Town banyak disebut sebagai one of the most beautiful cities in the world. Alamnya indah, kotanya tertata baik dan hijau, dihiasi laut, pantai dan gunung.

BAGIAN I

Pada 2023 Tudi ditempatkan di Cape Town. Wilayah kerja KJRI Cape Town meliputi propinsi Western Cape, Eastern Cape, Northern Cape dan Free State.

Cape Town berjarak 9.470 km dari Jakarta. Meskipun jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia, namun hubungan historis dan sosial budaya dengan Indonesia sangat dalam.

Cape Town banyak disebut sebagai one of the most beautiful cities in the world. Alamnya indah, kotanya tertata baik dan hijau, dihiasi laut, pantai dan gunung. Table Mountain merupakan gunung yang menjadi ikon kota Cape Town.

Tudi takjub dengan keberadaan masyarakat Cape Town yang multi etnis dan multi kultur. Di mall-mall seperti di Waterfront, Tudi jumpai banyak orang keturunan Eropa, Asia atau Cape Malay dan penduduk asli Afrika. Mereka sangat harmonis, rukun dan damai.

Tadinya Tudi merasa Afsel itu jauh, namun seiring berjalannya waktu, dia merasa seperti di kampung halamannya sendiri. Selain karena banyaknya diaspora Indonesia, perasaan krasan dan senang itu karena sikap masyarakatnya yang ramah dan baik disamping alam dan kotanya yang indah.

Keindahan Cape Town dari Table Mountain.

Ada Pemandangan Kontras

Tudi juga menyaksikan hal yang kontras di Cape Town. Kesenjangan sosial yang tajam. Ini nampak antara lain di sepanjang perjalanan bandara menuju Cape Town. Di sebelah kanan jalan raya terbentang rumah-rumah gedong yang cukup bagus, namun di sebelah kiri terhampar rumah-rumah tinggal bedeng.

Konon ini adalah masyarakat pendatang dari luar dan sebagian merupakan sisa-sisa peninggalan  masa aparteid.

Sebagian dari mereka masa itu terusir dari rumahnya sendiri karena kawasan itu merupakan kawasan “golongan lain” dan mereka harus meninggalkannya tanpa kompensasi. Ini seperti yang dikatakan HW “Once we lived in decent house at that time in Claremon. But we had to leave and move to Kayelitsha without any compensation due to the aparteid law.”

Di suatu jalan, jika masih pagi hari, serasa menyaksikan apa yang disebut Iwan Fals “parade penganggur” yakni orang  berjejer menjajakan diri untuk dipekerjakan, misalnya sebagai tukang taman, pemotong pohon, dll.(bersambung)

No More Posts Available.

No more pages to load.