Digugat Ingkar Janji, Tergugat Siap Meladeni dan Lapor Polisi

oleh -146 Dilihat
oleh
Dari kiri, David Antonius, Dicky Reyhan Wibisono (baju putih), dan Purwoadi.
-->

SURABAYA, PETISI.COGugatan perdata wanprestasi atau ingkar janji dengan kerugian Rp 3,4 miliar yang dilayangkan Agus Leonardo Fortunis dan Bambang Sugianto ke Pengadilan Negeri Surabaya, akan berbuntut panjang.

Para tergugat, PT Rajawali Anugerah Jaya Agung (RAJA), PT Mandiri Cahaya Properti (MCP) dan PT Citi 9 Properti Indonesia (CPI), siap meladeni.

Bahkan, mereka bukan hanya siap menghadapi gugatan perdata, tetapi juga melaporkan para penggugat ke Polrestabes Surabaya.

Sebelumnya berdasarkan perkara nomor 178/Pdt.G/2021/PN.Sby, PT RAJA, PT MCP dan PT CPI digugat wanprestasi oleh Agus Leonardo Fortunis dan Bambang Sugianto. Lalu berbeda lagi perkara baru materi sama, dengan nomor 511/Pdt.G/2021/PN.Sby hanya pihak pihak ditambahkan.

Kaleb Prayudi dari PT RAJA kepada awak media mengatakan, dalam gugatan perdata itu posisi Agus Leonardo dan Bambang Sugianto sama sekali tidak memiliki hubungan hukum dengan gugatan tersebut,

“Keduanya hanya penerima kuasa dari PT Multi Dharma Indah (MDI). Namun dalam website Dijen AHU membuktikan bahwa Agus Leonardo dan Bambang Sugianto bukan pemegang saham atau pengurus di PT MDI,” katanya kepada awak media di kantor PT Citi 9 Properti Indonesia, Jumat (18/6/2021).

Selain itu sambung Kaleb, Agus Leonardo dan Bambang Sugianto juga masih mempunyai utang yang belum diselesaikan meski sudah disomasi.

“Utang itu berupa penerbitan faktur pajak PPN. Somasi kami tidak mereka respon walaupun sudah kami tembuskan ke PT MDI,” kata Kaleb.

Sementara PT MCP yang diwakili Dicky Reyhan Wibisono memaparkan, bahwa dampak dari gugatan tersebut menyebabkan gejolak dan ketidakpercayaan dari rekan-rekan bisnisnya.

Terutama supplier serta para pihak pemberi kerja. Sebab kata dia, dalam gugatan tersebut perusahaan kami PT MCP masuk sebagai pihak turut tergugat.

“Terus terang kami cukup kesulitan melakukan order material dari supplier meski dalam gugatan tersebut hanya berstatus sebagai pihak turut tergugat semata. Kami juga di komplain oleh salah satu pemberi kerja kami untuk proyek yang di Jombang,” paparnya.

Diterangkan Dicky Reyhan, bahwa Surat Perintah Kerja (SPK) yang dijadikan dasar Agus Leonardo dan Bambang Sugianto melayangkan gugatan, adalah SPK hasil kesepakatan antara PT MCP dengan perusahaan afiliasi dari PT RAJA yaitu KSO Harbour 9.

Bukan kesepakatan atau kontrak kerja antara KSO Harbour 9 dengan Agus Leonardo dan Bambang Sugianto.

“Secara hukum Agus Leonardo dan Bambang Sugianto tidak memiliki hubungan hukum apapun dengan KSO Harbour 9, dengan PT RAJA apalagi dengan PT CPI,” terang dia.

Menurut Dicky Reyhan, surat kuasa yang dipegang Agus Leonardo dan Bambang Sugianto tersebut untuk pembangunan beberapa unit ruko.

Surat kuasa itu juga sudah dicabut pada 9 Maret 2019. Setelah Agus Leonardo dan Bambang Sugianto diduga menyalahgunakan uang Down Payment (DP) pekerjaan.

“Terkait penyalahgunaan DP tersebut, sudah kami laporkan ke pihak yang berwajib. Perkara itu sekarang sedang dalam proses di kepolisian,” kata Dicky Reyhan.

Laporan pidana dugaan penggelapan pasal 372 KUHP, dengan bukti lapor No: TBL-B/455/V/Res 1.11/2021/Reskrim/SKPT Polrestabes Surabaya, tertanggal 28 Mei 2021.

Dicky Reyhan melaporkan pidana Bambang Hariono dkk, setelah mendapat surat kuasa dari Oei Soesanto Wibisono, Direktur PT Mandiri Cahaya Properti.

Sementara itu Bambang Sugianto dan Agus Leonardo yang dikonfirmasi terkait dugaan penggelapan tersebut, melalui nomor WA nya, tidak berkomentar banyak. Minta awak media menghubungi Abror, penasihat hukumnya.

Sementara Abror kepada awak media mengatakan, sudah mendengar kalau kliennya dilaporkan ke polisi. Tapi dia tidak berkomentar banyak. “Senin saja ketemu saya Mas,” kata Abror. (pri)

No More Posts Available.

No more pages to load.