Surabaya, petisi.co – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa Khofifah menekankan bahwa Jatim Fest 2025 yang digelar 1-5 Oktober bukan sekadar pameran dagang, melainkan wadah akselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Hal itu disampaikan Khofifah di sela pembukaan Jatim Fest 2025 di Grand City, Surabaya, Rabu (1/10). Acara pembukaan juga dilakukan peluncuran logo baru Hari Jadi ke-80 Provinsi Jatim yang jatuh pada 12 Oktober.
Selain itu, juga dirangkai dengan penganugerahan Investment Award 2025. Penghargaan ini diberikan kepada para investor yang telah berkontribusi signifikan dalam menggerakkan roda ekonomi Jatim baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
“Kita berharap program Jatim Fest menjadi ruang tumbuhnya inovasi dan kreativitas, baik dari skala kecil, menengah, maupun besar. Dimana kegiatan ini menghadirkan hiburan rakyat melalui pertunjukan seni budaya, talkshow inspiratif, dan demo produk inovatif,” tuturnya.
Jatim Fest 2025, merupakan festival tahunan yang memadukan belanja, hiburan, dan rekreasi dalam satu ruang kolaborasi. Tahun ini, festival berlangsung hingga 5 Oktober dengan partisipasi 400 pelaku UKM dari berbagai kabupaten/kota di Jatim.
Panitia menargetkan 43 ribu pengunjung dengan potensi transaksi mencapai Rp 20 miliar selama lima hari penyelenggaraan. Kehadiran ribuan pelaku usaha dan pengunjung diharapkan mampu memperkuat jejaring bisnis, sekaligus menumbuhkan solidaritas masyarakat Jatim.
Lewat gelaran Jatim Fest 2025, Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai poros kebangkitan ekonomi nasional Festival ekonomi kreatif bertema “UMKM Tumbuh, Ekonomi Bangkit” ini, bertujuan menyatukan potensi lokal, budaya, dan inovasi.
“Jatim Fest 2025 dirancang bukan sekadar pameran, melainkan manifestasi semangat baru pasca pandemi dan tantangan ekonomi global,” tambah Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Aftabuddin Rijaluzzaman.
Jatim Fest 2025 menampilkan tiga sektor utama yang menjadi kekuatan ekonomi kreatif Jawa Timur: Wastra (tekstil tradisional), Makanan dan Minuman (Mamin) dan Heritage atau warisan budaya. “Kami ingin menciptakan pengalaman pameran yang terbuka, komunikatif, dan edukatif,” ujarnya. (bm)







