Kehidupan Anak Kampung Mbebekan, Tudi : Caaang Kacaaang…

oleh -343 Dilihat
oleh
Mas Geng Memulai Tugas baru di Darwin 2023 Sebagai Konsul Ekonomi bergelar Minister Counsellor

BAGIAN II

Perekonomian yang minim, menjadikan anak-anak kampung Mbebekan mencoba mencari sumber uang saku untuk jajan dengan mencari kayu-kayu di daerah bangunan atau buah-buahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung mereka, paling sekitar 2 -3 km.

Daerah Bangunan atau Buah-buahan adalah daerah yang dihuni orang-orang yang kaya, dengan rumah-rumah gedong, besar-besar dan cukup wah.

Di daerah itu masih cukup banyak pembangunan rumah. Mas Yon, Mas Geng, Tudi dan teman-temannya sering kali mencari kayu sisa-sisa bahan bangunan.

Kayu-kayu itu diikat dan dibawa ke kampung untuk dijual kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya mereka yang memiliki usaha rumah makan atau penggorengan kacang. Umumnya rumah-rumah dan usaha rumahan masih menggunakan dapur berbahan bakar kayu.

Anak-anak itu banyak berjalan berkeliling Buah-buahan untuk mencari sumber rejeki. Di saat musim buah mangga, yang banyak ditanam di halaman rumah-rumah di daerah elit itu, mereka ‘mengambil’ mangga itu.

Karena letaknya biasanya di dalam halaman rumah, mereka harus mencari pengait untuk meraih mangga. Tidak jarang anak-anak itu harus dikejar-kejar anjing karena pemiliknya memelihara anjing.

Suatu Ketika, di jalan Mundu, Mas Yon, Mas Geng, Tudi dan teman-temannya ‘mengambil’ roti-roti bekas yang dijemur dan diolah untuk makanan ternak. Roti-roti itu dijemur di halaman dalam dibatasi pagar.

Mereka mengambil roti-roti itu dengan kayu pengait. Anak-anak itu pun gembira melahap roti-roti itu, padahal di beberapa bagian sudah mulai tumbuh jamur.

Demikian gembiranya anak-anak itu, salah satu temannya Warno dengan tangan berakting ke atas menyanyikan lagu ‘Adam Siti Hawa, hidup pernah dalam surga…sebelum di dunia.’

Masa itu, gembira itu mudah.

Salah satu tempat jujukan mengais rejeki adalah lapangan tempat pembuangan sampah yang cukup besar, di pinggiran daerah Buah-buahan. Anak-anak itu mencari rejeki dari sana mengambil apa saja yang masih berguna, seperti ballpoin bekas yang sudah rusak, mainan mobil-mobilan, potongan-potongan kayu, dan lainnya.

Suatu Ketika, Mas Geng dan Tudi yang sedang asyik ‘berkelana’ berdua di tempat sampah itu menemukan bungkusan tahu lontong yang masih tersisa. Mereka mengambil tahu lontong itu dan dengan lahap memakannya.

Bagi mereka, itu merupakan makanan yang ‘luxurious’.

Tempat lain adalah tempat pembuangan kulit-kulit pisang dari pabrik keripik pisang milik Pak Sihombing yang biasa disebut Pak Embing di jalan Kepala Sawit Mbebekan Selatan. Tempat pembuangan itu berbatasan dengan jurang yang cukup curam dengan ketinggian lebih dari 100 meter. Di bawahnya bibir Sungai Metro, salah satu sungai besar di Malang.

Jurang itu sangat curam dengan sudut hampir 90 derajat. Karena di sekitar situ juga ditumbuhi beberapa pohon dan tanaman liar, Mas Geng dan Tudi berani bermain di tempat sampah itu dan mengais kalau-kalau masih ada pisang yang utuh.

Apesnya, Mas Geng tergelincir dan meluncur ke bawah. Dia berupaya meraih pohon atau tanaman untuk berpegangan, tetapi tetap saja jatuh.

Agus teman mereka yang umurnya sekitar 3 tahunan lebih tua berlari cepat ke bawah jurang dan menolong Mas Geng yang setengah pingsan.

Jualan Kacang di Bioskop Kelud

Tahun 1979, Tudi yang berumur 11 tahun ingin ikutan jualan kacang ke gedung bioskop Kelud bersama Masnya yaitu Mas Yon dan Mas Geng bersama teman-temannya. Jualan kacang menjadi peluang yang cukup baik untuk memperoleh uang saku dan membantu orang tua.

Beberapa tetangga mulai membuka usaha penggorengan kacang dan dengan jasa anak-anak Mbebekan menjualnya ke bioskop Kelud. Bioskop itu cukup populer di Malang sebagai bioskop masyarakat kebanyakan.

Mas Geng serah terima tugas sebagai MinCon Politik dan Konsuler di KBRI Nur Sultan 2022

Bukan bioskop elit. Letaknya di persimpangan jalan Kawi dan Arjuno. Di persimpangan itu terpasang poster-poster gambar-gambar film yang sedang diputar hari itu bertuliskan “Hari ini” atau yang segera tayang ditulis “Segera” dan yang akan datang.

Bioskop Kelud dikenal pula sebagai bioskop ‘misbar’ artinya saat hujan gerimis penonton bubar. Pengunjung bioskop berlarian menepi mencari tempat yang teduh, karena hanya di beberapa bagian yaitu pinggiran dan belakang yang ada atapnya. Bagian lain beratap langit.

“Jangan dulu, kamu jualan aja keliling di daerah Buah-buahan,” kata Mas Geng.

Daerah Buah-buahan ini maksudnya daerah “elit”, rumah-rumahnya gedong, bagus dan kaya, menurut ukuran masyarakat sekitar situ.

Tudi nurut Mas Geng. Dia mulai berjualan kacang keliling di daerah buah-buahan. Kacang-kacang itu dibungkus koran, dicontong dan ditempatkan di keranjang plastik kotak, ada yang berwarna merah, biru, hijau, dan ungu.

Anak-anak penjual kacang itu membawa dagangannya dalam keranjang plastik dengan cara disunggi (ditaruh di atas kepala).

Tudi dan Mas Geng kulakan barang dagangan di Pasar Gede Malang pagi sekitar jam 08.00. Macam barang dagangan selain kacang adalah shanghai, marning, kripik pisang, kuping gajah, jeruk.

Adiknya Nur Alimah biasanya membantu packaging ke dalam plastik-plastik agak kecil dan menutup plastik dengan cara ‘diselomot’ dengan api.

Emak (Ibu,red) mereka menggoreng kacang-kacang itu di atas dapur yang berbahan bakar kayu. Panas hawa api dapur menyebabkan butiran-butiran keringat di wajah Emak mereka. Senyum keikhlasan dan ketabahan selalu terpancar di wajah Emak.

“Caaang kacaaang,”  teriakan Tudi menjajakan kacang sambil berjalan berkeliling di daerah Buah-buahan.

Sekitar enam bulan dia berjualan kacang keliling. Berangkat  setelah Ashar dan kembali sebelum Maghrib.  Setelah dirasa cukup umur, Mas Geng membolehkan Tudi ikutan jualan kacang di bioskop Kelud.

Pada masa itu banyak sekali teman-teman di kampungnya yang berjualan kacang ke gedung bioskop Kelud.

Suasana keceriahaan luar biasa melingkupi anak-anak penjual kacang. Sebenarnya barang dagangannya meliputi beberapa macam namun yang menonjol adalah kacang yaitu kacang goreng dan kacang godok. Kacang-kacang itu dicontong dibungkus rapi  dalam kertas-kertas koran. Dagangan lainnya adalah marning, shanghai, keripik pisang, kuping gajah dan jeruk.

Tudi, Mas Geng, Mas Yon dan teman-temannya penjual kacang berangkat setelah Maghrib ke Kelud yang jaraknya sekitar 4 km dari kampung Mbebekan. Mereka berjalan kaki. Suasana hati yang ceriah gembira menjadikan jarak yang sebenarnya cukup jauh itu tidak terlalu dirasakan.

Perjalanan mereka lalui sambil bersenda gurau dan bernyanyi gembira dan jenaka.

“Bawa ember bocor di tengah jalanan bibir ndower kayak pipa pancuran,” itu sepenggal lagu dari film jenaka Benyamin Sueb dan kelompoknya seperti Diran, Bagio, Saleh, dan lain-lain.

Kadang cara berjalan mereka meliuk liuk dalam barisan panjang seperti ular sambil terus bernyanyi-nyanyi. Pada masa puncak ’kejayaannya’ jumlah teman-teman yang berjualan di biaskop mencapai lebih dari 50 orang.

Di dalam bioskop, mereka menjajakan kacang dari baris bangku yang satu ke baris bangku lainnya, dari baris belakang sampai depan atau dari sayap  kiri, kiri tengah, kanan tengah dan kanan. (bersambung)

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.