Tahun 1982, satu demi satu teman penjual kacang berhenti, termasuk Mas Yon dan Mas Geng. Mas Yon beralih pekerjaan menjadi peloper susu di Agen Susu Anda jalan Kawi milik Pak Umar yang juga menjadi komandan Polisi Khusus Susu.
Mas Yon akhirnya berhasil membuka agen susu sendiri – Agen Susu Sae. Mas Geng mendapat pekerjaan di rumah makan Sate Madura ‘Kirun’ jalan Kawi. Dia terkadang membawa bumbu sate untuk lauk makan adik-adik sekeluarga. Heeem…nyam-nyam nyam…
Suasana Kelud menjadi berbeda. Sepi. Terakhir hanya tersisa Tudi, Suud dan Hari yang masih berjualan kacang di Kelud.
Tudi rindu dan merasa kesepian akan gelak tawa dan sendu gurau Mas Ge…
Siskamling Sambil Mendengarkan Kartolo
Tahun 1987, Mas Yon, Mas Geng dan Tudi disamping menjalankan agen susu, mereka aktif dalam kegiatan masyarakat. Karang Taruna RT, Karang Taruna RW yang Bernama Wira Perdana, menjadi karang taruna yang maju.
Hubungan antar teman sebaya, antar warga menjadi dekat, karena banyaknya program dan kegiatan bersama. Diantaranya adalah mengikuti lomba-lomba Simulasi P4 mulai dari antar-RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan.
Kelompok Simulasi P4 di daerah itu sering memenangkan lomba. Kegiatan 17-an juga aktif dengan panggung-panggung acara peringatan 17-an dan hiburan.
Tidak semua positif. Mas Geng, Tudi dan anak-anak Karang Taruna, pernah juga nakal dan jahil.
Kegiatan Siskamling untuk menjaga lingkungan masing-masing merupakan kegiatan rutin dan aktif diikuti warga. Anggota-anggota Karang Taruna kadang memperoleh giliran berjaga sekali dalam seminggu.
Pos Kamling berada di ujung jalan Perkutut Utara. Pos itu letaknya berdampingan dengan keranda mayat.
Waktu itu, jam 11.00, ada sekitar 6 bapak-bapak yang berjaga malam itu. Mereka sering bermain gaple untuk mengisi waktu sembari mendengarkan lawakan ludruk Kartolo yang sangat ngetrend dan populer saat itu.
”Isuk-isuk ndik njeru maron, atine seneng ngombe viliron” itu antara lain lirik ludrukannya Kartolo.
Kartolo ini memang terkenal guyonannya. Bisa membikin orang tertawa terpingkal-pingkal. Dia punya isteri 3 mati semua. Ditanya Sapari kenapa isterimu kok mati? “Yang pertama, mati karena nguntal yuyu (menelan kepiting,red).
“Yang kedua?” tanya Sapari penasaran. “Mati juga karena nguntal yuyu,” jawab Kartolo.
“Hlah yang ketiga, apa juga mati karena nguntal yuyu?” “Nggak, mati karena aku pukul palu,” jawab Kartolo.
“Loh kenapa kamu palu?” Kartolo pun menjawab, “karena ngga mau nguntal yuyu….,” ha ha ha….
Ada Setan?
Waktu menunjukkan pukul 00.00. Bapak-bapak masih asyik bermain gaple. Mas Geng, Tudi, Rudi, Hari, Eko, Agus Semar iseng menjahilin bapak-bapak yang sedang ronda.
Mereka mengambil dupa dan diam-diam dupa yang sudah dibakar itu dimasukkan pelan-pelan dan diam-diam ke celah-celah angin-angin pos jaga. Selang dua menit, satu-dua bapak-bapak mulai mengendus-endus bau wangi.
Mereka masih diam dan tidak saling bicara. Lama kelamaan mereka semua diam dan mulai ambil ancang-ancang…. “Setaaaaan.” Ha ha ha bapak-bapak itu lari tunggang langgang, karena bau wangi dan dipikirnya ada setan.
Gerbong Pancasila
Mas Yon yang penuh idealisme dan pikiran tentang pengabdian akhirnya masuk partai politik-PDI. Dia banyak membaca dan mempelajari buku-buku Bung Karno dan memiliki kemampuan retorika yang bagus.
Di sela-sela waktu menjalankan usaha agen susu, Mas Yon ikut dalam kegiatan-kegiatan kantor Cabang PDI di Malang. Dia bahkan terpilih sebagai Ketua Ranting di Kecamatan Sukun dan sempat menyelenggarakan pertemuan PDI di halaman rumah jalan Perkutut Utara.
Pak RW yang berbaju hijau jaman Orba marah dan meneror Mas Yon dengan menghubung-hubungkan dia dengan partai terlarang di Indonesia tahun 1965. Bapaknya juga ditegur agar bisa mengarahkan anaknya ke jalan yang benar. Mas Geng dan Tudi, juga ditegur agar jangan seperti Mas Yon.
Pak RW sebenarnya baik kepada kami. Hanya saja dia kurang senang saat Mas Yon ’salah arah’.
Di kantor RW depan rumah Tudi bersaudara banyak dilakukan berbagai kegiatan, termasuk rapat-rapat RW dan Darma Wanita. Di kantor itu juga, pernah terjadi suara orang mengerang kesakitan disiksa karena mencuri sandal. Konon waktu itu tangannya diletakkan di bawah kaki meja dan kemudian mejanya ditindih.
Untuk menangkal sindiran Pak RW, Mas Geng memberi label kamarnya yang terlihat jelas dari depan termasuk dari kantor RW yang berada di depan rumah dengan nama ‘Gerbong Pancasila’.
Karena terror yang berat, Mas Yon jadi stress dan sering sakit-sakitan. Kondisi fisik dan psikisnya drop sampai pernah muntah darah.

Tahun 1987, Mas Yon memutuskan merantau ke Jakarta. Kakak beradik itu sangat sedih harus berpisah dengan Mas-nya yang banyak berkorban dan memperjuangkan adik-adiknya.
“Geng, Tud, titip Agen Susu. Jaga dan rawatlah adik-adik dan bantu Emak-Bapak. Teruskan sekolah dan kuliah sampai lulus. Jangan sampai putus cita-cita,” kata Mas Yon.
Mas Geng, Tudi dan adik-adiknya meneruskan usaha loper susu.
Mas Geng yang kuliah di FH Unibraw senang membaca buku-buku filsafat. Kekuatan pemikiran dan kekuatan batin yang disampaikan oleh para filsuf kesohor itu meneguhkan hati dan tekad Mas Geng yang diikuti juga oleh Tudi.
Kierkegard, salah satu filsuf menuliskan, “As if I were a slave, chained to death and every time the chain rattles the death witters everything.”
Kierkegard menggambarkan betapa batin dia sangat menderita. “Seakan-akan aku seorang budak, terbelenggu oleh kematian dan setiap kali belenggu kematian itu berbunyi, kematian menghancurkan segala-galanya.”
Dalam setahun, ayah ibunya meninggal, tahun berikutnya saudara-saudara. Dan dia menjadi sebatang kara.
Mas Geng dan Tudi berpikir mereka masih bersyukur tidak semenderita seperti itu. Mereka masih mempunyai orang tua, saudara-saudara. Itu karunia dan rejeki yang sangat besar. Di sisi lain, mereka belajar dari semangat filsuf Nietze “I teach you the over man” yang artinya aku ajarkan kepadamu, jadilah manusia agung- orang dengan jiwa besar – atau pemimpin.(bersambung)








