Jember, petisi.co – Kemacetan mengular sekitar empat kilometer di jalur Kasian-Puger dan Kasian Kencong, kembali membuka perdebatan lama tentang pembatasan jam operasional truk pengangkut material menuju pabrik semen di Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
Kebijakan yang diberlakukan sejak era pemerintahan sebelumnya itu dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan dinamika mobilitas masyarakat saat ini. Terlihat sejak Senin pagi (17/11/2025), ratusan kendaraan truk tampak berhenti dan berjajar di simpang lampu merah Kasian.
Deretan kendaraan besar itu tidak hanya melumpuhkan arus lalu lintas, tetapi juga menutup akses sejumlah pelaku UMKM di sekitar lokasi. Situasi itu dikeluhkan warga setempat, salah satunya pria berinisial R, warga RT 002/RW 023, Desa Kasian Timur.
“Truk-truk itu berhenti berjam-jam. Jalan macet, usaha kecil juga tertutup. Kami berharap wilayah Kasian Puger serta Kasian-Kencong, sampai arah Rambipuji saling berkoordinasi mengatur jam operasional. Harus jelas kapan boleh lewat dan kapan dilarang,” ujarnya.
Menurutnya, pembatasan jam operasional sebaiknya tidak diterapkan secara kaku, melainkan disesuaikan dengan ritme aktivitas warga. “Seharusnya pembatasan diterapkan saat jam berangkat sekolah dan hari Jumat, karena jalur Kasian sampai Puger itu banyak masjid di pinggir jalan,” katanya.
Ia juga menyoroti padatnya arus warga pada sore hari. “Kalau truk diberangkatkan pukul 16.00 WIB, itu justru menambah kemacetan. Lebih baik jam 2 siang, supaya tidak menumpuk dengan warga yang pulang kerja atau kegiatan sore,” ucapnya.
Dia menambahkan, kondisi lalu lintas pada hari Minggu jauh lebih lancar karena pembatasan jam yang lebih longgar. “Makanya kami berharap jam operasional truk menuju pabrik semen benar-benar ditinjau ulang,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan Edy Siswoyo (60), warga Desa Grenden, Kecamatan Puger. Menurutnya, revisi kebijakan tidak akan berdampak signifikan jika perilaku pengemudi truk tidak dibenahi.
“Kalau mau mengubah jam operasional, benahi juga sopir-sopir truknya. Jangan sampai kendaraan berjajar. Harus ada jarak dan tertib saat melintas,” ujarnya.
Edy menekankan pentingnya keamanan pengguna jalan lain, terutama ketika truk memasuki area pabrik semen. “Kecepatan harus dijaga. Jangan asal masuk area pabrik tanpa memikirkan kondisi jalan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti buruknya kondisi jalan penghubung perbatasan Desa Grenden ke arah selatan. Jalan yang berlubang dan bergelombang memperparah kemacetan dan memperlambat laju kendaraan berat.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa antrean kendaraan menjulur hingga empat kilometer. Selama lebih dari tiga jam, kendaraan tak bisa bergerak, sementara sebagian warga memilih memutar melalui jalur alternatif yang juga mulai padat.
Kemacetan ini mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh atas kebijakan jam operasional truk, koordinasi antarkecamatan, dan penertiban armada pengangkut material, terutama mengingat tingginya ketergantungan aktivitas industri di Puger terhadap mobilitas kendaraan berat tersebut. (zen)







