SUMENEP, PETISI.CO – Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Sumenep mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) penanganan penyakit coronavirus (Covid-19), Kamis (18/2/2021).
“Sekolah sudah berupaya berikhtiar semaksimal mungkin, akan tetapi ada kehendak lain diluar dugaan,” terang Drs Sukarman, Kepsek yang terbilang baru di Sekolah Favorit Kota Keris kepada awak media petisi.co di kantornya kemarin.
Sebelumnya sekolah yang berada di Jl Payudan Timur Desa Pabian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini terdapat satu siswanya yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil swab. Saat ini siswa itu tengah diisolasi di RSUD Moh Anwar Sumenep.
“Mudah-mudahan anak yang terpapar ini segera sehat kembali dan semoga sekolah-sekolah yang ada di Sumenep yang melaksanakan PTM aman-aman saja,” kata Sukarman.
Pria kelahiran Lumajang ini kembali menegaskan, pada intinya SMA Negeri 1 Sumenep sudah melakukan upaya semaksimal mungkin dalam penanganan protokol kesehatan Covid-19.
Di samping itu lanjut mantan Kepsek SMA Negeri 1 Kalianget itu, pihaknya selalu intens proaktif mengedukasi supaya tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19.
“Karena virus itu kan tidak nampak dan sulit terdeteksi. Terpapar dimana pun sulit terdeteksi,” ujar Sukarman seraya menyatakan dan kejadian ini tentunya akan menjadi pembelajaran untuk kedepannya di SMAN 1 Sumenep.
Sukarman menceritakan, kronologi awal siswanya itu diketahui terpapar Covid-19. Menurutnya, awalnya semua sekolah SMA Negeri untuk semuanya sudah mendapatkan ijin melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menekankan protokol kesehatan.
“Kemudian berjalanlah tatap muka kurang lebih 12 harian setelah itu saya dapat kabar dari Guru Kelas dan Guru BK bahwa ada salah satu siswa (Kelas X MIPA VII) yang terkonfirmasi positif berdasarkan hasil swab dan saya juga dikirimin hasil swabnya. Saya kalau tanpa hasil swab tidak berani. Berarti anak ini sudah positif,” paparnya.
“Setelah itu langkah saya, saya melaporkan ke atasan saya (Kacabdin Jatim Wilayah Sumenep-red) yang menyarankan harus lockdown kelas itu. Dan kalau gak salah lockdownnya hari Jumat. Setelah itu pak Kacab ditelpon oleh Kepolisian dan menyampaikan kepadanya kalau pada hari Sabtunya akan dilakukan tracing di Kelas tersebut. Setelah itu saya koordinasi dengan Wali Kelas dan BK kalau diadakan tracing swab antigen,” ucapnya.
Sukarman menerangkan, untuk pembelajaran tatap muka terbatas di SMA Negeri 1 Sumenep itu dilaksanakan dibagi per absen. Anak itu kebetulan absen 1 sampai 18. Absen 19 sampai 36 itu tidak sama-sama masuknya, akhirnya absen 19 itu diputuskan di pulangkan.
Secara kebetulan papar Sukarman, anak yang terpapar itu ikut Paskib, akhirnya di Kelompok Paskib itu juga dilakukan tracing beserta gurunya ikut pula di tracing yang mengajar di kelas itu.
Kata Sukarma, untuk hasil swab antigen siswa di Kelas MIPA VII itu semuanya negatif, hanya 4 karena dia bergejala karena memang sakit. “Sebelum di tracing memang dia sakit tapi hasil antigennya negatif. Saat ini memang bergejala karena memang dia sakit, sakitnya itu Flu Filek,” jelasnya.
Selanjutnya jelas Sukarman, tim gugus tugas yang menindaklanjuti terkait 4 anak yang memang bergejala itu. Posisinya diisolasi mandiri atau seperti apa saat ini pihaknya tidak mengetahui karena belum dapat konfirmasi tindak lanjut.
“Paskib di tracing juga kurang lebih 18 anak, 1 OTG. Berhubung ada yang bergejala dan OTG kami melakukan rapat dengan Kepala Cabang dan saya menginginkan untuk lockdown untuk memutus mata rantai agar lebih aman yang awalnya hanya di Kelas tersebut,” ucap Sukarman.
Sehingga di SMA Negeri 1 Sumenep dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diketahui dimulai sejak Senin, 15 Februari 2021 hingga 1 Maret 2021. (ily)







