Kuliah Master in Public Policy NUS di Singapura

oleh -312 Dilihat
oleh
"Tudi dinyatakan lulus dan diminta segera ke Jakarta. Betapa senangnya hati Tudi dan Emaknya. Dia pun berangkat ke Jakarta menyambut jalan masa depan yang mulai terbentang."

BAGIAN VII

Bermodal keinginan kuat memberikan kontribusi dan menjaga nama baik Indonesia, Tudi, terus memacu diri untuk maju. Dia berhasil lulus mendapatkan bea siswa di NUS Singapura pada 1997-1999.

Singapura walaupun negara kecil namun ingin menjadikan diri sebagai Center of Excellence pendidikan dunia. Mereka banyak merekrut profesor dan ahli-ahli unggulan dari berbagai negara. Mahasiswa Singapura memiliki jiwa dan semangat yang tangguh dan sangat kompetitif.

Mahasiswa Singapura itu sangat ulet dan tangguh fisiknya. Tugas kelompok dari dosen dikerjakan bersama di salah satu apartemen teman. Dari pagi, siang, sore, malam dan langsung kuliah lagi. Ada yang tidak tidur sama sekali. Hiya kebanyakan anak-anak Singapura. Yang lain sudah pada tepar.

Prof. Tom Snider yang berasal dari Harvard University yang mengajar Cost and Benefit Analysis, sambil tertawa ringan namun penuh canda bertanya:  “Who did not sleep at all last night?“, beberapa mahasiswa angkat tangan.

who slept at 05.00?”.

Asem bener kan. Dia kayaknya puas banget melihat mahasiswanya klepek-klepek karena ngerjain PR dia. Tapi dia orang baik dan sangat bertanggung jawab.

Dari Singapura, Tudi memantau kondisi perekonomian nasional yang sedang tidak baik-baik saja dan tersapu badai krisis keuangan. Krisis itu demikian hebatnya dan cepat menjalar menjadi krisis multidimensional.

Aksi-aksi demo menuntut Pak Harto mundur. Berita-berita gedung-gedung dibakar massa. Korban mulai berjatuhan. Presiden Suharto Sang Bapak Pembangunan pun jatuh pada 1998. Babak baru Indonesia dimulai: Era Reformasi.

Jari Tangan Terjepit Pintu Mobil

Tahun 2000 Tudi, isteri beserta 2 anaknya Nicky dan Bravy yang masih berumur masing-masing  4 dan 1 tahun berangkat tugas penempatan sebagai diplomat di Wina. Perjalanan cukup panjang, namun mereka lalui dengan riang penuh syukur.

Pesawat transit cukup lama di Dubai. Tudi sesekali melihat jam dan memastikan jam telah disesuaikan dengan waktu setempat. Dengan begitu dia senantiasa aware mengenai jadwal penerbangan berikutnya. Jangan sampai lewat atau ketinggalan pesawat. Bisa kacau balau.

Apalagi dia dan keluarganya belum begitu nguasai seluk-beluk proses perjalanan luar negeri, termasuk prosedur pemeriksaan Imigrasi di negara orang.

Setelah boarding di pesawat lanjutan hatinya tenang. Aman. Pesawat lanjutan pun terbang dan setelah hampir 9 jam penerbangan, pesawat landing dengan mulus di bandara Wina. Hari masih agak gelap sekitar jam 05.00 pagi.

Tudi dan keluarga dijemput staf KBRI dengan mobil cukup besar berwarna biru tua, mobil Caravel. Tapi apes, baru memasuki mobil “jlaag“.

Pintu mobil besar itu ditutup dengan keras dan agak kasar. Tiga jari tangan kanan Tudi, telunjuk, jari tengah dan jari manis terjepit pintu mobil. Kuku ketiga jari itu pecah dan terus berdarah.

Sesampai di hotel tempat penginapan sementara, hotel Kaizer Franz Joseph, dia bersihkan luka di jari-jarinya. Ketiga kuku jari yang pecah dia keluarkan. Rasa sakit nyut nyut nyut yang panjang karena hari itu hari libur, masih pagi dan tidak ada apotik yang buka.

Setelah beberapa bulan tumbuh kuku baru, salah satu kuku jarinya masih harus dia lepas karena bentuknya masih rusak.

“Kamu Dik, memangnya ngga bisa nyari flight yang jamnya ngga bikin susah orang,” bosnya Kepala Bidang Ekonomi negur Tudi.

“Maaf Pak jika telah merepotkan,” jawab Tudi.

Namun dalam hati dia berkata, “Kalau keberatan menjemput, seharusnya ngga usah njemput, toh saya bisa langsung ke alamat tujuan dengan taksi. Di samping itu dia kan ngga ikut njemput. Yang njemput Pak Suryanto pegawai setempat fungsi Ekonomi dan seorang driver,” dia berargumen dalam hati.

Karena kalau disampaikan langsung ke bosnya pasti makin rame dan bagaimana pun dia akan kalah. Bisa berabe….

Di sini Tudi salah. Dia tidak memahami masalah protokoler. Kedatangan saat tugas penempatan merupakan protokol resmi,  bukan masalah mau atau tidak mau.

Di samping itu, dia kurang memahami mengenai masalah “kenyamanan” yang nampaknya penting diperhatikan. Paling tidak, bagaimana agar tidak terlalu merepotkan orang. Benar juga sih.

Makanya, cepat belajar Tudi tahu keadaan dan keprotokolan………ha ha ha….

Sebulan Sudah Beli Mobil dan Tersesat

Sekitar 1 bulan, Tudi sudah beli mobil yaitu Opel, mobil second warna silver metalic. Mobil diantar dan diparkir di jalan depan KBRI/PTRI Wina, Gustav Tschermakgasse. Dia harus segera bisa melaksanakan tugas secara mandiri riwa- riwi KBRI/PTRI ke Vienna International Center untuk sidang UNIDO yang jaraknya bisa 30 menit dengan mobil.

Hari itu Minggu, banyak staf KBRI dan masyarakat Indonesia ramai di KBRI. Ada kegiatan  lomba-lomba dalam rangka HUT RI di halaman KBRI.

Pak Damos diplomat yang lebih senior sekitar lima tahun di atas Tudi, bertanya “udah beli mobil Tudi?” “Hiya Pak Damos,  agar segera settle,” kata Tudi.

“Coba lihat,” kata Pak Damos. Mereka pun berjalan menuju mobil.

Tudi masuk ke mobil dan menstarter “reeeng, reeeng,” mobil Opel pun nyala. Gagah dia menunjukkan ke Pak Damos.

Tapi setelah digas beberapa kali, reeeeng…..reeeeng, suara mobil makin kenceng tapi tidak bergerak. “Wah maaf Pak Damos, ngga bisa jalan,” kata Tudi.

“Gimana bisa jalan orang rem tangannya belum kamu lepas,” kata Pak Damos….ha ha ha….ancen wong ndeso.

Sebenarnya sebelum berangkat Tudi sudah kursus nyetir. Sehari latihan 2 jam saat weekend. Total waktu latihan sekitar 8 jam.

Dia pun sudah mengantongi SIM dan SIM internasional. Karena nggak langsung berangkat, dia lupa cara menjalankan mobil.

Begitu mobil  bisa jalan, Tudi pun terus “menggelinding” muter-muter di daerah dekat kantor dan makin lama makin jauh.

Saat itu GPS masih belum ada dan baru populer beberapa tahun kemudian.

Dia gunakan ancer-ancer menara pembakaran sampah Wina yang menjulang tinggi dan terlihat dari mana-mana.

Tapi, menara itu kemudian hilang, tidak terlihat. Dia puter-puter mobilnya, tetap saja tidak melihat menara cerobong asap Wina.

Dia pun akhirnya menelpon staf KBRI. Cuman lokasi persisnya dia tidak tahu. Akhirnya dia memanggil taksi untuk memandunya ke KBRI.(bersambung)

No More Posts Available.

No more pages to load.