Surabaya, petisi.co – Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur (Jatim) Arum Sabil menegaskan Musyawarah Daerah (Musda) yang berlangsung 9-11 Desember di Surabaya bukan hanya administratif, namun ruang penyatuan visi dan pengambilan keputusan strategis.
Penegasan tersebut, disampaikan Arum Sabil pada pembukaan Musda Gerakan Pramuka Jatim tahun 2025 di Surabaya, Selasa (9/12) malam. Musda dibuka oleh Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Bidang Organisasi, Hukum, Perencanaan dan Pengembangan Gerakan Pramuka Indonesia, Prof Asrorun Ni’am Sholeh.
Arum berharap proses musyawarah berjalan lancar dan menghasilkan kebijakan yang memperkuat peran Pramuka dalam pembinaan generasi muda Jatim. “Mari hadirkan gagasan yang berakar pada realitas dan diarahkan oleh cita-cita masa depan Gerakan Pramuka Jatim,” tuturnya.
Musda sendiri mengusung tema “Gerakan Pramuka Adaptif, Produktif, dan Berkelanjutan”. Tema tersebut, dinilai bukan sekadar slogan, melainkan respons terhadap tuntunan era disrupsi. Pramuka tidak boleh berhenti berinovasi.
“Generasi muda, membutuhkan ruang pembinaan karakter, kolaborasi, dan ekosistem belajar yang lentur mengikuti perkembangan zaman. Kita harus mampu membaca tanda-tanda zaman dan memastikan pendidikan kepramukaan tetap relevan, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi dukungan Pemprov Jatim, DPRD, TNI-Polri, serta seluruh pihak yang turut memperkuat Gerakan Pramuka di daerah. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa pengelolaan organisasi tak hanya butuh perubahan, tapi juga komitmen untuk mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik.
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengapresiasi banyaknya keterampilan sektoral yang dimiliki anggota Pramuka, seperti dalam ketahanan pangan, penanggulangan bencana, serta beragam saka, seperti Saka Bahari dan Saka Taruna Bumi.
Karenanya, dia berharap pemerintah pusat melalui Kemenpora dan APBN dapat ikut memperkuat kegiatan Pramuka hingga ke tingkat akar rumput. “Saya juga meminta seluruh OPD di Jatim untuk memperkuat sinergi pembinaan berdasarkan bidang teknis masing-masing,” tandasnya.
Secara khusus, Emil menyampaikan permohonan maaf karena Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tidak dapat hadir secara langsung. Namun, diingatkan bahwa ibu gubernur memiliki kepedulian tinggi terhadap Gerakan Pramuka. Hampir setiap program strategis daerah melibatkan Pramuka.
“Contohnya, penanganan pascabencana Semeru, ketahanan pangan hingga pelestarian lingkungan, termasuk program mangrove yang menjadi salah satu unggulan Gubernur. Beliau bukan hanya senang pada Pramuka, tetapi sangat cinta pada Pramuka,” ujar Wakamabida Pramuka Jatim ini.
Wakil Kwarnas Prof Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan bahwa pengelolaan organisasi tidak hanya membutuhkan perubahan, tetapi juga komitmen untuk mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik.
“Perlunya keberlanjutan kebijakan demi menjaga stabilitas Pramuka di tingkat daerah maupun nasional. Kalau sudah baik, kenapa diganti?” ujarnya di hadapan jajaran pimpinan Kwarda Jatim, unsur Forkopimda, para ketua Kwartir Cabang, hingga Dewan Kerja Daerah dan Cabang yang hadir dalam forum tersebut.
Dalam musda ini, akan dibahas sejumlah agenda penting, di antaranya, pertanggungjawaban Kwarda masa bakti 2020-2025, laporan hasil pemeriksaan keuangan, penyusunan rencana kerja 2025-2030, serta pemilihan Ketua Kwartir Daerah dan anggota formatur untuk periode mendatang. (bm)






