SUMBAR, PETISI.CO – Pengerjaan proyek pembangunan Jembatan jalan raya lintas Padang-Bukitinggi tepatnya di Kecamatan 2×11 kayu tanam, Kabupaten Padang Pariaman, telah menyebabkan kemacetan belasan kilometer pada siang dan malam hari, Jumat (19/03/21).
Banyak pengguna jalan yang mengeluhkan dan merasa dirugikan atas kejadian ini terutama yang memakai kendaraan bermotor roda empat karena untuk keluar dari kemacetan panjang ini membutuhkan waktu berjam-jam.
Seperti yang disampaikan, Rizal seorang pedagang yang akan membawa barang dagangannya ke Pekanbaru, Riau, ia mengaku mengalami kerugian atas kejadian ini.
“Kemarin saya merugi karena barang dagangan yang saya bawa sesampai di Pekanbaru ditolak langganan, karena keterlambatan datang sehingga langganan tersebut terpaksa mengambil pada orang lain, ternyata hari ini masih seperti ini,” ucapnya kesal.
Hal senada juga di sampaikan, ID yang juga seorang pedagang yang harus menelan kerugian karena barang yang ia bawa ke pasar tidak laku.
“Saya juga mengalami hal ini, Saya inikan pedagang sayur pak, jadi pagi-pagi sekali saya harus sampai di pasar jika tidak saya bisa kehilangan langganan, ya jadinya sayur saya ngak laku, tau sendiri kan kalau sayur yang cepat layu tidak laku sehari ya tidak terjual lagi, ” ucapnya sedih.
Tak hanya pedagang yang merasa dirugikan akan proyek ini, Rika seorang pegawai swasta pun juga pernah merasakan hal yang sama.
“Kemarin saya berjanji dengan klaen untuk penjualan produk yang nilainya boleh dikatakan cukup besar, namun karena saya tidak bisa menepati janji sesuai dengan jam yang telah disepakati karena macet yang panjang ini, akhirnya peluang yang sudah sangat bagus iniya gagal karena dia kecewa sudah menunggu saya cukup lama,” ungkapnya.
Menurut salah seorang sopir yang juga sempat dikonfirmasi petisi.co ia mengatakan kejadian ini sudah terjadi dua hari, bahkan siang hari kemacetan sampai puluhan kilo.
“Kejadian ini sudah dua hari, kemaren sampai ke Lubuk Alung macetnya, ntah kenapa bisa seperti ini, biasanya jembatan darurat yang dioperasikan kan dua, tapi sekarang hanya satu,” tuturnya.
Melihat kejadian ini, petisi.co mencoba mengkonfirmasikan kepada pihak perusahaan, karena pengerjaan proyek ini mulai menimbulkan dampak buruk, terutama bagi pengguna jalan.
Humas perusahaan PT. Amar Permata Indonesia, Taufik yang melakukan pengerjaan terhadap proyek pembangunan jembatan yang bersumber dari dana APBN tersebut menjelaskan, bahwa kemacetan tersebut terjadi akibat satu jembatan darurat mengalami kerusakan.
“Ya kemacetan yang terjadi beberapa hari ini terjadi akibat jembatan darurat yang biasanya dua, salah satunya mengalami kerusakan karena longsor yang diakibatkan hujan deras sehingga debit air yang melintasi sungai tersebut sangat besar,” ungkapnya, Sabtu (20/03/2021).
Selanjutnya ia menjelaskan, untuk mengatasi kemacetan yang terjadi pihak perusaan bekerjasama dengan satuan lalulintas (Satlantas) Polres Padang Pariaman agar arus lalu lintas tetap bisa berjalan.
“Kita berupa untuk mengatasi kemacetan yang terjadi dengan bekerjasama dengan satlantas polres Padang Pariaman, agar kendaraan tetap bisa jalan, apalagi akses jalan alternatif Malalak juga mengalami kerusakan,” ungkapnya.
Taufik juga menambahkan bahwa pihak perusaan akan mengupayakan perbaikan jembatan darurat secepatnya.
“Perbaikan jembatan tersebut akan upayakan secepatnya yakni dalam dua hari kedepan akan kita selesaikan, agar jembatan darurat tersebut bisa kembali dimanfaatkan,”pungkasnya. (if)







