Pemkot Surabaya Fokus Tangani Banjir di Kali Perbatasan pada Awal 2025

oleh -303 Dilihat
oleh
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat bertemu dengan Kepala BBWS di ruang kerja

Surabaya, petisi.co – Memasuki tahun 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen mengatasi permasalahan banjir di sejumlah titik, terutama di kawasan Kali Perbatasan. Upaya ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan antara Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Hendra Ahyadi, yang digelar di Ruang Kerja Wali Kota pada Kamis (2/1/2025).

Dalam diskusi tersebut, kedua pihak menyoroti pentingnya perawatan dan perlindungan sempadan sungai untuk mencegah banjir. Wali Kota Eri Cahyadi menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu, kawasan Surabaya sempat dilanda banjir akibat sumbatan enceng gondok dan sedimentasi di Kali Perbatasan.

“Kami berdiskusi mengenai masalah ini. Surabaya yang berada di hilir menerima limpasan air dari berbagai daerah. BBWS telah menyampaikan kondisi ini ke pemerintah pusat, dan perbaikan sungai akan dilakukan. Sementara itu, kami telah melakukan pengerukan dan pembersihan enceng gondok,” jelas Eri Cahyadi.

Eri mengungkapkan bahwa kondisi sungai di Surabaya saat ini tidak ideal. Ketika menerima aliran dari wilayah seperti Kediri, Jombang, dan Mojokerto, Kali Jagir Wonokromo kerap meluap, mengakibatkan genangan di sejumlah ruas jalan.

“Meskipun jalur sungai sudah diatur BBWS, Kali Jagir tetap tidak mampu menampung volume air. Jika semua jalur dibuka, Surabaya bisa tenggelam. Untuk itu, kami membangun box culvert besar untuk menampung air sementara sebelum masuk ke sungai besar,” ungkapnya.

Pemkot Surabaya telah menyusun langkah jangka pendek dan panjang untuk menangani banjir. Dalam jangka pendek, dilakukan pemetaan wilayah prioritas dan pembangunan box culvert yang saling terhubung dengan saluran primer hingga ke sungai besar.

“Air dari kampung akan mengalir ke saluran tersier, lalu ke saluran primer, dan akhirnya menuju sungai besar sebelum mengalir ke laut. Semua sistem ini akan dikoneksikan,” tambah Eri.

Sementara itu, untuk langkah jangka panjang, Pemkot akan bekerja sama dengan BBWS Brantas untuk mengembalikan fungsi sungai yang terganggu akibat bangunan liar di sempadan sungai.

Selain normalisasi sungai, Eri menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah lain untuk menjaga kondisi sungai di masing-masing wilayah.

“Surabaya bukan negara sendiri. Jika Kali Perbatasan bermasalah, kontak kami. Kami siap membantu dengan peralatan yang ada sehingga pekerjaan bisa dikerjakan bersama,” tegasnya.

Hendra Ahyadi menambahkan bahwa aliran Sungai Brantas yang bermula dari Malang hingga Surabaya membutuhkan kolaborasi erat antara BBWS dan Pemkot Surabaya. Menurutnya, penanganan masalah seperti enceng gondok yang tumbuh cepat dan bangunan liar memerlukan koordinasi lintas lembaga.

“Kami sudah melakukan pembersihan enceng gondok secara berkala, namun kecepatan pertumbuhannya lebih tinggi dari upaya kami. Penertiban bangunan liar juga sedang dilakukan, termasuk melalui jalur hukum,” jelas Hendra.

Hendra menutup dengan menyampaikan bahwa pendanaan menjadi salah satu tantangan utama dalam normalisasi sungai. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Pemkot Surabaya sangat diperlukan untuk mewujudkan solusi berkelanjutan.

“Kami memohon dukungan Wali Kota Surabaya untuk menangani masalah ini secara bersama-sama,” pungkasnya. (dvd)

No More Posts Available.

No more pages to load.