“Perobohan Rumah Warga Bendo Bentuk Arogansi dan Tindakan tak Manusiawi”

oleh
Rumah milik 16 KK dirobohkan rata tanah, warga semakin menderita.

Ratih Larasati SH : Kami Akan Perjuangkan Hak-hak Warga

 PONOROGO, PETISI.CO – Sehari pasca eksekusi rumah milik warga Bendo Desa Ngindeng Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, menambah deretan beban penderitaan yang dialami warga Bendo.

Sejumlah 16 KK (Kepala Keluarga) harus kehilangan rumah sebagai tempat tinggalnya, karena dirobohkan oleh alat berat pada Kamis (1/3/2018), hingga rata dengan tanah.

Kejadian eksekusi 16 rumah warga yang oleh korban eksekusi disebut penggusuran paksa tersebut sehari pasca kejadian, masih menimbulkan shock bagi pemilik.

Sebagaimana diungkapkan Mujianto yang mengaku memiliki rumah 4 bangunan di seberang terowongan Waduk Bendo. Mujianto mengecam tindakan eksekusi tersebut sebuah bentuk arogansi, kebiadaban dan tindakan tidak manusiawi.

“Saya sebelumnya tidak dikasih tahu kalau Kamis pagi itu ada penggusuran, memang ada peringatan, tapi kan belum jatuh saatnya, pas saya ke Solo dapat telpon rumah dalam kondisi kosong dirobohkan, hanya barang barang perkakas yang dikeluarkan, seperti lemari, rak kasur perabot dapur dll, namun untuk kayu kerangka rumah hancur tidak bisa dipakai lagi, diinjek-injek bego, benar-benar biadap, sekarang ini tidak punya rasa manusiawi, saya tidak terima dengan perlakuan kepada rakyat yang tidak manusiawi,” ungkapnya.

Masih menurut Mujianto yang mengaku heran dia tinggal di rumah sendiri, tanah milik sensiri, ada surat surat lengakap, hanya diberlakukan arogan.

“Rumah saya sudah keramik, ada empat bangunan berdiri diatas lahan hak milik, surat lengkap sekarang kayunya hancur semua, tanpa sisa, sudah tidak bisa dipakek , belum lagi banyak barang berharga yang hilang, ada rokok beberapa slop dalam lemari, ada uang ada perhiasan emas di lemari, siapa ini yang tanggung jawab, ini benar ada penjarahan, juga karena banyak yang hilang harta keluarga,” ungkapnya.

“Apalagi dulu katanya rumah mau dibeli, tanah dibeli, pohon pohon tanaman warga dibeli, tapi kenyataannya langsung main gusur, apalagi saat warga kayak saya tidak ada di rumah dan bapak juga tidak ada karena ke ladang,” keluh suami dari Jemitri ini.

Hal senada juga disampaikan Subianto. Ia sangat menyayangkan tindakan penggusuran tersebut.

Padahal menurutnya ia tidak tahu karena saat petik jagung di ladang. “Saya petik jagung ke ladang, sampai rumah lihat rumah sudah roboh rata dengan tanah, padahal rumah ini saya bangun dari uang yang saya kumpulkan lalu beli matrrial juga kita pikul dari Sawoo sana, kok teganya Pemkab merobohkan kayak gini, pokoknya saya nuntut diganti. Mosok tanah saya bikin hampir ratusan juta hanya mau dikasih Rp 6 juta, tidak menghargai sama sekali,” isaknya sembari menangis histeris di atas puing puing rumahnya.

Ratih Larasati SH selaku advokasi yang punya kepedulian tinggi melihat kondisi warga Bendo Pasca Eksekusi

Ratih Larasati SH selaku advokasi yang punya kepedulian tinggi melihat kondisi warga Bendo Pasca Eksekusi. Menurutnya sifat-sifat arogan ini tidak bisa dibiarkan, harus ditempuh jalur hukum.

“Setelah kita melihat sendiri, turun sendiri ke lokasi , KAI (Konggres Advokasi Indonesia) terutama saya pribadi setelah nelihat kondisi eksekusi seperti ini benar-benar arogansi dan benar-benar tindakan tidak manusiawi, kami akan perjuangkan hak hak mereka untuk menerima ganti rugi sesuai standar nasional, kami tetap akan lakukan pembelaan,” ujarnya.

“Bayangkan, bagaimana mereka bikin rumah kayak gitu, pasti kerugian materi kerugian tenaga dan pikiran, namun dihancurkan begitu saja, kayu bagus-bagus hancur,” protesnya.(mal)