SURABAYA, PETISI.CO – Sidak yang dilakukan Wali Kota Surabaya menemukan akses jalan fasum yang ditutup dengan dinding tembok oleh developer, Selasa (29/5/2024) lalu.
Perumahan Western Village khususnya warga RW X yang berada di Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo terpaksa harus menempuh jalur memutar jika harus menuju kelurahan dikarenakan jalan menuju keluar yang melintasi Perumahan Palm Residen ditutup dinding tembok.
Syaiful Anwar warga Western Village yang juga Ketua RT 4 RW X mengatakan wilayah RT paling bersentuhan langsung dengan tembok penutup jalan, saat ini satu satunya jalan keluar hanya dari Pondok Benowo Indah yang melewati perumahan Dreaming Land, dan Griya Benowo Indah.
“Kami menyadari dengan tidak adanya akses jalan keluar dari perumahan kami, satu-satunya jalan melalui gerbang PBI, maka akan menambah kepadatan kendaraan di gerbang PBI, terutama saat jam berangkat kerja,” ujar Syaiful.
Lanjut Saipul, setelah sidak wali kota, dua hari kemudian Jumat (31/6/2024) diundang Camat Benowo untuk musyawarah bersama membahas permasalahan ini bersama, developer dari Palm Residen, juga dari Dinas Cipta Karya, juga Koramil Benowo, Polsek Benowo.
Permasalahan tembok pembatas di kedua perumahan ini membuat wali kota memerintahkan Camat Benowo untuk segera memeriksa dan menyelesaikan permasalahan, karena jika sesuai site plan, jalan tersebut adalah milik fasum.
Manajemen estate dari Developer Palm Residen, Teguh, ditemui di kantornya mengatakan, diundang mewakili perusahaan. “Perwakilan warga juga diundang tapi tidak bisa hadir,” kata Teguh.
“Sebagai pengembang kami telah menyerahkan PSU kepada Pemkot Surabaya, mengenai tembok yang dianggap menutup jalan sudah ada sejak awal sebagai batas wilayah perumahan Palm Residen,” ujar Teguh.
Mewakili Developer Teguh mempersilahkan Pemkot jika memang akan membongkar tembok pembatas yang ada, karena PSU sudah diserahkan, sesuai prosedur.
Tentunya Pemkot tetap mengakomodasi suara warga yang ada di perumahan sekitar khususnya di RW 4, dikarenakan dampak negatif dari tembok yang dibuka akan muncul. “Seperti faktor keamanan, kenyamanan lingkungan warga, juga kemungkinan macet di Penyebrangan Rel KA yang tidak ada palang pintunya, dan jalannya menyempit,” tutur Teguh.
Musyawarah di kecamatan belum mendapatkan keputusan final, karena masih ada beberapa undangan yang berkaitan dengan permasalahan tidak bisa hadir.
Teguh berharap bahwa jika tembok pembatas akan dibongkar, akan dibuatkan pintu yang dijaga oleh petugas keamanan dan dibuka pada saat yang diperlukan, mengutamakan keamanan dan kenyamanan warga sekitar. (joe)






