Senator Nawardi Minta Tudingan Konyol TV Nasional yang Tak Berdasar Itu Dihentikan

oleh -188 Dilihat
oleh
Ahmad Nawardi

Surabaya, petisi.co – Senator Ahmad Nawardi, bicara keras soal tayangan televisi nasional (TV) yang jelas melecehkan kiai dan pesantren. Apalagi ada narasi sesat bahwa tradisi santri atau wali santri memberi amplop sebagai modus kiai memperkaya diri, dengan intonasi suara yang terdengar merendahkan.

“Tuduhan itu menunjukkan kebutaan total terhadap realitas pengorbanan kiai dan mekanisme gotong royong yang menjadi tulang punggung pesantren di Indonesia. Khususnya Jatim, yang begitu banyak bertumbuh pesantren sejak ratusan tahun silam,” tegasnya dalam siaran persnya, Selasa (14/10/2025).

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur (Jatim) itu, secara tajam membalik narasi sesat tersebut dengan sebuah analogi sederhana, namun menohok. Ia meminta tudingan-tudingan konyol yang sama sekali tidak berdasar itu dihentikan.

Nawardi menegaskan bahwa amplop kecil yang diberikan santri atau wali murid kepada kiai bukanlah untuk memperkaya diri kiai. Sebaliknya, itu adalah investasi moral yang disalurkan kembali untuk keberlangsungan pendidikan.

“Kiai itu adalah Petani Jiwa. Tugasnya bukan hanya mengajar, tapi menanam, merawat, dan memanen akhlak mulia. Beliau bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa menghitung jam kerja. Beliau korbankan hidupnya untuk menjaga moral anak bangsa,” ungkapnya.

Ketika seorang santri atau wali santri memberikan amplop tabarukan, lanjut dia, itu bukan uang tunai yang langsung masuk ke rekening pribadi kiai. Itu adalah benih yang mereka titipkan. Benih ini tidak dimakan sendiri oleh ‘Petani Jiwa’ (kiai).

“Benih itu akan segera ditabur kembali ke tanah pesantren untuk membeli kitab baru, memperbaiki asrama yang bocor, memastikan makanan santri miskin tetap ada, atau membiayai operasional sekolah dan pondok,” tandasnya.

Nawardi menyebut hasil dari penanaman benih ini, yaitu panen buah ilmu dan santri berakhlak, akan dinikmati oleh seluruh masyarakat, desa, dan negara. Karenanya, menuduh kiai yang hidupnya rata-rata sederhana itu, memperkaya diri dengan menerima ‘benih’ dari santri adalah sebuah absurditas yang tidak memiliki dasar.

“Tuduhan itu sama bodohnya dengan menuduh perpustakaan nasional korup karena menerima sumbangan buku. Uang itu bukan untuk memperkaya kiai, tapi untuk memastikan roda pendidikan pesantren tetap berputar dan cahaya ilmu tidak padam,” kecamnya.

​Dia mengajak masyarakat untuk berhenti menyebarkan fitnah yang merusak moral bangsa. Nawardi juga menantang para penuduh untuk datang langsung ke pesantren, melihat bagaimana luar biasanya pendidikan di pesantren dalam membangun kelangsungan umat.

​”Jika narasi sesat ini terus disebarkan, benteng akhlak bangsa bisa runtuh. Menurut saya, penuduh itulah yang tidak pernah berbagi dan buta terhadap keindahan tawadhu dan keikhlasan berkorban,” ucapnya. (bm)

No More Posts Available.

No more pages to load.