Stand Up Comedy Megawati Blejeti Jokowi

oleh -196 Dilihat
oleh
-->

“Jokowi kalau gak ada PDI-P, aduh kasihan dah loh. Ya loh maaf dulu siapa sih yang tahu Jokowi”

KATA KATA itu diucapkan Megawati Soekarnoputri saat sambutan pada HUT ke-50 PDI Perjuangan, di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa  (10/1/2023)  lalu yang dihadiri Presiden Jokowi dan ribuan kader partai kepala banteng mocong putih.

Biasanya Jokowi menghadiri undangan parpol lain digdaya, tapi kali ini mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jaya itu diblejeti (dipermalukan) “di rumah sendiri”.

Jokowi dibuat seperti mati suri dihunjami sentilan Megawati dalam pidato panjangnya. Jokowi cuma plonga plongo dengan mulut mlongo. Tidak tertawa, tidak juga merengut. Jokowi mulutnya tetap terbuka, seolah sabar meski dipermalukan.

Seperti biasa Ketum PDI-P itu bicara semauanya. Maka dari mulutnya itu bisa kelucuan dimunculkan, bisa pula nada ketus. Enteng saja narasi yang diucap dari mulutnya, seperti tanpa mikir yang disasarnya itu bakal sakit hati. Nampaknya Megawati tak perduli.

Macam mana pidatonya, yang memblejeti Jokowi, meski dengan gaya sentilan dan narasi campur aduk dengan bahasa Jawa. Inilah kata kata utuh Megawati tanpa ada tambahan dan dikurangi, apalagi diedit. Biar tetap aroma Megawati tak hilang.

Pak Jokowi kui koyo ngono lho. Mentang-mentang. Lha iyo padahal Pak Jokowi kalau nggak ada PDI Perjuangan, aduh kasihan dah loh (sambil Megawati tertawa dan kedua tangannya tepuk tangan. Dan diikuti tepuk tangan membahana mereka yang hadir).

Lho legal formal loh, beliau jadi presiden tuh, nggak ada kan ini. Legal formal diikuti terus kan sama saya aturannya. Aturan mainnya. Ya dulu maaf, siapa sih yang tau Jokowi. Lho iyolah. Ketika pada mulai nanya, Ibu mau nyalonin siapa ya, Entar aja…

Acara yang dihadiri ribuan kader PDIP itu, dibuat seperti tidak formal. Megawati memperlihatkan digdaya kebesarannya. Ibunya Puan ini bicara apa saja sesukanya. Bahkan ia seolah sedang meroasting (stand up) kepada presiden, yang disebutnya sebagai petugas partai.

Gaya stand up comedy Megawati itu menimbulkan derai tawa. Entah tawa karena memang lucu, atau tawa basa-basi sepantasnya, agar hati sang ketua umum riang gembira.

Setiap bicara Megawati tampak menikmati dengan teramat percaya diri. Megawati  memuja-muji dirinya, bahwa ia cantik, pintar, dan kharismatik… tanpa sedikit pun rasa risih.

Berharap ada tepuk tangan dan derai tawa dari ribuan kader yang hadir, buatnya itu sudah cukup.

Mengapa catatan akhir pekan kali ini menyentil kata-kata Megawati pada Jokowi ? Karena tak patut.

Jika publik (pembaca) berpikir demikian juga, itu tidak salah. Tapi, memilih gaya penulisan semacam ini, bisa jadi satu bentuk menyelami gaya pidato Megawati, yang seperti tidak fokus dengan apa yang ingin disasarnya.

Bicaranya mesti berkelok-kelok, seperti naik kendaraan memberi reting kanan tapi belok kiri. Menjadi tidak jelas omongan itu diarahkan.

Pidato Megawati itu bisa dinilai oleh siapa saja jika ingin menilainya. Pengurus dan kader PDI-P pastilah menganggap gaya komunikasi “sang ibu” itu yang paling hebat, tak ada bandingnya.

Tapi umum bisa menilainya dengan bermacam penilaian. Ada yang menyebut, itu cara komunikasi buruk.

Mari kembali pada pidato Megawati, yang memunculkan canda tawa di sana-sini. Dan, itu karena tingkat kepercayaan diri sendiri yang tinggi. Menjadikan sikap terbiasa jika Megawati mesti memuja-muji diri sendiri dengan gaya centilnya.

Tapi, di balik canda Megawati yang seperti tidak serius, itu sebenarnya ada pesan kuat. Bisa disebut warning keras. Meski pesan disampaikan dengan gaya “stand up comedy” yang mengundang gelak tawa. Sedang obyek yang disasar, dan itu Jokowi, dibuat ternganga tak mengira akan diperlakukan demikian, tidak cuma di depan ribuan kader PDI-P, tapi juga tersiar di semua media massa.

Pesan tajam yang dihunjamkan Megawati, itu semacam mengingatkan “agar kacang tak lupa pada kulitnya”.

Iya loh Pak Jokowi kalau ga ada PDI Perjuangan, aduh kasihan dah loh. Dalam makna yang lain, Pak Jokowi itu gak akan jadi presiden, kalau tidak didukung PDI-P. Jadi, Jokowi mesti ingat itu. Bahkan ditambahkan dengan nada ketus yang makjleb, Ya dulu maaf, siapa sih yang tau Jokowi.

Mengapa sampai Jokowi perlu diingatkan secara terbuka dan Jokowi layaknya kambing congek. Jadi bahan tertawaan seisi penduduk negeri. Namun, bisa jadi Megawati sudah sering mengingatkan Jokowi secara diam-diam, tapi seperti tak muncul perubahan. Mengingatkan, agar jangan lebih mendengarkan orang lain dibanding mendengarkan “sang ibu”. Dan, pula jangan beri kuasa kepada orang lain ketimbang berbagi kuasa dengan “sang ibu”. Sikap Megawati itu lebih pada bentuk kegusaran, meski disampaikan dengan gaya canda.

Semua menjadi mafhum, bahwa istana sudah tidak lagi dalam kendali PDI-P. Ada kekuatan yang lebih besar “mencengkeram” Jokowi. Apakah itu kekuatan Oligarki?(fim)

No More Posts Available.

No more pages to load.