MAGETAN, PETISI.CO – Hawa yang lumayan dingin menyelimuti Dukuh Punthuk Kopen, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Beberapa hari terakhir hujan cukup deras mengguyur kawasan Kabupaten Magetan setelah hampir delapan bulan mengalami musim kemarau.
Dengan selang di tangan, Saiful yang sering disapa Gimbal membasahi susunan plastik yang berisi media tumbuh jamur kuping di bangunan kombong sepanjang 7 X 4 meter tersebut. Ribuan cuping jamur sebesar telapak tangan terlihat menjuntai siap dipanen.
“Disiram untuk menjaga kelembaban udara. Kalau malam udaranya bagus kombong bagian bawah kita buka biar udara masuk,” ujarnya, Kamis (12/12/2019).
Jamur kuping dengan diameter hampir 20 centimeter tersebut siap dipanen. Dan hari ini merupakan panen kedua yang dilakukan Saiful Gimbal. Dari 8.000 baglog yang dimiliki saat ini, dia mengaku mampu menghasilkan 1.2 ton jamur basah setiap kali panen. “Per kilonya diterima pabrik Rp 10.000 panennya bisa sebuan dua kali, ” imbuhnya.
Kena penyakit krepes, Gimbal sempat merugi 120 juta rupiah.
Empat tahun lalu, Desa Gonggang merupakan sentra penghasil jamur kuping terbesar di Magetan. Gimbal selaku pelopor budidaya jamur kuping di desanya mengatakan, setiap Minggu desanya mampu menghasilkan dua ton jamur kering dengan harga Rp 62.000 per kilo.
“Perputaran uang di desa sini saat itu hampir 500 juta setiap minggu dari panen jamur kuping yang dijual kering,” katanya.
Saat itu lebih dari 180 pemuda di Desa Gonggang terjun menggeluti budi daya jamur kuping. Setiap orang sedikitya memiliki 8.000 hingga 20.0000 baglog. “Saat itu saya punya 1 juta 700 ribu baglog yang dikelola oleh sejumlah pemuda di sini,” ungkapnya.
Di saat warga Desa Gonggang sedang tinggi semangatnya membudidayakan jamur kuping, penyakit krepes menjangkiti baglog para petani yang membuat jamur tidak bisa berkembang. Penyakit krepes menurut Gimbal menyerupai telur cacing yang menyebar di dalam plastik media untuk menanam jamur.
Gimbal mengaku sempat merugi hingga 120 juta rupiah karena 1 juta 700 baglog jamur miliknya gagal tumbuh. “Kolap waktu itu. Di saat semangat warga lagi tinggi baglog kena penyakit krepes,” katanya.
Dari memusnahkan baglog hingga cendol jamur kuping
Meski merugi hingga ratusan juta rupiah tak menyurutkan langkah Gimbal untuk membudidayakan jamur kuping. Dia nekat membeli ribuan baglog untuk mengetahui apa yang menyebabkan jamur kuping yang dibudidayakan tak mau tumbuh.
Dia juga melakukan uji lab ke UGM Yogyakarta. Bahkan langkah uji lab di UGM dilakukan hingga dua kali agar mendapat kepastian penyebab penyakit krepes. “Ternyata memang penyait krepes itu tidak ada obatnya. Satu-satunya jalan ya menghancurkan baglog yang tersisa,”ujarnya.
Dari sisa pertumbuhan jamur kuping yang tidak bisa tumbuh maksimal, Gimbal kemudian melakukan percobaan dengan membuat olahan dari jamur kuping. Salah satu kuliner yang berhasil dibuat adalah cendol jamur kuping.
Tak disangka dari uji coba cendol jamur kuping tersebut banyak warga dan rekanan Gimbal yang menyukai rasa dan tekstur cendol dari jamur kuping. “Kalau teksturnya lebih kenyal dari cendol biasa. Kemudian kalau dikonsumsi dinginnya cendol rumput laut itu lebih terasa dingin di perut,” ucapnya.
Meski tergolong sukses membuat cendol dari jamur kuping, namun Gimbal memilih fokus menyelesaikan permasalahan gagalnya jamur kuping tumbuh pada baglog. Dari sejumlah analisa yang dilakukan, permaslahan gagalnya jamur kuping tumbuh di baglog karena penanganan media tanam yang kurang maksimal dari perusahaan.
“Jadi kita sering ke pabrik untuk mencari tahu penyebabnya. Kita dapati penanganan media kurang maksimal karena waktu itu banyak sekali permintaan baglog sehingga proses pembutan media tidak maksimal,” terangnya.
Gimbal akhirnya memilih berhenti sementara waktu untuk melihat perkembangan pabrik membenahi kualitas baglog. Hingga akhir tahun 2019 dia memilih kembali mencoba menggeluti budidaya jamur kuping. Hasil upaya perbaikan pembuatan baglog oleh pabrik tempat menampung hasil panen jamur kuping miliknya menurut Gimbal telah kembali sesuai dengan standar. “Kita masih menargetkan dua kali pembelian baglog untuk melihat kualitasnya apakah sudah kembali normal. Kalau normal kita sudah memesan 70.000 baglog,” pungkasnya.
Selain dijual langsung kepada pabrik, jamur kuping hasil budidaya warga saat ini juga mulai dioleh menjadi keripik jamur kuping serta cendol dawet oleh warga sekitar. Jamur kuping dipercaya mempunyai kandungan antioksodan yang tinggi, sehingga memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasar. (adhima)







