PETISI.CO
Yeti Desi saat mengatur arus Lalu Lintas di check point Bundaran Waru
PERISTIWA

Tak Bisa Mudik, Begini Perasaan Hati Seorang Petugas di Check Point Bundaran Waru

SURABAYA, PETISI.CO – Idul Fitri dan mudik, ibarat kata telah menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Setiap tahunnya warga Indonesia menjalanankan tradisi berkumpul bersama keluarga di kampung halaman saat hari kemenangan datang.

Tetapi, hal tersebut tak ditemukan pada tahun ini, akibat dari adanya pandemi Covid-19 yang telah menjadi wabah dunia. Terlebih, setelah pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 25 Tahun 2020, tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idulfitri 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Kerinduan momentum mudik lebaran juga dirasakan oleh salah satu petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya yang berjaga di check point Bundaran Waru, bernama Yeti Desi.

Yeti mengungkapkan, pada saat lebaran tiba, ia bersama keluarga menjalankan tradisi mudik ke kampung halamannya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tetapi karena adanya pandemi Covid-19, memaksanya untuk tinggal di Kota Surabaya.

“Sedih mas gak bisa pulang kampung, tapi mau bagaimana lagi. Ini kan juga sudah peraturan pemerintah, jadi harus nurut,” ucapnya, saat ditemui di sela-sela kesibukannya mengatur lalu lintas di check point Bundaran Waru, Minggu (24/5/2020).

Meski tak bisa mudik pada tahun ini, ia telah melakukan silahturahmi dengan anggota keluarga di kampung halaman lewat sambungan video call.

“Tadi se sudah bisa video call sama keluarga disana (Ngawi). Ya mohon maaf kalau gak bisa mudik,” jelasnya.

Ketika ditanya tentang moment yang dirindukannya saat mudik, Yeti mengungkapkan, berkumpul bersama keluarga besarnya kemudian dilanjutkan dengan makan-makan adalah hal yang sangat ia nantikan.

“Kumpul sama keluarga habis itu makan bareng-bareng, yah itu kalau gak bisa mudik rasanya sedih gitu. Rasanya meski sudah lewat video call itu rasanya rindu pengen pulang juga,” ungkapnya.

Ibu satu anak ini juga menceritakan, kalau sang buah hati sudah menanyakan kapan ia bisa pulang ke rumah. Pasalnya, Yeti bersama para petugas yang lain telah berada di check point sejak pukul 06.00 hingga pukul 14.00 WIB.

“Anak saya satu, lagi di rumah. Barusan ini dia video call, tanya kapan saya pulang. Dia di rumah sama kakek neneknya,” tuturnya

Menurutnya, banyak warga yang sebenarnya sudah mengetahui aturan larang mudik tersebut, namun ia dan rekan-rekannya masih saja mendapati sejumlah warga yang belum taat pada ketetapan pemerintah.

Sehingga, ia berharap kepada seluruh petugas untuk tetap sabar dan tak lelah memberikan imbauan kepada para pengendara yang hendak memasuki Kota Surabaya.

“Petugas harus tetap sabar biar dirinya gak kepancing emosi, soalnya kalau sudah seperti itu,” imbuhnya.

Sebelum melanjutkan tugasnya kembali, Yeti menitipkan pesan untuk seluruh masyarakat, agar mentaati peraturan pemerintah sehingga penyebaran pandemi ini bisa usai. Karena dampak yang didapatkan dari pandemi ini sangat lah besar, terutama dari segi ekonomi dan sosial.

“Tolong bagi seluruh masyarakat, tolong hargailah para petugas dengan mentaati peraturan, Covid-19 ini pasti cepat berlalu. Kasihan juga yang di PHK, yang kehilangan pekerjaan,” tutupnya.(nan)

terkait

Pengamat : SBY Dicurigai Aktor Politik?

redaksi

Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Memberantas Sarang Jentik Nyamuk

redaksi

Polisi ‘Segudang Prestasi’ itu Duduki Jabatan Kapolres Gresik

redaksi