Sidoarjo, petisi.co – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo menyoroti masih tingginya angka penderita maupun jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) yang ada di Kota Delta, sehingga Kabupaten Sidoarjo naik peringkat, posisi dua di Jawa Timur. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat tahun 2024, kasus TBC di Sidoarjo mencapai 5.823, dengan temuan kasus sebanyak 6.280 atau melampaui target sebesar 108%. Dari jumlah tersebut, 5.657 kasus berhasil diobati, yang berarti 97% dari target pengobatan.
“Kami prihatin karena ternyata Sidoarjo kembali mendapat handicap yang kurang baik terkait penanganan TBC. Padahal di tahun sebelumnya di 2022, Sidoarjo masih berada di peringkat tiga setelah Surabaya dan Jember,” kata Ketua DPRD Sidoarjo, H. Abdillah Nasih, usai membuka acara tasyakuran penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional di Kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Sidoarjo, Kamis Malam (13/11/2025).

Nasih menambahkan, data tahun 2022, angka notifikasi kasus TBC di Sidoarjo mencapai 3.287 kasus. Sedangkan Jember peringkat dua, sebanyak 4.250 kasus dan Surabaya peringkat satu ada 11.208 kasus. Namun di tahun 2024, Sidoarjo terjadi penambahan kasus sehingga naik posisi di peringkat dua menjadi 5.823 kasus. Sedangkan Jember turun posisi di angka 4.419 kasus dan Surabaya bertahan di peringkat satu dengan 16.127 kasus.
Menurut politisi Senior PKB yang akrab dengan panggilan Cak Nasih ini, TBC merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi permasalahan kesehatan dengan jumlah kematian terbanyak pada kelompok penyakit menular yang menempati peringkat kedua setelah Covid-19. Karenanya, butuh penanganan serius dari seluruh pihak, utamanya Dinkes Sidoarjo sebagai garda terdepan dari pemerintah daerah.

“Penyakit TBC tetap menjadi salah satu penyakit menular dan mematikan di dunia. Kasus tersebut juga menjadi bayangan kelam untuk Kabupaten Sidoarjo dimana dalam kurun lima tahun terakhir angka penambahan kasusnya terjadi fluktuatif. Ini tidak bisa dipungkiri bahwa Sidoarjo menjadi salah satu wilayah Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Timur dengan penyumbang kasus TBC termasuk tinggi. Karena itu, jangan dianggap remeh penanganannya,” terang Cak Nasih.
Oleh karenanya, ia kembali mengingatkan agar pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersungguh-sungguh dalam menekan laju penularan maupun meningkatkan angka penyembuhan penderita TBC. Dirinya merasa was-was jika tahun 2025, dengan jumlah kasus sebanyak 4.669 dan Dinkes Sidoarjo tidak selesai menuntaskan bagi yang sakit, bukan mustahil terjadi ledakan jumlah penderita yang lebih besar di tahun 2026.

“Meski Dinkes Sidoarjo mengklaim data di tahun 2025 ada penurunan dibanding sebelumnya. TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Sidoarjo. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Setiap tahun, di Indonesia, dari sekitar satu juta kasus baru, tercatat 136 ribu jiwa meninggal dunia. Jangan sampai ini menjadi fenomena gunung es. Sehingga terjadi ledakan atau lonjakan yang tidak terkendali di Sidoarjo pada tahun 2026. Baik jumlah kasus, maupun penderita dan angka kematiannya,” tegas Cak Nasih mewanti-wanti.
Legislator dari Dapil Sidoarjo 6 (Kecamatan Waru dan Gedangan) ini mendorong ada upaya kerjasama multi sektoral dari Dinkes Sidoarjo agar terjadi penurunan jumlah penderita TBC. Selain itu juga perlu dilakukan upaya pendekatan epidemiologi yakni data orang di lingkungan penderita, tempat, dan waktu. Identifikasi data sekunder seperti Profil Kesehatan wilayah setempat dan data pendukung lainnya, meliputi jenis kelamin, tempat berdasarkan wilayah kecamatan, kepadatan penduduk, dan waktu diharapkan bisa bisa menjadi andil dalam upaya pencegahan penularan.

“Tidak cukup lintas sektor, namun sebaiknya harus multi sektoral. Semua dilibatkan kerjasama, dikoordinasikan Dinkes Sidoarjo sebagai Top Leadernya. Semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) mulai dari Dinas Perkim (Perumahan dan Permukiman) untuk memetakan wilayah yang kurang sehat, lalu DLHK (Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan) bagian penanganan sampah apakah masih ada yang tercecer, libatkan juga DP3AKB (Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana) bagian pemberantasan anak stunting, sebab jika kurang gizi mudah tertular TBC, dan lain sebagainya. Semua libatkan,” pesan Cak Nasih.
Upaya pencegahan penularan dan pengobatan penyembuhan harus berjalan beriringan. Sehingga harapan mengeliminasi TBC bisa tercapai. Menurutnya, kunci utama pengendalian TBC adalah pemeriksaan dini melalui skrining. Selain itu, strategi berupa koordinasi multi Sektoral melibatkan berbagai instansi pemerintah, organisasi sosial, institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga sektor industri untuk bersama-sama merancang langkah kolaboratif.

“TBC dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak, manula (manusia usia lanjut) maupun orang dewasa, tanpa memandang usia. Dalam pemberantasan TBC yang masih menjadi salah satu tantangan adalah keterbukaan masyarakat. Kesadaran untuk memeriksakan diri jika merasakan gejala TBC. Selain itu, mulai membudayakan hidup sehat, seperti rumah dilengkapi jendela dan jamban yang bersih,” urainya.
Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC PKB Sidoarjo ini, juga mengimbau kepada masyarakat untuk segera periksa ke fasilitas kesehatan (faskes) seperti puskesmas terdekat apabila merasakan gejala TBC. Ciri terserang penyakit TBC pada umumnya seperti batuk selama lebih dari dua minggu, penurunan berat badan secara drastis, atau sering berkeringat saat malam hari. Upaya deteksi dini melalui skrining dan pengobatan rutin menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan TBC terutama untuk keluarga rentan.
“Tujuannya adalah menggalakkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi TBC. Mulai dari periksa jika merasakan gejala, membiasakan buka jendela rumah di pagi hati biar ada sirkulasi udara dan cahaya. Manfaat lainnya rumah agar tidak lembab. Lalu olah raga pagi atau gerak badan beberapa menit dibawah terik matahari agar mendapatkan vitamin D,” tekannya.
Wakil rakyat yang dikenal ramah dan murah senyum ini menyampaikan bagi penderita yang dinyatakan positif TBC, tidak perlu berkecil hati, malu dan takut. Karena penyakit TBC bisa disembuhkan dan bukanlah aib. Asalkan disiplin rajin minum obat teratur sesuai takaran dan anjuran dokter, dijamin sembuh total. Terkait obat, penderita tidak usah kuatir karena sudah disediakan secara gratis oleh pemerintah.
“Sosialisasi secara terus menerus oleh Dinkes Sidoarjo wajib dilakukan. Bila perlu menghadirkan testimoni dari penderita TBC yang sudah sembuh total. Melalui upaya edukasi ini, saya yakin orang akan paham dan tidak takut melapor jika dirinya sakit TBC. Karena obatnya sudah tersedia dan dijamin pengobatan hingga benar-benar sembuh. Selanjutnya yang bersangkutan membiasakan memakai masker untuk menjaga kesehatan bersama,” ujar Cak Nasih.
Hal lain, menurutnya yang tidak kalah penting, peran kader TB Warrior sebagai ujung tombak dari unit terkecil penanganan TBC di pelosok kampung diharapkan bisa diaktifkan kembali. “Seingat saya, dulu sudah ada kader TB Warrior yang memang khusus penanganan TBC di desa-desa. Jumlahnya kalau tidak salah ada 39 kader tersebar di 18 Kecamatan dan 27 Puskesmas di Kabupaten Sidoarjo. Peran mereka ini sangatlah besar,” tuturnya.
Usulan Cak Nasih untuk kembali mengaktifkan kader TB Warrior bukan tanpa alasan. Menurutnya yang menjadi dasar pertimbangan salah satunya yakni Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah industri dengan total 961 perusahaan.
“Dari jumlah tersebut ada sebanyak 664 perusahaan industri besar dan 297 perusahaan industri kecil Hal ini tentunya banyak pegawai selain masyarakat asli Sidoarjo juga warga pendatang luar kota yang kos di sini. Inilah yang kemudian menjadi indeks kasus TBC bisa menyebar jika tidak dilakukan mapping dan pendataan. Otomatis akan lebih susah untuk melacaknya karena sering berpindah-pindah tempat tinggalnya mereka,” ulas Cak Nasih.
Disinggung target Pemkab Sidoarjo bebas TBC pada 2030, Cak Nasih mengkritik agar tidak muluk-muluk. Ia berpendapat proses penanggulangan TBC jauh lebih penting daripada memasang target. Menurutnya jika proses pencegahan penularan dan pengobatan penderita tercapai, otomatis tidak sampai tahun 2030 sudah tercapai Sidoarjo bebas TBC.
“Boleh saja mencanangkan target penuntasan TBC tahun 2030 melalui Kampanye Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) yang digaungkan pada Minggu (9 November 2025) di Alun-Alun Sidoarjo. Namun jauh yang terpenting adalah proses penanganan, semua pihak dilibatkan. Tidak hanya dari unsur nakes yang ada di Puskesmas se-Kabupaten Sidoarjo. Namun seluruh perangkat daerah dan masyarakat turut bersama-sama menuntaskan penyakit ini. Bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat sehingga lebih proaktif dalam mendeteksi dan mengobati TBC. Jika ini dilaksanakan dengan baik, saya yakin tidak sampai 2030, Sidoarjo sudah terbebas dari TBC,” tutup Cak Nasih. (luk/adv)






