Ulet Menabung 20 tahun, Pedagang Bunga Tabur Makam di Sidoarjo Berangkat Haji

oleh
oleh
Siti Robingati penjual bunga nyekar asal Sidoarjo menunjukan visa dan kelengkapan dokumen Haji 2025

Sidoarjo, petisi.co – Kisah Inspiratif Calon Haji datang dari seorang penjual bunga ziarah kubur atau tabur makam asal Desa Boro, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Pasca suami mengalami kecelakaan fatal hingga menderita gangguan motorik, Siti Robingati (61) terpaksa mengambil alih nahkoda rumah tangga demi menghidupi ketiga anak mereka.

“Suami sudah lama tidak bekerja karena sakit, akibat kecelakaan. Sehingga seluruh tanggungjawab rumah tangga termasuk kebutuhan ekonomi, saya yang jalankan. Alhamdulillah, semua lancar. Termasuk keinginan saya berangkat haji terkabul, melalui menabung,” ungkap Siti Robingati saat ditemui di rumahnya, Selasa (27/5/2025).

Membaca Al-quran selalu disempatkan Siti Robingati calon Haji asal Sidoarjo disela-sela berjualan bunga nyekar

Wanita kelahiran Madiun, 4 Juli 1964 ini menceritakan perjalanan panjang dalam mewujudkan impian menunaikan rukun Islam ke-5, bermula dari hijrah pekerjaan. Semula ia dan suami merupakan pedagang gerabah keliling, lalu dirinya memutuskan berjualan bunga ziarah kubur pasca suami mengalami kecelakaan berat.

“Sejak usia 20 tahun saya sudah jualan aneka kebutuhan rumah tangga, jalan kaki keliling dari kampung ke desa-desa. Ada sapu, gayung mandi, penebah dan barang plastik lainnya. Kalau bapaknya (suami) waktu itu, keliling jualan pakai sepeda ontel. Hingga suatu ketika bapaknya mengalami kecelakaan yang menyebabkan fungsi otak dan geraknya terganggu. Saat itulah di tahun 2005, saya memutuskan berjualan bunga untuk nyekar demi membagi waktu merawat bapaknya anak-anak,” ulasnya.

Usaha berjualan bunga tabur makam itu, dilakoninya dengan penuh kesabaran dan keuletan. Setiap hari, usai sholat subuh ia berangkat ke pasar Ngaban. Sebelumnya kulakan lebih dulu ke agen penjual motor keliling untuk kemudian dijual kembali ke pasar dan makam.

“Setelah subuhan, saya berangkat ke pasar Ngaban. Tapi mampir dulu kulakan bunga nyekar ke agen. Jual di pasar setiap hari kecuali Jumat pagi. Kalau di makam Kludan, saya jualannya kamis abis ashar sampai jam 5 sore dan Jumat pagi jualannya dari setelah subuh hingga jam 7,” rinci Robingati panggilan akrab nenek 2 cucu ini.

Bicara penghasilan dari menjual bunga tabur makam, ia terlihat beberapa kali menghela nafas. Jika nasib baik, dagangan habis, Robingati mengaku bisa membawa pulang uang rata-rata Rp. 100.000 per hari. Namun jika sepi pembeli, ia terkadang harus menanggung rugi lantaran barang dagangan cepat busuk dan akhirnya terbuang ke tempat sampah.

“Bisa balik modal saja sudah Alhamdulillah. Kalau laris kadang bisa untung bersih Rp. 50.000 sampai Rp. 75.000. Namun jika tidak laku, ya bunganya busuk, akhirnya tidak bisa dijual lagi dan terpaksa dibuang. Ruginya lumayan banyak. Terutama kalau musim hujan begini, yang beli bunga buat nyekar sedikit,” tuturnya,

Meski begitu, ia tetap menyisihkan hasil berdagang untuk tabungan haji. Selanjutnya jika seminggu tabungan itu sudah terkumpul cukup banyak, langsung disetorkan ke bank keliling. Robingati bersyukur walau penghasilannya kecil, tapi ia masih mampu menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mewujudkan panggilan hati ke tanah suci.

“Saya nabung haji sebisanya. Tiap hari kadang nabung Rp. 5.000 atau Rp. 10.000 semampunya. Jika tidak ada ya sementara tidak nabung. Seminggu dari hasil nabung, kadang bisa terkumpul Rp. 50.000 atau Rp. 70.000, lalu uangnya diambil oleh petugas bank keliling yang datang ke pasar. Saya bersyukur, karena tidak semua orang bisa brangkat haji,” kata dia.

Setelah penantian 20 tahun lamanya, impian Siti Robingati untuk bisa menginjakkan kaki ke Mekkah Arab Saudi benar-benar terwujud. Ia dijadwalkan berangkat ke Embarkasi Asrama Haji Sukolilo Surabaya bersama rombongan jemaah kloter 93 asal Sidoarjo, pada Rabu, 28 Mei 2025. Selanjutnya keesokan hari yakni kamis, 29 Mei 2025, ia dipastikan terbang ke Madinah Arab Saudi.

“Saya daftar haji tahun 2012, namun nabung untuk bisa berangkat haji sudah dimulai dari tahun 2005 itu. Jadi kurang lebih 20 tahun nabung dan Alhamdulillah tahun 2025 bisa memenuhi panggilan Allah. Semoga ikhtiar saya menabung untuk naik haji bisa diikuti jejaknya oleh pedagang lainnya,” pesan Robingati seraya menunjukan visa dan koper serta tas haji miliknya. (luk)

No More Posts Available.

No more pages to load.