Gresik, petisi.co – Menyambut datangnya satu Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, warga RT 05 RW 08, Perumahan Taman Siwalan Indah (TSI), Ds Kepatihan, Kec. Menganti Gresik, menggelar acara do’a bersama dan tasyakuran secara sederhana, Kamis (26/6/2025) di Balai RT pukul 19.30 WIB.
Acara tersebut merupakan bentuk rasa syukur warga atas nikmat dan karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan mereka.
Ketua RT 05 RW 08 TSI, Sunarno, menyampaikan, bahwa kegiatan ini tidak hanya untuk menyambut satu Suro dan tahun baru Islam, tetapi juga sebagai bentuk dan wujud kekompakan antar warga.
“Acara ini kita laksanakan dengan rasa kekeluargaan dan kekompakan. Dalam kegiatan ini seluruh warga terlibat, mulai dari menyiapkan tempat hingga sajian tumpeng dan ayam panggangnya (ingkung), dan semua ini adalah hasil swadaya,” ujarnya.
Menurut Sunarno, kegiatan semacam ini sangat penting di tengah kesibukan masing-masing warga, momen kebersamaan seperti ini jarang terjadi. Sekaligus bertujuan untuk mengenang para leluhur dan sebagai ajang silaturahmi antar warga agar bertambah rukun dan kompak.
“Karena sebaik baiknya orang itu adalah orang yang berguna dan bermanfaat untuk orang lain,” ujar pria asal Jawa Tengah ini.
Sementara, warga setempat yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan, jika selamatan malam satu Suro itu juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah diterima.
“Sebagai orang Jawa, kita memaknai malam satu Suro dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Syukuran ini dilakukan agar kita selalu diberi keselamatan dan berkah. Tidak perlu ritual yang mistis, cukup dengan makan bersama dan penuh rasa syukur dalam kebersamaan,” ujar warga.
Warga berharap tradisi seperti ini dapat dilestarikan sebagai bentuk dan wujud kebersamaan serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.
Malam satu Suro sendiri merupakan hari pertama dalam penanggalan Jawa, yang kerap dimaknai sebagai momen sakral oleh sebagian masyarakat. Berbagai tradisi seperti doa bersama, selamatan, hingga ritual spiritual sering dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan kearifan lokal. (bah)







