Waspadai Game Online, Pemkot dan Densus 88 Edukasi Internet Sehat

oleh -130 Dilihat
oleh
Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Ida Widayati

Surabaya, petisi.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggandeng Densus 88 Antiteror Polri dalam memperkuat langkah pencegahan masuknya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kalangan anak-anak.

Kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi antisipatif menghadapi infiltrasi ideologi ekstrem yang kini semakin banyak menyasar generasi muda melalui ruang digital dan permainan daring (game online).

Langkah Pemkot Surabaya ini menindaklanjuti peringatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mengungkap adanya upaya kelompok teror menyusup ke ruang digital anak-anak.

BNPT mencatat sedikitnya 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia telah terhubung melalui permainan daring yang digunakan sebagai pintu masuk perekrutan simpatisan teroris.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Ida Widayati, menegaskan bahwa radikalisme merupakan bentuk kekerasan psikis yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak.

“Ini adalah salah satu bentuk kekerasan psikis. Karena terornya tidak terlihat, tapi bisa mengubah karakter anak tanpa disadari,” ujar Ida, Jumat (10/10/2025).

Ida menjelaskan, kerja sama dengan Densus 88 menjadi momentum penting untuk memperluas edukasi digital safety dan literasi kebangsaan bagi guru, siswa, dan orang tua.

“Sebenarnya upaya pencegahan berinternet sehat sudah lama kita lakukan. Tapi dari kolaborasi ini kita mendapat materi baru yang lebih kontekstual untuk anak-anak,” jelasnya.

Melalui kolaborasi lintas perangkat daerah (PD), seperti Dinas Pendidikan (Dispendik), Pemkot Surabaya memastikan edukasi tidak hanya diberikan kepada siswa, tetapi juga orang tua, agar memahami cara berkomunikasi dan mengawasi aktivitas digital anak.

“Banyak orang tua merasa anaknya aman karena diam di kamar, padahal bisa saja sedang berinteraksi dengan konten berbahaya. Itu yang harus diwaspadai,” tegas Ida.

Untuk memperkuat ketahanan sosial dan moral masyarakat, Pemkot Surabaya juga mengoptimalkan peran Kampung Pancasila sebagai ruang edukasi masyarakat di bidang sosial budaya dan kemasyarakatan.

“Kami akan memasukkan materi pencegahan radikalisme dalam pilar sosial budaya Kampung Pancasila, agar masyarakat memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat,” ujar Ida.

Selain lembaga formal, Pemkot juga melibatkan berbagai komunitas anak dan pelajar, seperti Organisasi Pelajar Surabaya (Orpes), Forum Anak Surabaya (FAS), dan Duta Generasi Berencana (Genre) untuk menyebarkan kampanye anti-radikalisme dan anti-kekerasan.

“Anak-anak FAS ini kami latih agar bisa berbicara di balai RW dan menyampaikan pesan pencegahan dari anak untuk anak. Responnya luar biasa positif,” ungkapnya.

Ida menambahkan, kolaborasi dengan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) juga terbukti efektif untuk menanamkan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air di kalangan pelajar.

“Kami bergerak dari anak ke anak. Adik-adik Paskib juga ikut memberikan edukasi kebangsaan kepada teman-temannya,” paparnya.

Meski berbagai program telah berjalan, Ida kembali menegaskan bahwa peran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam melindungi anak dari paparan ideologi ekstrem di dunia maya.

“Peran orang tua untuk masuk ke dunia anak-anak sangat penting. Dunia digital mereka luas, dan tidak semuanya baik,” pungkasnya. (dvd)

No More Posts Available.

No more pages to load.