Diplomasi Pantun Pak Dubes J.E. Habibie

oleh -329 Dilihat
oleh
Tudi saat di Kinderdijk Belanda. Hubungan dan kerjasama bilateral Indonesia- Belanda terus menguat.

BAGIAN II

Satu hal yang jarang dimiliki oleh diplomat kebanyakan adalah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa pantun. Suasana yang seharusnya kaku dan formal menjadi cair dan akrab.

Bagaimana membangun komunikasi dengan bahasa sastra seperti pujangga jaman dahulu, tentu merupakan seni tersendiri.

Seni komunikasi ini memerlukan modal kepribadian yang kuat, ketulusan mengenai persahabatan dan persaudaraan dan tentu penguasaan mengenai sastra itu sendiri.

Bahasa diplomasi santun Pak J.E. Habibie sangatlah indah dan bermakna. Diplomasi pantun yang diungkapkan dengan prinsip, keyakinan dan ketulusan, ternyata ampuh dan berhasil meluluhkan kekerasan hati salah seorang tokoh OPM yaitu Nicolas Jouwe, salah satu pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tinggal di Belanda selama 40 tahun. Dia tidak mau ke Indonesia ataupun menemui pejabat Indonesia.

Waktu itu, tahun 2009, Dubes J.E. Habibie mengadakan pertemuan dengan  Nicolas Jouwe di KBRI Den Haag.

Nikolas Jouwe menegaskan sikap dan posisinya.

“Saya orang Papua berjuang sampai sekarang untuk kemerdekaan Papua.”

Perkataan itu dibalas dengan indah penuh kekeluargaan, namun kuat dalam prinsip mengenai NKRI.

“Saya nasionalis NKRI. Saya mau Papua bukan jadi tetangga saya, tapi keluarga saya.”

Nikolas menyampaikan, posisinya yang berseberangan dengan Dubes J.E. Habibie :

“Angin timur gelombang barat, kapal angkasa warna merpati. Bapak di timur beta di barat, apakah rasanya di dalam hati.”

Dubes Habibie berusaha merangkul dia, dengan mengatakan, “Laju-laju perahu laju, laju-laju ke Surabaya. Biar lupa kain dan baju, orang tua jangan lupa pada saya.”

Nicolas selanjutnya membalas pantun, “Naik-naik ke batu gajah, rasa haus makan kwini. Beta rasa sengaja saja, siapa tahu kok jadi begini.”

“Potong di kuku rasa di daging. Ale rasa beta rasa. Ketemu tua bersaudara satu sama lain,” ucap Nicolas  J.E. Habibie pun membalas, “Riang-riang ke Bangka hulu, ramah-ramah si batang padi. Diam-diam sabar dahulu, lama-lama toh akan jadi.”

Nicolas akhirnya hatinya lunak dan mengatakan,  “Ayam putih mari kurantai, kasih makan ampas kelapa. Budi Bapak Dubes sudah sampai, beta mau balas dengan apa.”

Hubungan dan kerjasama bilateral Indonesia- Belanda terus menguat. Belanda memasukkan Indonesia dalam prioritas kebijakan pembangunan.

Saat itu kebijakan pembangunan Belanda diarahkan ke negara-negara berkembang, khususnya negara-negara Afrika. Kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi pun meningkat.(bersambung)

No More Posts Available.

No more pages to load.