Surabaya, petisi.co – Isro’ Mi’roj adalah kisah yang seolah datang dari dunia yang jauh, tidak terjangkau oleh pikiran dan akal orang-orang pada umumnya. Logislah jika tentang peristiwa ini ada orang yang menerimanya dengan iman, sementara di sisi lain, banyak pula yang skeptis, bertanya-tanya apakah itu sekadar mimpi, atau mungkin dibesar-besarkan. Tetapi, jika kita tengok lebih dalam, kita akan menyadari bahwa Isro’ Mi’roj bukan sekadar cerita. Ia adalah perjalanan spiritual dan fisik yang mengandung makna jauh lebih besar dari sekadar peristiwa ajaib belaka.
Artikel ini sengaja saya buat untuk menjawab pertanyaan seorang kawan yang meminta saya menguraikan jawabannya secara ilmiah, logis dan mencerahkan. Pertanyaanya begini: “Dulu dan sampai sekarang orang kafir masih menganggap peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad hanyalah mimpi yang dipercaya dan dibesar-besarkan. Bagaimana kita menjawabnya? Kita memang tetap percaya, tapi mereka (kafir) mengolok-oloknya. Mohon pencerahannya.”.
Mimpi atau Perjalanan Nyata?
Izinkan saya menjawab pertanyaan tersebut melaui tulisan sederhana ini. Mari kita mulai dengan ayat dalam Surah Al-Isra’ (17:1) yang menjelaskan peristiwa ini: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang Kami berkahi sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Di sini, Allah menyatakan bahwa Isro’ Mi’roj adalah perjalanan yang nyata, bukan sekadar mimpi atau hal yang dibesar-besarkan. Rasulullah SAW benar-benar melakukan perjalanan fisik, bergerak dari Mekkah menuju Yerusalem, lalu melanjutkan perjalanan naik ke langit. Jelas sekali, ini bukan mimpi atau khayalan. Namun, bagi sebagian orang yang tidak percaya, peristiwa ini terasa mustahil. Ada yang meragukan kemampuannya, bahkan menyebutnya sebagai kebohongan atau hanya cerita belaka.
Tapi, bukankah kita sudah sering mendengar bahwa banyak hal yang dulu dianggap mustahil kini menjadi kenyataan? Seperti ketika manusia pertama kali berhasil mendarat di bulan, atau ketika teknologi memungkinkan kita untuk berbicara dengan orang lain di belahan dunia yang jauh. Ini adalah contoh dari bagaimana ilmu pengetahuan bisa membuka cakrawala baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Ilmu Fisika: Waktu yang Relatif
Di zaman sekarang, kita memiliki fisika modern yang mengajarkan kita bahwa waktu dan ruang itu relatif. Dalam teori relativitas yang dicetuskan oleh Albert Einstein, kita tahu bahwa waktu bisa berbeda tergantung pada posisi dan kecepatan objek. Semakin cepat sebuah benda bergerak atau semakin kuat gravitasi di sekitarnya, waktu akan berjalan lebih lambat.
Ini membuka kemungkinan bahwa perjalanan seperti Isro’ Mi’roj, dengan jarak yang begitu jauh dalam waktu yang sangat singkat, bukanlah hal yang mustahil jika kita menganggap dimensi ruang dan waktu itu tidaklah statis. Mungkin, di luar pemahaman kita, perjalanan semacam itu bisa terjadi.
Meskipun kita tidak bisa membuktikan teori ini dengan data konkret, tetapi bukankah ini memberi kita gambaran bahwa apa yang kita anggap mustahil bisa jadi masih jauh di luar batas pengetahuan kita? Bukankah pengetahuan kita tentang dunia ini masih sangat terbatas?
Mukjizat: Bukti Kekuasaan Allah
Mari kita bicara tentang mukjizat. Mukjizat adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat kita, sesuatu yang melampaui kemampuan manusia biasa. Kita sering mendengar tentang kisah-kisah mukjizat dari nabi-nabi sebelumnya: Nabi Musa yang membelah Laut Merah. Nabi Isa yang menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati
Dan begitu juga dengan Isro’ Mi’roj. Ini adalah mukjizat yang diberikan kepada Rasulullah SAW untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Bukan hanya perjalanan fisik yang mengagumkan, tetapi juga spiritualitas yang mendalam. Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu, yang kemudian menjadi tiang agama Islam. Sholat adalah jembatan langsung yang menghubungkan kita dengan Allah, dan itu adalah inti dari ajaran Islam.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Bagi para sahabat yang mendengar kisah ini langsung dari Rasulullah SAW, mereka tidak meragukan kebenarannya. Mereka sudah meyakini bahwa Rasulullah adalah utusan Allah. Bagi mereka, itu bukan sesuatu yang aneh, karena mereka sudah mengenal keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW sebelumnya. Isro’ Mi’roj adalah bagian dari proses pembuktian kebenaran wahyu yang diterima oleh Rasulullah. Iman mereka membimbing mereka untuk percaya tanpa ragu.
Namun bagi mereka yang skeptis, bagi yang mendewakan logika dan akal sehat, tentu ini bukan hal yang mudah diterima. Tetapi kita harus ingat, banyak hal yang dulu dianggap mustahil kini menjadi kenyataan. Siapa yang pernah berpikir bahwa manusia bisa pergi ke bulan, atau teknologi bisa menghubungkan kita dengan siapa pun, kapan pun, melalui internet? Ilmu pengetahuan terus berkembang, dan banyak hal yang kita anggap tidak mungkin dulu, kini sudah menjadi kenyataan.
Keraguan: Menghadapi Pembatasan Akal
Keraguan terhadap Isro’ Mi’roj sering kali datang dari mereka yang belum siap menerima bahwa ada hal-hal yang di luar pengetahuan manusia. Seperti halnya kita meyakini hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal, seperti kehidupan setelah mati, keberadaan malaikat, dan takdir yang sudah digariskan. Apakah kita akan mengingkari itu semua hanya karena kita tidak bisa memahaminya dengan logika kita?
Yang lebih penting adalah bagaimana kita menerima bahwa ada kebenaran yang lebih besar dari apa yang bisa dijangkau oleh logika manusia. Kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa, dan semua yang terjadi di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya, yang bisa saja berada di luar batas pemahaman kita.
Penutup dan Kesimpulan
Isro’ Mi’roj bukan hanya sekadar cerita ajaib. Ia adalah pembuktian tentang kebesaran Allah, tentang mukjizat yang tak terjangkau oleh akal manusia, dan tentang iman yang menghubungkan kita dengan-Nya. Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW tidak hanya melintasi ruang dan waktu, tetapi juga melintasi batas-batas spiritualitas yang mengajarkan kita tentang sholat dan kewajiban sebagai hamba Allah.
Bagi mereka yang skeptis, kita tidak perlu memaksakan keyakinan. Tetapi kita bisa membuka ruang untuk memahami bahwa kehidupan ini tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika manusia. Ada hal-hal yang hanya bisa diterima dengan iman. Dan Isro’ Mi’roj adalah salah satunya. Semoga kita semua dapat menghayati makna dalam perjalanan itu, dan terus memperkuat iman kita kepada Allah, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. (*)
*penulis adalah: Ulul Albab, Ketua ICMI Orwil Jawa Timur







