Kedua Anak Penjual Kacang Itu Akhirnya Bisa ‘Terbang’

oleh -215 Dilihat
oleh
Tudi dan Mas Geng, dua anak penjual kacang di Kelud Malang yang masa kecilnya suka main layang-layang, sekarang sudah berhasil meraih mimpinya, bisa ‘terbang’.

BAGIAN VII

Nicky Putera Pradana, anak pertama Tudi sebelumnya sekolah di SD Nasa Pondok Gede. Dengan mutasi tugas orang tuanya, Nicky harus  ’berdarah-darah’ istilahnya, untuk menyesuaikan diri dengan sekolah di negara akreditasi. Sangat berat!

Dia yang sekolahnya berbahasa Indonesia harus dapat mengikuti pendidikan yang berbahasa Inggris di Internastional School. Untungnya, nilai bahasa Inggrisnya bagus. Jadi dia lulus dan diterima.

Sekitar 3 bulanan, Tudi menemui guru Nicky yang meminta dia ke sekolah. Guru itu mengeluh,  “Your son, Nicky. His school’s report mentioned he was very good in English. But, in fact he can not understand what we are saying. He just keep on bussy playing with his friends. He can not follow the lesson in the class,” katanya.

Marah juga Tudi anaknya direndahkan. Dia katakana, “Indonesia is not an English  speaking country.  Here is English speaking environment.  The standard of English course different. More over you can not just expect the good result only based on the good inputs. It is your responsibility to make whatever inputs to become good results. But, okay, I will  do my best at home to teach Nicky and you do your best at school,” kata Tudi.

Sejak itu Tudi  menggembleng Nicky. Setiap hari Nicky diwajibkan membaca bacaan Inggris 3 halaman dan dibunyikan.

Selanjutnya, latihan menceritakan yang dibacanya. Setelah 2 minggu target bacanya ditingkatkan menjadi 5 halaman. Setelah 1 bulan ditingkatkan 10 dan selanjutnya 12 halaman tiap hari.

Sekitar 6 bulan kemudian, gurunya memanggil Tudi dan banyak memuji-muji Nicky yang menunjukkan kemampuan belajar yang excellent.

Di-strap Isteri di Bratislava

Saat Mas Geng tugas di Bratislava waktunya hampir bersamaan dengan Tudi di Wina. Jarak kedua Perwakikan  itu hanya 57 km. Mereka saling kunjung hampir seminggu sekali.

Kedua kakak beradik itu memang ‘kosro’ atau ndableg, istilah Jawa-nya. Suatu waktu di musim dingin,  di Bratislava, mereka hendak ke luar keliling kota mencari hiburan malam yang banyak di kota Eropa Timur itu seperti cafe- cafe atau musik. Mereka menunggu isteri-isteri tidur.

Jam 11.00, setelah  kedua isteri mereka nampak tertidur pulas di ruang tamu, Mas Geng dan Tudi berjalan berjinjit-jinjit, pelan-pelan.

Dibukanya pintu, terus ditutup pelan. Klik. Mereka pun keluar berkendara keliling kota dan tempat-tempat hiburan.

Pulang jam 02.30-an. Tapi keduanya mendapati pintu rumahnya terkunci, dikunci dari dalam oleh isteri-isteri mereka.

Jiangkriiiik, mereka terpaksa tidur di mobil, di-strap isteri-isteri, ha ha ha.

Tudi bersama Menlu RI Ibu Retno Marsudi di Johannesburg saat Kunjungan Presiden Jokowi Agustus 2023

Tugas Sebagai Diplomat di Wina

Di KBRI/PTRI Wina, Tudi ditugaskan di bagian ekonomi untuk kerjasama bilateral RI-Austria dan RI-Slovenia dan UNIDO untuk multilateralnya.

UNIDO atau United Nations Industrial Development Organization merupakan organisasi PBB yang menangani pembangunan industri negara-negara berkembang.

Kebijakan-kebijakan substantif organisasi ini seperti arah kebijakan pemberian bantuan atau kerjasama teknis ditentukan oleh negara-negara anggota dalam sidang Industrial Development Board yang selanjutnya disahkan dalam General Conference.

General Conference adalah organ tertinggi dan bersidang setiap dua tahun sekali. Organ ini memutuskan prinsip-prinsip dan arah kebijakan organisasi setiap dua tahun sekali. Selain itu organ ini menyetujui anggaran dan program organisasi. GC juga mengangkat Dirjen UNIDO pimpinan eksekutif tertinggi setiap empat tahun sekali.

Dipilih dari sekian juta orang sebagai diplomat adalah suatu kehormatan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Tekad dia dalam hati. Awal mengikuti sidang masa itu, hatinya berontak. Nama Indonesia jarang disebut. Wakil Indonesia ada tapi seperti tidak ada. Entah karena apa, mungkin UNIDO kurang proritas masa itu.

Dia mulai ikut sidang, mencerna isu, mempelajari berbagai dokumen, mempersiapkan posisi terkait dengan isu-isu yang akan dibahas.

Mas Geng Memulai Tugas baru di Darwin 2023 Sebagai Konsul Ekonomi bergelar Minister Counsellor

Sesekali dalam sidang mengenai isu-isu yang tidak terlalu sensitif, dia melakukan intervensi, memberikan pandangan dan masukan. Dia mulai aktif dan alhamdulillah nama Indonesia mulai muncul dan diperhitungkan oleh ketua sidang dan delegasi lain.

Sekitar 6 bulanan, Kepala Bidang Ekonomi berganti pejabat baru, yaitu Pak Budi Bowoleksono yang biasa dipanggil Pak Sonny. Beliau canggih dalam diplomasi, luas networking-nya, sangat supel, dan ini yang jarang dimiliki diplomat lainnya, jago masak dan efektif memperkuat persahabatan melalui kuliner yang dimasak dan disiapkan sendiri.

Isterinya, Bu Reshanti juga sangat supel dan dekat dengan keluarga Tudi.

Pak Sonny setuju dan mendukung full Tudi aktif di UNIDO. Beliau membantu mereviu konsep intervensi yang akan disampaikan Tudi dalam sidang-sidang terkait UNIDO.

“UNIDO ini isunya tidak terlalu sensitif. Kesempatan yang baik untuk latihan,” kata Pak Sonny.

Keaktifan di UNIDO juga diikuti dengan hubungan persahabatan yang erat, terutama Kelompok Asia, G77 dan Sekretariat UNIDO. Sekitar dua tahunan aktif dalam sidang-sidang Task Force kelompok Asia, Tudi terpilih sebagai Ketua Task Force Kelompok Asia pada 2003 sampai berakhirnya penempatan yakni 2004.

Peran dan kedekatan informal dengan delegasi lainnya, menjadikan posisi Indonesia lebih kuat dan berpengaruh dalam di kelompok Asia. Beberapa isu yang utama adalah pencalonan dalam keanggotaan di organ PBC atau Programme and Budget Committee dan IDB. Negara-negara Asia berhasil mencapai cleanslate dan Indonesia berhasil duduk dalam kedua organ UNIDO itu.

Selain itu, Indonesia berhasil memperoleh proyek Country Service Framework for Indonesia yang menjadi payung proyek pembangunan Industri Indonesia dan memasukkan konsep tripillar yakni sinergitas pemerintah, pebisnis dan akademisi dalam resolusi UNIDO.

Banyak negara maju  menjadi pionir  isu-isu seperti HAM, demokrasi, rule of law,  dan seringkali memasukkannya sebagai kondisionalitas dalam kerjasama pembangunan atau kerjasama teknis.

Mas Geng dan Tudi bersama istri, saat di Seoul.

Dengan bergulirnya waktu, nampak jelas posisi atau pandangan itu tidak genuine. Saat ini rakyat Palestina mengalami pembantaian yang sangat keji. Lebih dari 38.000 orang mati yang kebanyakan anak-anak dan wanita warga sipil sejak 7 Oktober 2023. Dimanakah para pionir HAM itu?

Keputusan International Court of Justice menyatakan sejumlah pemimpin Israel penjahat perang. Bagaimana rule of law para pionir itu?

Mereka malah ada yang menghukum hakim-hakim ICJ karena memvonis bersalah pemimpin Israel yang melakukan kejahatan perang.

Rumah-rumah sakit dijadikan target. Demikian juga dengan warga sipil, wanita dan anak-anak yang merupakan non combatans. Ini nyata-nyata pelanggaran Konvensi Jenewa tentang Hukum Humaniter. Dimanakah para pionir itu?

Pertanyaan-pertanyataan di atas menjadi catatan bagi diplomat yang harus menjadi benteng  dan terus menyuarakan keadilan, etis dan moralitas dalam tatanan dunia.

Setelah tugas di Wina, Tudi selanjutnya ditempatkan di KBRI Den Haag, KBRI Seoul dan saat ini sebagai Konjen RI Cape Town.

Sementara itu, Mas Geng, setelah tugas singkat dalam misi perdamaian PBB di Afsel tahun 1993, dia meneruskan sekolahnya S2 di American University World Bank.

Selanjutnya, tahun 2000-an tugas penempatan di KBRI Bratislava, kemudian ke Teheran, Beijing dan terakhir di KJRI Darwin sebagai Minister Counsellor.

Kedua anak penjual kacang di Kelud Malang yang suka main layang layang semasa kecilnya itu alhamdulillah akhirnya bisa ‘terbang’. (habis)

No More Posts Available.

No more pages to load.