Kurir Sabu 23 Kg Dituntut Hukuman Mati

oleh -86 Dilihat
oleh
Rony Bahmari, penasihat hukum Terdakwa Budianto.

SURABAYA, PETISI.COTerlibat jaringan peredaran narkoba, Budianto dituntut hukuman mati. Dia ditangkap di apartemen Gunawangsa Manyar, Jalan Menur Pumpungan. Dengan barang bukti sabu-sabu 23 kg dan ekstasi 15 ribu butir.

Tuntutan mati itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ahmad Muzakki, pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (1/4/2021).

JPU Ahmad Muzakki menyatakan terdakwa Budianto terbukti bersalah melakukan tindak pidana pengedaran narkotika golongan I.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana mati dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” kata Ahmad Muzakki, dalam persidangan.

Sebelum menyampaikan tuntutan, jaksa membacakan kesalahan yang diperbuat terdakwa dalam jaringannya.

Terdakwa ditangkap di Apartemen Gunawangsa Manyar, pada 10 September 2020. Saat digerebek petugas, terdakwa bersama M Fajar Rizky Lillah. Namun Fajar berusaha melarikan diri. Kemudian petugas pun menembak Fajar dan tewas.

“Penangkapan itu berawal dari informasi dari masyarakat. Serta transaksi yang terjadi di hotel Tunjungan. Saat di hotel, mereka cuma mengambil barang. Dari situ terdakwa mulai diikuti oleh tim kepolisian,” kata Ahmad Muzakki.

Saat melakukan transaksi di hotel Tunjungan, terdakwa mengambil sabu seberat 23 kilogram, dan ekstasi sebanyak 2.945 butir. Barang tersebut diambil atas perintah M Fajar Rizky Lillah.

Bahkan, Fajar juga yang mencarikan hotel untuk menjadi tempat transaksi. Setelah mendapatkan kamar hotel, Fajar lalu menghubungi terdakwa melalui aplikasi Blackbarry Massager (BBM).

Lalu, terdakwa datang ke hotel tersebut dengan membawa ransel. Lalu masuk ke kamar yang telah dipesan. Setelah itu, terdakwa keluar dari kamar. Tapi pintunya cuma diganjal kertas.

Beberapa saat setelah terdakwa keluar, Fajar kembali menghubungi terdakwa. Memberitahu kalau ada orang yang masuk ke dalam kamar. Terdakwa pun kembali ke kamar untuk melakukan transaksi.

Tidak butuh waktu lama, orang tersebut meninggalkan kamar tadi. Terdakwa lalu memfoto sabu dan ekstasi yang telah diperoleh, kemudian melaporkan kepada Fajar.

“Dalam hal ini, peran terdakwa adalah hanya sebagai pengirim barang dengan cara membagi-bagi. Dan menyiapkan sabu dan ekstasi yang sudah siap untuk dikirim. Selanjutnya menunggu perintah dari Fajar,” terang jaksa.

Dari pekerjaan itu terdakwa mendapatkan upah dari Fajar sebesar Rp 25 juta. Paling banyak Rp 50 juta. Barang tadi sudah ada yang sempat diantar atau dijual dengan cara meranjau. Baru selanjutnya tersangka ke Apartemen Gunawangsa Manyar.

Saat itulah, tim dari Polrestabes Surabaya melakukan penggrebekan. Dari penggeledahan tersebut, didapat dua koper berbeda warna. Satu koper berwarna hitam berisikan 32 bungkus plastik berisikan sabu. Setiap bungkus beratnya 522 gram, berat totalnya 16,700 kilogram.

Selain itu ada juga tujuh bungkus teh hijau yang juga isinya sabu. Setiap tempat memiliki berat satu kilogram. Juga ditemukan tiga plastik berisikan pil merah yang diduga ekstasi. Dua plastik berisikan 5 ribu butir. Satu lagi terdapat 4.700 butir.

Tidak hanya itu ada lagi lima plastik. Masing-masing berisikan serbuk warna hijau dengan berat 82,64 gram. Serbuk warna coklat dengan berat 91,64 gram. Serbuk orange dengan berat 53,40 gram. Serbuk warna biru dengan berat 21,52 gram.

Dan serbuk warnah merah maron seberat 11,56 gram. Semua serbuk itu diduga narkotika jenis ekstasi. “Semua barang bukti itu sudah disita. Selanjutnya akan dimusnahkan,” ungkapnya.

Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Rony Bahmari tidak terima dengan tuntutan tersebut. Persidangan selanjutnya, dia akan melakukan pembelaan.

“Terlalu berat tuntutan yang diberikan,” kata Rony Bahmari menanggapi tuntutan jaksa. (pri)

No More Posts Available.

No more pages to load.