Pasca 20 tahun Berlalu, Mantan Humas BPLS Undang Jurnalis Ex Liputan Lumpur Sidoarjo Bersilaturahmi

oleh
oleh
Mantan Humas BPLS, Achmad Zulkarnain (tengah baju motif merah kuning) foto bersama jurnalis ex liputan lumpur Sidoarjo

Sidoarjo, petisi.co – Lumpur panas Lapindo terjadi pada 29 Mei 2006. Kala itu, semburan gas disertai lumpur muncul dari sumur pengeboran banjar panji-1 Kecamatan Porong begitu gemuruh. Kemudian dari tahun ke tahun, suara letupan tersebut makin lirih dan nyaris tak terdengar lagi.

Sejalan pula dengan hilangnya, jejak aktivitas petugas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang tersapu angin. Lembaga bentukan pemerintah BPLS, akhirnya resmi dibubarkan sekitar tahun 2017. Sejak itu, seluruh cerita peristiwa menegangkan yang terjadi di lumpur lapindo, seakan lenyap ditelan bumi dan menjadi kenangan sejarah.

Bang Izul berdiri paling kiri (hem putih) mendampingi jurnalis liputan lumpur Sidoarjo

Namun setelah 20 tahun berlalu, memori itu tiba-tiba dibangkitkan kembali dalam sebuah acara silaturahmi sekaligus Halalbihalal diprakarsai oleh Achmad Zulkarnain, mantan Humas BPLS. Sedikitnya ada 23 wartawan ex liputan lumpur sidoarjo yang hadir dalam acara yang digelar di sebuah Resto di kawasan Taman Pinang, Sidoarjo.

“Sebetulnya jumlah wartawan ex liputan lumpur sidoarjo, ada ratusan. Mereka sekarang sudah berpencar kemana-mana. Ada yang stay di Jakarta, Jogyakarta, hingga Surabaya dan masih ada yang bertahan di Sidoarjo. Diantara teman-teman itu, banyak juga yang telah pindah media atau beralih profesi, ” terang Bang Izul, disela-sela acara pertemuan, Minggu (19/4/2026).

Menurut Bang Izul, panggilan akrab Achmad Zulkarnain, acara ini sengaja digelar sebagai obat rindu sekaligus menjalin silaturahmi setelah sekian puluh tahun tidak berjumpa. Canda tawa dan celoteh jenaka mewarnai setiap topik pembicaraan antara Bang Izul dengan ex wartawan lumpur Sidoarjo.

“Pertemuan ini sekedar melepas kangen sekaligus ingin bernostalgia dg teman-teman ex wartawan lumpur Sidoarjo. Kita dulu pernah bersama-sama beraktivitas di lumpur porong. Banyak kenangan, ada ketegangan sampai pengalaman yang lucu dan berkesan. Kalau ditanya kenapa silaturahminya baru bisa digelar tahun ini. Jawabannya karena waktunya baru ada sekarang,” ujarnya dengan tertawa lepas.

Hampir seluruh wartawan baik dari media cetak, radio, televisi hingga online masih terekam jelas di ingatan Zulkarnain. Bahkan dalam kesempatan itu, dirinya menyempatkan Video Call dengan salah seorang jurnalis Kompas di Jakarta yang berhalangan hadir.

“Halo Mas Aris, apa kabarnya? Sibuk terus nih wartawan Kompas. Ini di depan meja saya, ada banyak wartawan yang dulu pernah sama-sama bertugas di Sidoarjo, khususnya lumpur lapindo. Sehat selalu ya,” ucap Bang Izul seraya menggerakan kamera ponselnya berkeliling.

Zulkarnain berharap pertemuan serupa bisa terus digelar kapanpun waktunya, sebagai penyambung tali silaturahmi. Menurutnya, semua wartawan yang pernah meliput lumpur lapindo bukan sekedar teman biasa. Namun sudah menjadi sahabat baik dan itu akan terus diingatnya.

“Insya Allah, jika saya ada agenda ke Sidoarjo lagi. Kita adakan pertemuan semacam ini. Berharap teman-teman yang hari ini belum bisa hadir, bisa kumpul di lain kesempatan. Saya tau, teman-teman sibuk. Bahkan ada yang sudah menjadi anggota DPR RI seperti Pak Charles Meykiansyah dulu Kabiro Metrotv Jatim. Ada Pula yang menjadi pebisnis seperti Mas Rully dulu reporter Suara Surabaya. Semuanya sahabat saya,” tegas pegawai Konsultan pertambangan di Jakarta ini.

Dalam kesempatan itu, Zulkarnain juga mengajak para wartawan ex lumpur Sidoarjo untuk mendoakan rekan seprofesi yang telah wafat. Kenangan bekerjasama dengan mereka yang telah mendahului memiliki kesan mendalam di hatinya.

“Waktu itu, pekerjaan yang kelihatannya berat menjadi ringan karena kita menikmati dan terkesan seperti sambil bermain-main. Jujur, ada banyak memori yang tidak bisa dilupakan saat kerja bareng dengan rekan-rekan yang sudah mendahului kita. Seperti Almarhum Brury (Trans), ⁠Eko Yudho (SCTV), Erick (Antara) dan Hadiyanto (Antara). Bagi saya mereka bukan hanya sekedar rekan kerja, tapi juga teman baik,” tuturnya.

Bagi para pewarta yang pernah berjibaku liputan lumpur lapindo, nama Bang Izul tentu sudah sangat tidak asing. Sebagai humas BPLS, ia menjadi garda terdepan dalam menyampaikan seluruh informasi dan data penting.

“Bang Izul adalah orang yang tangguh di lapangan sekaligus cerdas dalam interaksi sosial. Dia sangat menguasai medan. Hampir tidak ada satu titik pun di hamparan luas lumpur Porong yang tidak pernah dijangkaunya. Termasuk, kawasan pusat semburan lumpur yang tergolong berbahaya,” tutur salah seorang jurnalis senior, Fathur Roziq.

Mantan wartawan Jawa Pos ini mengakui ketangguhan Zulkarnain saat turun lapangan. Tak sekedar melayani wawancara media, namun Humas BPLS tahun 2007-2009 ini juga terjun mendampingi para fotografer cetak hingga videografer televisi ke lokasi yang cukup rawan.

“Salut untuk Bang Izul, totalitas pokoknya saat dia bertugas sebagai humas BPLS,” ucap jurnalis yang baru saja meluncurkan karya buku berjudul Sidoarjo Bumi Aulia.

Rosi panggilan akrabnya menyebut Zulkarnain juga menguasai titik-titik terluar di tiga kecamatan yang terdampak lumpur Sidoarjo. Selain juga jago berkomunikasi, Zulkarnain juga dinilai pandai berinteraksi dengan masyarakat korban lumpur lapindo.

“Tiga kawasan terdampak yakni Kecamatan Tanggulangin, Porong, maupun Jabon seluk beluknya sudah sangai dikuasai bang Izul. Selain itu, Zulkarnain juga mampu berinteraksi dengan masyarakat sekitar kawasan semburan. Di saat kondusif dia menyambangi warga di desa dan lokasi pengungsian. Saat terjadi unjuk rasa pun dia berada di tengah-tengah massa. Berdialog dan memahami aspirasi mereka sambil menyampaikan pencerahan. Bang Izul bisa berperan menjalankan tugasnya dengan baik,” pungkasnya. (luk)