Makam Diyakini Waliyullah di Sidoarjo Dirobohkan, Motif Pelaku Didalami

oleh
oleh
Samsul Arifin, penjaga Pasar Taman Sepanjang menunjukkan puing makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo yang dirobohkan

Sidoarjo, petisi.co – Makam Dirjo Joyo Ulomo di Kelurahan Wonocolo, Kecamatan Taman, dirobohkan paksa oleh seseorang. Peristiwa mengejutkan itu, spontan memicu polemik, karena makam itu diyakini sebagian warga sebagai pesarean waliyullah.

Hingga kini, status makam dan motif pelaku masih dalam penelusuran pihak terkait. Makam tersebut, sampai kini masih diyakini oleh Warga kampung sebelah, kelurahan Ngelom memiliki kaitan dengan keturunan ulama sepuh setempat yakni Mbah Ali.

Hal tersebut membuat makam dirawat secara turun-temurun oleh warga. Bahkan makam tersebut juga sering dikunjungi oleh warga untuk berziarah.

Menurut saksi penjaga pasar Taman Sepanjang, Samsul Arifin perobohan makam diduga dilakukan orang bernama Samuel Boros. Ia menirukan ucapan terduga pelaku bahwa makam tersebut tidak berisi jenazah, melainkan benda lain. Karena itu, diputuskan untuk dirobohkan paksa.

“Pelaku mengaku bernama Samuel boros bilang yang dimakamkan itu bukan jenazah tetapi Al-Qur’an tidak terbaca dan boneka lempung (tanah liat),” ujar Samsul menirukan ucapan terduga pelaku, Senin (20/4/2026).

Samsul menyebut perobohan dilakukan terduga pelaku sendirian tanpa bantuan orang lain. Mulai papan nama, dinding makam hingga batu nisan dirobohkan. Aksi itu, dilakukan terduga, pada Jumat 16 April 2026, sekitar pukul 09.00 WIB.

“Pelaku bilang biar tidak menjadi syirik, makanya dirobohkan, tapi gak ada penggalian,” tandasnya sambil menunjukan bongkahan puing makam di lokasi.

Lebih jauh Samsul menyebut keberadaan makam awalnya kata pelaku hanya digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil pada waktu itu. Karena itu, pelaku tidak menginginkan praktik ziarah di makam tersebut, karena dinilai tidak tepat dan harus diberhentikan.

“Setelah dirobohkan, sisa pembongkaran seperti papan nama makam diamankan pelaku di belakang sana,” kata dia sambil menunjuk lokasi belakang pasar.

Sementara itu, Lurah Wonocolo, Muftichatul Jannah mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan Kecamatan Taman dan Kelurahan Ngelom.

“Belum ada catatan administratif terkait asal-usul makam tersebut. Kalau kata warga sini itu memang sudah ada sejak lama, yang merawat warga Kelurahan Ngelom, karena sebagian dari warga mereka percaya kalau makam itu adalah keturunan Mbah Ali,” ungkap Muftichatul.

Dia menambahkan, pihaknya akan menelusuri kebenaran dengan melibatkan dzuriyah yang masih hidup. Proses itu dilakukan untuk memastikan keterkaitan silsilah keturunan dengan tokoh agama yang dimakamkan itu.

“Sedang dilakukan penelusuran dengan melibatkan dzuriyah-dzuriyah yang ada di kelurahan Ngelom. Terkait Keputusan pembangunan kembali makam juga masih menunggu hasil rapat bersama,” tegasnya.

Anggota Komisi C DPRD Sidoarjo, Zakaria Dimas Pratama menilai jika makam yang ada perlu diinvestigasi historisnya secara menyeluruh.

“Perlu investigasi lebih dalam historisnya, perlu menghadirkan ulama, tokoh agama, dan sesepuh wilayah Wonocolo dan Ngelom,” kata Dimas.

Dia menyebut terdapat perbedaan informasi terkait status makam sebagai tokoh agama atau bukan. Apalagi kawasan tersebut pernah menjadi area pemakaman Tionghoa.

“Kalau ditarik sejarahnya perlu didalami lagi,” pungkasnya. (luk)

No More Posts Available.

No more pages to load.