PETISI.CO
Bupati Jember H Hendy Siswanto, saat penandatanganan nota kesepahaman antara Pemkab Jember dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka)
EKONOMI

Potensi Produksi Kopi Robusta Jember Perlu Pendataan

JEMBER, PETISI.CO –  Wilayah Jember  saat ini menghasilkan kopi 12 ribu ton pertahun. Sayangnya, tempatnya dimana, tidak diketahui dengan pasti, karena kebunnya memang tersebar di banyak wilayah di Kabupaten Jember.

Hal itu dikatakan  Bupati Jember H Hendy Siswanto, saat penandatanganan nota kesepahaman antara Pemkab Jember dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia Tentang Cluster Agribisnis Kopi dan Kakao, di Aula Pendopo Wahya Wibawagraha, Sabtu (24/04/2021).

Saat penandatangan nota kesepahaman, yang dihadiri langsung Kepala Puslitkoka  Dr Agung Wahyu Susilo, Bupati Jember Hendy menegaskan, potensi besar berupa produksi kopi Robusta yang dihasilkan Jember, tidak bisa hanya dibiarkan berjalan apa adanya. Perlu ada pendataan dan pemetaan yang jelas, sehingga bisa termanfaatkan dengan baik.

Baca Juga :  Wabup Berharap Event di Jember dapat Berikan Perhatian Investor

“Kami melihat kopi ini mau diapakan, termasuk kakao dan komoditas lain. Tentunya kami sekarang mulai menata kembali, kekuatan Jember ini bagaimana,” ucap Bupati Hendy Siswanto.

Bupati berkeinginan, potret dan dokumentasi dari seluruh potensi yang dimiliki Jember harus jelas. Artinya, segala yang terkait dengan kopi, mulai dari pembibitan, hamparan lahanynya, tehanik budidaya, penanganan pasca panen, hingga pemarasannya, harus terdata dan tertangani dengan baik.

“Kalau teritorialnya kopi tidak kita kuasai, keberadaannya dimana, kalau menghasilkan gimana, dimana letaknya, dijual kepada siapa itu tidak didokumentasi dengan baik, mustahil kita akan bisa melakukan sesuatu ke depan,” tegasnya.

Baca Juga :  Diktukba TNI-AD 2018 di Jember Mulai Berjalan

Bupati berharap, pemerintah bisa menguasai seluruh kegiatan bidang pertanian mulai dari hulu sampai hilir. Karena jika tidak, maka pemerintah hanya akan menjadi bagian dari komunitas kebanyakan.

“Pemkab Jember ini hanya menjadi komunitas yang lain, komunitas kopi namanya pemkab, asosiasi kopi namanya pemkab. Padahal pemkab ini mempunyai kewajiban yang sangat strategis sebagai penguasa di daerah yang harus mengayomi seluruh stakeholder yang ada, seluruh petani kopi yang ada,” imbuhnya.

Jika  dilihat dari sisi historis dan keberadaannya, kata Bupati Hendy, budidaya tanaman perkebunan, utamanya kopi dan kakao sudah ada sejak jaman Belanda, namun sektor perkebunan  itu belum mampu memberikan sumbangsih signifikan bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Bupati Faida Serahkan 47 SK kepada ASN  

Sementara, Bupati Hendy menyindir keberadaan lembaga Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka), yang didirikan pemerintahan kolonial pada tahun 1911 di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, juga  belum mampu memberikan dampak berarti bagi kepentingan masyarakat dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Jember.

Masih belum optimalnya pemanfaatan potensi daerah ini, menurut Bupati Jember Hendy Siswanto, tidak bisa dibiarkan,  Pemerintah harus berani mengambil inisiasi untuk hadir dalam kegiatan perkebunan.

“Agar budidaya tanaman perkebunan, bisa lebih memberikan dampak positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, utamanya kepada petaninya dan anggota masyarakat  lainnya,” harapnya.(mmt)

terkait

Dinas ESDM Jatim Awali Pengelolaan Tata Niaga Pertambangan Pasir Semeru di Lumajang

redaksi

Libur Natal dan Tahun Baru 2020, Pertamina Optimalkan Distribusi Energi

redaksi

UMKM Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Jatim

redaksi