Tahun 1989, Tudi berangkat merantau sekaligus mengikuti UMPTN ke Jakarta menyusul Mas-nya Mulyono yang sudah lebih dari 2 tahun merantau. Tudi diantar oleh Mas Geng di stasiun kereta api Kota Baru.
Kesedihan nampak di wajah mereka yang harus berpisah. Mas Geng nampak meneteskan air mata.
Tiba di Stasiun Gambir, Tudi yang belum pernah ke Jakarta mencari-cari Mas-nya Mulyono. Setelah beberapa saat tidak melihat Mas Yon, dia pun menimbang-nimbang apakah akan mengarah ke jalan Kemuning Pasar Minggu alamat Mas Yon atau ke alamat di Serang.
Dia memutuskan ke Serang. Dari Gambir dia naik kendaraan umum ke Kalideres. Selanjutnya dia naik bus jurusan Serang.
Setiba di Serang, dia menanyakan alamat Mas Yon ke polisi yang dengan sukarela mengantarnya dengan menaiki sepeda motor.
Dan benar, Tudi ketemu Mas Yon. Tak lama, Mas Yon mengajaknya ke Pasar Minggu. Dia tinggal di rumah kontrakan di pinggir kali Ciliwung.
Rumah itu terbuat dari anyaman bambu agak tua dan ringsek. Rumah gedek ini bocor saat hujan. Suasana sekitar agak jorok, banyak orang buang air besar di kali Ciliwung dan kurang asemnya sebagian membuang kotoran di rimbunan pohon bambu di sekitar kali Ciliwung.
Mas Yon pekerjaannya masih labil dan penghasilan tidak menentu. Terkadang terjadi selisih pendapat.
Tudi akhirnya memutuskan merantau ke Bogor. Uang yang tersisa Rp 1000, dibelikan tiket kereta Rp 800 dan sisanya Rp 200 dibelikan kue setibanya di stasiun kereta api Bogor.
Tudi tiba jam 09.30.
“Semut aja bisa hidup, mengapa saya tidak?” dicobanya menguatkan tekad dan hatinya dan mulailah dia berjalan dari satu kantor ke kantor lainnya untuk melamar pekerjaan.
“Baik dik, saya terima surat lamarannya, tunggu sebulan lagi ya,” kata pegawai salah satu kantor saat Tudi menyampaikan lamaran.
“Saya sangat perlu, untuk hidup.” “Tapi ini kantor dik,” kilah pegawai kantor itu.
Penolakan demi penolakan dari satu kantor ke kantor yang lain. Matahari yang memancarkan sinarnya pun mulai surut. Senja mulai tiba. Maghrib datang. Tudi mulai was-was. Ada terbesit rasa kekhawatiran.”Tidur dimana saya?” pikir dia.
Di kota itu dia tidak punya siapa-siapa dan tempat yang dituju. Dia harus hilang dari radar teman-temannya. Jangan sampai mereka tahu Tudi yang dulu juara 2 atau 1 jurusan Sosial SMAN 3 gagal dan terlunta-lunta.
Dia pun mengarah menuju masjid di pinggir jalan, yaitu masjid di Balai Kota Bogor, dekat Hotel Salak. Dia sholat dan berdoa.
Di situ dia merasa aman untuk sekedar menginap dan sedikit beristirahat.
“Ya Allah, saya yakin seyakin-yakinnya atas pertolongan-Mu. Engkau pasti mengabulkan doa hamba-Mu yang memohon kepada Mu Ya Allah.”
Tudi yang sedang khusyuk berdoa didatangi oleh seorang Polisi Balai Kota. Melihat ada polisi yang agak penasaran, Tudi menyampaikan copy ijasah dan maksud tujuannya yang sedang merantau. Ijasahnya nilainya banyak angka 9 dan 8. Polisi itu pun percaya Tudi anak baik.
“Saya tidak bisa membayangkan jika anak saya yang seumuran Dik Tudi mengalami seperti yang Adik alami,” kata polisi itu ke Tudi.
Polisi yang ramah dan baik hati itu mengajak Tudi ronda keliling dan makan mie goreng di warung sekitar Balai Kota. Semoga Allah membalas budi baik Pak Polisi itu yang saat ini entah dimana.
Pagi, sebelum matahari memancarkan sinarnya yang menyilaukan Tudi bersiap hendak pamit meneruskan perjalanannya.
“Gimana Dik, rencananya hari ini?” tanya polisi itu. “Saya akan meneruskan perjalanan dan melamar ke kantor-kantor Pak,” jawab Tudi.
Polisi itu sejenak berpikir, selanjutnya mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di atas kertas itu.
“Coba hubungi pemilik hotel ini Dik,” kata polisi itu.
Di kertas itu ditulis Yth. Bapak dan Ibu Sofyan, Hotel Wisma Mirah beserta alamatnya.
Tudi bertemu langsung dengan pemilik Hotel Wisma Mirah. Dia diterima dan bisa langsung bekerja di hotel itu. Dia tinggal di salah satu kamar karyawan hotel itu.
Tudi bekerja serabutan sebagai room boy, membersihkan lantai dan kamar-kamar dan melayani tamu. Saat tamu asing datang, Tudi manfaatkan kesempatan itu untuk berlatih dan aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Sekitar 2,5 bulan kerja di Wisma Mirah, Tudi pamit ke pemilik hotel dan teman-teman kerja, karena harus kembali ke Malang. Dia lulus UMPTN dan diterima di FH Unibraw.
Dari pengalaman singkat ini, Tudi berkata dalam hati: “Untuk menaklukkan Jakarta, tidak bisa langsung pergi begitu saja ke ibu kota yang cukup liar saat itu. Harus terencana, pengajuan lamaran dari Malang.”(bersambung)







