Rumah Terlepas, Tudi Gaptek

oleh -302 Dilihat
oleh
Pak Mulud Mulyadi, Suud, Tudi dan Huda di halaman rumah Tanjung Putra Yudha. Tanahnya hasil kiriman Mas Geng dari tugas di Afsel. Rumah dibangun bertahab.

BAGIAN VI

Usaha yang lesu dan situasi keuangan bapaknya yang terjerat hutang ke Pak Tukimin tetangga di Perkutut Utara, menyebabkan bapaknya Mas Geng  dan Tudi harus melepas rumahnya yang  juga menjadi alamat agen Susu SAE.

Mereka pindah dan menyewa di jalan Sikatan sekitar 500 meter sebelah barat Perkutut. Jalan Sikatan ini lokasinya agak “nylempit” dan tingkat kehidupan masyarakatnya jauh di bawah daerah lainnya di kawasan jalan burung-burungan itu.

Keluarga Mas Geng dan Tudi menyewa di situ karena biayanya lebih murah.

Setelah Mas Geng diterima di Kemlu, pada 1993 dia ikut tugas PBB dalam rangka misi perdamaian setelah berakhirnya pemerintahan apartheid di Afsel. Sebagian hasil tugas dinas dikirimkan ke orang tua di Malang untuk membeli tanah. Ini mengembalikan rasa percaya diri dan dignity keluarga di Malang.

Dengan uang kiriman Mas Geng, Pak Mulud membeli sebidang tanah seluas 10 x 14 meter di jalan Tanjung Putera Yudha lll. Pak Mulud, Emak, Tudi secara bertahap membangun sendiri rumah di atas tanah itu.

Mereka bersama-sama menumbuk batu bata yang rusak menjadi semen merah dan mengumpulkan pasir yang terbawa genangan air hujan di sepanjang jalan Raya Langsep dengan menggunakan becak.

Daerah Tanjung Putera Yudha  lll itu kebanyakan masih berupa sawah. Hampir tidak ada pepohanan atau tanaman untuk berteduh. Panas matahari yang menyengat di siang hari ditampisnya dengan menggunakan payung dari karung plastik.

Tahun itu,  handphone (HP) masih langka. Umumnya kantor dan orang yang terbilang kaya menggunakan telepon kabel. Masyarakat kebanyakan biasanya menggunakan telepon umum yang banyak dijumpai di sejumlah lokasi.

Tudi mencoba menghubungi Mas Geng dengan telepon umum. Dimasukkan koin uang pecahan logam dan kriiing, kriiiing.., nada bunyi nyambung terdengar.

“Halo!” Setelah beberapa saat nada sambung terdengar suara Mas Geng angkat telpon.

“Halo Mas Geng.”

“Hiyo Tud, kok suaramu ndredeg Tud?” Kata Mas Geng.

“Wah iso muni Mas Geng,” kata Tudi yang gemetar dan baru pertama kali ini dia menelpon.

”Ha ha ha…,” Mas Geng ketawa melihat adiknya gaptek.

Mas Geng, Yuono, Tudi di depan Rumah Yuono depan Rumah “Emak-Bapak” yang dibelikan tanahnya oleh Mas Geng.

Gangguan Pemuda Kampung

Tahun 1993, Agung adik Tudi memberi tahu bapaknya diganggu anak-anak kampung yang sudah seperti preman. Salah satunya bernama Nyoto, bertubuh besar, kuat persis seperti Mike Tyson yang sedang naik daun dalam kejuaraan tinju kelas berat dunia.

Konon, kalau dia memukul perut orang, dipastikan orang tersebut akan jatuh terduduk dan bisa collapse. Lebih-lebih kalau dia ngamuk membawa golok. Ngga akan ada yang berani.

Kelompok anak muda di situ berjumlah sekitar 5- 6 orang dan mereka minum-minuman keras.

Tudi, yang waktu itu sedang proses menunggu panggilan kerja, mendatangi anak-anak itu. Dia persuasif tapi firm.

“Tadi ada yang mengganggu bapak saya ya. Kalau kalian mengganggu saya, saya bisa memaklumi. Tapi kalau mengganggu bapak saya, hidup saya ini untuk orang tua saya,” gerak Tudi  hingga menyurutkan hati mereka dan tidak ada yang petentang petenteng.

Mereka menjelaskan tidak bermaksud mengganggu orang tua Tudi.

Menunggu proses lamaran kerja walaupun hanya sekitar 8 bulan sejak kelulusan terasa lama.

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya nganggur. Lihat Pak Lik mu Budi sudah kerja di Mitra Mall walaupun  hanya ijasah SMP.”

Budi umurnya jauh lebih muda namun dibahasakan Pak Lik terhadap Tudi karena anak adiknya Mbahnya Tudi.

Sindiran-sindiran orang-orang dekat yang sering diterima dan masih saudara itu membuat Tudi tertekan.  Dulu waktu tinggal di Perkutut Utara mereka baik, bahkan sangat baik. Namun saat pindah mendekat dan hanya terpisah dari 3 rumah, malah negatif.

Mungkin pepatah ungkapan yang mengatakan, “Jauh bau wangi dekat bau busuk” ada benarnya.

Yuono (ni 1 dari kanan), Tudi (no 2), Mas Geng (no 3)

Diterima Sebagai Diplomat

Wes ta Le, tenang aja (Sudahlah Nak tenang aja), Kamu Insya Allah akan diterima di Kemlu,” kata Emaknya berusaha menenangkan Tudi yang gundah dan tertekan oleh omongan orang-orang sekitarnya.

Di saat-saat yang penuh tekanan mental akibat omongan adik Mbahnya yang tidak mengerti pentingnya pendidikan, Tudi mendapat ilham dari mimpi. Dia melihat pohon turi tumbuh di tembok semen. Pohon itu berbunga dua.

“Sesuatu yang tidak mungkin, mungkin terjadi.  Dua  bunga itu adalah Mas Geng dan dirinya. Insya Allah dirinya akan diterima di Kemlu bersama Mas Geng,” kata dia dalam hati yang selanjutnya diutarakan kepada Emaknya.

Tak lama setelah itu, surat dari Kemlu datang. Dia dinyatakan lulus dan diminta segera ke Jakarta. Betapa senangnya hati Tudi dan Emaknya. Dia pun berangkat ke Jakarta menyambut jalan masa depan yang mulai terbentang.

Sebenarnya waktu itu banyak beredar  pandangan mengenai praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dalam rekrutmen pegawai dimana – mana, baik negeri maupun swasta. Namun Tudi yakin di tengah santernya berita KKN, ruang untuk persaingan yang obyektif berdasarkan meritokratik di Kemlu masih terbuka.

Hanya saja, dia harus ekstra hati-hati dalam tes wawancara. Jangan sampai kehidupan orang tua dan keluarga yang kurang mampu terekspos, lebih-lebih pekerjaan bapaknya sebagai tukang batu.

“Bapak kerja dimana?” tanya salah satu tim penguji.

“Itu Pak yang membuat bangunan,” jawab Tudi.

“Kontraktor,” kata penguji.

“Benar Pak …, kontraktor,” sembari dalam hati Tudi berkata, “maksudnya bapak saya dan kami sekeluarga masih mengontrak rumah.

He he he …, maaf bohong kecil tapi while lie. Mohon dimaklumi dan dimaafkan.

Tapi memang benar, di Kemlu ada ruang yang sangat lebar untuk persaingan yang obyektif dan berdasar sistem meritokratik. Lebih-lebih dengan sistem Computer-Assisted Test saat ini.

Sekjen atau Dirjen Kemlu aja tidak bisa mengetahui garapan anaknya yang ikut , karena tanpa nama. Bahkan konon ada Sekjen Kemlu yang sampai rusak persaudaraannya karena sikapnya yang tidak mau KKN untuk meluluskan anak saudara.

Bravo Kemlu, terima kasih telah menjadi “orang tua kami, rumah kami” yang sangat teduh.(bersambung)

No More Posts Available.

No more pages to load.