PETISI.CO
Persidangan kasus tanah Menanggal di Pengadilan Surabaya.
HUKUM

Sidang Kasus Tanah Menanggal, Pemilik Malah Dijadikan Terdakwa

SURABAYA, PETISI.CO Sidang perkara tanah Menanggal dengan terdakwa nenek Hj Siti Asiyah, digelar Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (6/8/2020).

Arifin, anak kandung terdakwa, dihadirkan penasihat hukum terdakwa Hj Siti Asiyah, advokad Zahlan Adwar sebagai saksi meringankan.

Kali pertama dipertemukan dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Surabaya Suwarti, dia tak bisa menutupi kegeramannya.

Arifin dalam kesaksiannya menjelaskan, dirinya bersama 12 ahli waris Umar pernah melayangkan gugatan atas obyek tanah 241 persil 13 di PN Surabaya.

Dia dan 12 ahli waris sebagai penggugat. Yang digugat salah satunya bernama Heri Wahono.

“Sekarang gugatan itu sudah sampai Pengadilan Tinggi (PT) dan belum diputus,” kata saksi Arifin pada majelis hakim di Ruang sidang Cakra, PN Surabaya, Kamis (6/8/2020).

Terkait obyek tanah 241 persil 113, Arifin menjelaskan, bahwa dirinya bersama seluruh ahli waris Umar, termasuk terdakwa Hj Siti Asiyah, pernah melakukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Namun sampai saat ini belum ada putusannya.

“Saat ini prosesnya sudah sampai kasasi dan belum keluar putusan kasasinya. Yang digugat ada 12 orang termasuk Pak Sumardji dan istrinya,” papar dia.

Saksi Arifin menjelaskan, bahwa Hj Siti Asiyah duduk menjadi terdakwa, akibat dilaporkan oleh Sumardji yang termasuk sebagai pihak tergugat di PTUN dan di PN Surabaya.

“Di PN Surabaya dia (Sumardji) sebagai tergugat, tapi sudah dicabut oleh pengacaranya, yaitu Napoleon Bonaparte,” jelas dia.

Kepada majelis hakim yang diketuai Yohanes Hehamoni, Arifin juga menuturkan, sengketa antara ibunya dengan Sumardji ada empat perkara perdata di PN Surabaya, yakni perkara No 797, 798, 799 dan 800.

“Kemarin yang perkara 798 rencananya akan dicabut, tapi tidak jadi. Dan perkara 798 itu terus berlanjut hingga ke Pengadilan Tinggi. Perkara 798 hingga saat ini belum diputus,” kata Arifin.

Jadi, kata Arifin, ada perkara keperdataan yang masih berjalan antara Hj Siti Asiyah dengan pihak pelapor yakni Sumardji.

Sedangkan terkait perkara No 798 yang sampai sekarang belum inchract, awalnya perkara tersebut diputus NO oleh PN Surabaya akibat kurang pihak. “Akhirnya diajukan banding di PT,” kata dia.

Perkara ini bermula pada 8 Mei 2017, terdakwa Hj Siti Asiyah ke Polda Jatim. Melaporkan tentang kehilangan 1 lembar petok D No 241 atas nama Umar.

Petok D itu bernomor persil 13 yang dikeluarkan oleh Kelurahan Menanggal tanggal 10 Mei 2016 dengan Register 593/ 28/ 436.10.124/ 20,  Kelurahan Menanggal Kecamatan Gayungan, Surabaya.

Setelah itu terdakwa Hj Siti Asiyah menerima Surat Tanda Laporan Kehilangan/Rusam Barang/Surat Berharga No : STPLK / 394 / V / 2017 / SPKT JATIM bertanggal 8 Mei 2017.

Celakanya, ternyata objek tanah yang dinyatakan oleh terdakwa Hj Siti Asiyah sebagai miliknya tersebut ternyata dimiliki Yuliani dan Sumardji dengan SHGB No 574 dan SHGB No 558. (pri)

terkait

Tunggu Salinan Putusan Dari MARI

redaksi

Tebang 4 Batang Pohon Sengon Laut, Tukang Kayu Terancam Di Bui  

redaksi

Preman Kedungjajang Dibekuk

redaksi
Open

Close