LAMONGAN, PETISI.CO – Pendirian Rumah Sakit darurat Covid-19 di jalan Kusuma Bangsa Lingkungan Kel. Tumenggungan, Lamongan ditolak warga. Karena hingga Selasa (28/4/20) belum ada sosialisasi pendirian RS darurat kepada warga, baik dari tingkat kelurahan kecamatan maupun kabupaten, sehingga masyarakat banyak yang bertanya tanya.
“Kami menolak pendirian RS tersebut,” ungkap Nur Salim yang juga Presiden JAMAL “Jaringan Masyarakat Lamongan”.
Menurut Nur Salim selain belum ada sosialisasi pendirian RS darurat kepada warga, juga menyesalkan pembangunannya berada di dalam kota. Padahal aset tanah kabupaten Lamongan atau pemda sendiri itu banyak dan ada dimana-mana.
“Kalau toh dibangun di luar kecamatan kota kan juga bisa pengembangan wilayah perkotaan agar tidak mulek (red,- berputar), di wilayah kota saja,” tambahnya.
Selain itu ketakutan warga terhadap virus itu sendiri, apalagi pembangunan RS darurat Covid-19 kan dekat dengan pemukiman warga. Karena di lahan tersebut ada satu RW dan tiga RT.
“Intinya belum ada sosialisasi dan pemerintah belum punya skema perencanaan yang jelas,” katanya.
Selain itu mayoritas warga menolak dengan pembangunan RS itu, walaupun ini keadaan yang emergency, tapi caranya tidak harus seperti ini Pemda itu.
Sementara itu Arif Bahtiar, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pemkab Lamongan mengatakan, proyek pembangunan RS covid-19 itu atas usulan pemkab Lamongan yang disetujui oleh kementrian PUPR dan proses pengerjaannya sampai selesai memakan waktu sekitar 1 bulan ke depan.
Untuk pengerjaannya dilakukan oleh PT WIKA Wijaya Karya dengan menggunakan sistem modular seperti RS Covid-19 di pulau Galang, yang memiliki kapasitas 75 bad.
Saat disinggung terkait letak RS yang ada di jalan Kusuma bangsa dan dekat dengan pemukiman warga serta IPAL karena wilayah tersebut sering tergenang banjir, Arif lebih jauh menuturkan, bahwa pertimbangannya adalah letaknya tidak jauh dari RSUD Soegiri Lamongan yang jadi RS rujukan pasien Covid-19. Dan untuk UKL, UPL, Amdal lalin juga sudah disiapkan.
“Terkait sisi keamanan seperti yang di Pulau Galang, RS tersebut ruangannya memiliki fasilitas bertekanan negatif dan ada hepa filter sehingga aman,” pungkas Arif. (ak)







